Sudah hampir satu tahun Hafido Hakim Arfiansyah mengabdi di Tanah Pasundan. Uniknya, pengabdian yang dilakukan oleh Alumni TMI 2021 itu berbeda dengan para santri mengabdi lainnya. Tidak ada Masjid, Asrama, apalagi santri. Itulah yang Hafido dapati ditempat pengabdiannya saat pertama kali datang.

Setelah melewati beberapa jam perjalanan, Hafido sampai di tempat pengabdian saat Adzan Shubuh  berkumandang dan terdengar di sekitar Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur’an, desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hafido bangun dari tidur setelah beberapa jam menikmati rasa lelah di perjalanan, lalu berangkat menuju masjid. Pikir Hafido setiap pesantren pasti memiliki mushola ataupun masjid, namun di pondok ini ia tidak menemukan masjid. Seraya heran Hafido bertanya kepada pimpinan pondok tersebut “Afwan kyai, masjid santrinya ada dimana ya?” Kyai menjawab, “Kita disini akan membangun pondok pesantren,” ucapnya dengan suara khasnya.

Hari pertama di tempat tersebut, perasaan Hafido kaget, awal pengabdian yang dialami Hafido bukanlah melakukan aktivitas pendidikan dan pengajaran seperti kawan-kawan lainnya. Selama di pondok tersebut Hafido beserta salah seorang teman pengabdiannya dari TMI, yang bernama Yusri Qomarullah melakukan awal perintisan pondok pesantren tersebut.

Baca Juga: Mengabdi dan Berprestasi

Selama tiga bulan, Hafido melakukan segala upaya dan kemampuan yang mereka bisa untuk memulai melakukan optimasi dan membangun pondok pesantren tersebut, ia membantu menyusun kurikulum, membangun kantor, membuat jadwal dan peraturan. Bahkan Hafido memesan beberapa buku dari PP. Al-Amien Prenduan sebagai pedoman untuk dijadikan bahan pembelajaran.

Pada awalnya, pondok ini tidak merisaukan masalah santri karena di sekitar daerah tersebut terdapat tiga pondok sekaligus. Pernah suatu ketika sahabat pimpinan pondok ini berjanji akan mengirimkan santri-santrinya. Setelah tiga bulan optimasi selesai, di bukalah pendaftaran di pondok tersebut pada awal idhul adha, namun ketika pendaftaran dibuka, ketiga pondok tersebut tidak jadi mengirimkan santri karena kesusahan mengirimkan santrinya sendiri. Hal itu sempat membuat bingung pimpinan pondok ini.

KH. Aminullah Tsamud, selaku Pimpinan Pondok ini menasihati Hafido, beserta kawan-kawan pengabdian lainnya untuk tidak pesimis, dan tetap mencurahkan segala kemampuan yang mereka miliki. “Kita nggak bisa berharap sekarang dengan orang lain, kita sekarang harus bergerak mulai dari diri kita sendiri,” kata Beliau. Dari nasihat itu Hafido bersama asatidz lainnya berinisiatif untuk bergerak sendiri dimulai dari membuat media sosial sebagai wadah promosi dan informasi tentang lembaga tersebut, hingga melakukan langkah untuk mendatangi pesantren-pesantren, seluruh Sekolah Dasar (SD), dan  mendatangkan tamu-tamu penting untuk berdiskusi mengenai pengembangan lembaga tersebut.

Berkat keyakinan dan perjuangannya maka akhirnya mulai dikenal pondok ini dari YouTube, titik Google Maps dengan nama Tadabbur Al-Qur’an dan Instagram. Ya, mulai dikenal. Jadi, untuk tahun depan InsyaAllah kita didatangkan santri sendiri bukan dikasih. Pokoknya kata Kyai yang saya paling saya ingat kita nggak bisa berharap sama orang lain yang ada malah kecewa, udah nangis aja sama Allah, ujar Hafido melalui via WhatsApp.

Dari hasil keyakinan dan perjuangan itulah, kemudian datanglah dua orang pertama yang mendaftar sebagai santri perdana di Pondok Pesantren tersebut. Meski hanya dua orang santri, KH. Aminullah Tsamud memberikan pengarahan kepada Hafido agar memperlakukan santri tersebut selayaknya seribu santri. Pendidikan dan pengajaran harus benar-benar diberikan kepada mereka dengan sebaik mungkin.

Satu bulan berlalu, datanglah satu orang santri mendaftar. Kemudian datang lagi satu santri mendaftar. Sesampainya lima bulan setelah optimasi pesantren, jumlah santri keseluruhan menjadi lima orang hingga saat ini. Mulailah dari sini Hafido memaksimalkan proses pendidikannya dengan membuka program ekstrakurikuler seperti Muhadharah, Pentas Seni, Pramuka dan Persilatan.

Selain program ekstrakurikuler, kurikulum yang diterapkan dipondok itu, mengacu pada kurikulum Pondok Gontor Darussalam, akan tetapi dalam sistem pembelajarannya berbeda. Perbedaan disini nampak pada pembelajarannya. Setiap santri disini wajib menuntaskan dalam mempelajari serta memahami satu buku tanpa mempelajari buku lain. Ketika satu pembelajaran telah selesai, maka akan berpindah ke pembelajaran lainnya.

Pada akhir pembelajaran, pondok mengadakan sistem project. Jadi, setiap santri diwajibkan membuat project untuk menunjukkan sejauh mana mereka berhasil menyerap pembelajaran selama ini. Project itu bisa berbentuk video, makalah, desain canva, dan lain sebagainya. “Kalau yang sudah didapat, Alhamdulillah kita sudah dapat banyak project. Jadi, sudah kelihatan hasil-hasilnya,” ujar Hafido. Daripada itu, Hafido menjelaskan juga makna dari nama Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur’an itu. Nama itu bukan bermakna setiap santri harus fokus menghafal Al-Qur’an seperti Pondok Tahfidz Al-Qur’an, melainkan memahami makna ayat-ayat surah dari Al-Qur’an. “Misalkan sekarang membahas Surah at-Takatsur. Nah, santri tersebut harus tahu apa maknanya ayat-ayat Surah at-Takatsur, apa aplikasinya dalam kehidupan. Pokoknya, dalam satu minggu setiap santri itu harus hafal dan memahami makna Surah tersebut dan itu pasti ada dalam program kita,” Jelas Hafido. (Sy/Oz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.