Orang hebat biasanya lebih cepat mengenali orang hebat lainnya, atau memprediksi kehebatan seseorang sebelum ia terlihat hebat. Mungkin karena cara berpikir orang-orang hebat cenderung sama. Mereka ada di satu frekuensi. Atau karena ruh-ruh manusia, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “junūd mujannadah”—berkelompok-kelompok sesuai kecenderungan dan sifat masing-masing. Ruh-ruh yang bertolak belakang karakternya cenderung akan terpisah dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Tidak ketemu. Tidak saling punya chemistry. Sedangkan ruh-ruh yang identik atau mirip akan terdorong untuk bersepakat, untuk berkumpul bersama, seakan-akan ada jalur komunikasi tak kasat mata yang menghubungkan mereka.

Barangkali itu yang dirasakan oleh Mālik bin Anas, Imām Dār al-Hijrah, saat bertemu dengan al-Syāfiʿī kecil. Kisah pertemuan itu sendiri sudah sering dituturkan, meski versinya tidak tunggal. Al-Syāfiʿī saat itu masih berusia sekitar 13 tahun. Ia datang ke Madinah untuk berguru kepada Imam Mālik. Dalam salah satu versi yang populer, saat bertemu pertama kali dengan al-Syāfiʿī, Mālik berkata, “Bertakwalah kepada Allah. Jauhi maksiat. Innahū sayakūnu laka syaʾn min al-syaʾn—Ada perkara agung yang menunggumu di masa depan.”

Kalimat terakhir di atas dipahami oleh banyak orang sebagai ramalan. Agak samar memang. Tapi diceritakan dalam banyak literatur bahwa Imam Mālik kemudian memberikan perhatian khusus kepada al-Syāfiʿī, menjadikannya murid istimewa, dan memberikan porsi pelajaran yang lebih besar kepadanya. Barangkali sejak awal, Imam Mālik memiliki firasat di dalam hati tentang masa depan al-Syāfiʿī. Firasat itu terlontar dalam bentuk ramalan. Lalu ramalan tersebut menemukan jalan untuk mewujud dalam tindakan dan perhatian. Sisanya adalah sejarah. Al-Syāfiʿī, sang murid yang mengaku sempat gentar berhadapan dengan reputasi keilmuan Imam Mālik, kemudian menjadi ulama besar yang tidak kalah tersohornya dibanding sang guru.

Kalau ramalan Imam Mālik tadi terasa kurang tegas, ada kisah lain tentang al-Nawawī, seorang ulama prolifik yang reputasinya tidak perlu lagi ditanyakan. Ia lahir di Nawā, sebuah kota kecil di Syiria yang kemudian kepadanya nama al-Nawawī dinisbatkan. Sebagai anak kecil, al-Nawawī sudah terlihat berbeda dari kawan-kawan sebayanya. Ia cenderung lebih serius, terlihat lebih tua, dan tidak suka bermain-main. Suatu hari, di usia yang masih sekitar 10 tahun, al-Nawawī dipaksa kawan-kawannya untuk ikut bermain bersama mereka. Al-Nawawī enggan. Ketika kawan-kawannya bersikeras memaksanya, al-Nawawī pun melarikan diri dari mereka sambil menangis. Saat itulah ia bertemu dengan Syaikh Yāsīn b. Yūsuf al-Marākisyī. Dalam keadaan menangis, al-Nawawī kecil masih sempat mengambil Al-Qur’an dan membacanya. Melihat itu, Syaikh Yāsīn sontak jatuh cinta. Didatanginya guru ngaji al-Nawawī, lalu dikatakannya begini. “Anak ini akan menjadi orang paling alim dan paling zuhud di masanya. Orang-orang akan mengambil manfaat darinya.”

Ramalan Syaikh Yāsīn ini terdengar lebih terang-terangan daripada ramalan Imam Mālik. Apalagi, dalam lanjutan kisah di atas, guru ngaji al-Nawawī sempat bingung. Ia mengira Syaikh Yāsīn adalah seorang munajjim, tukang ramal. Dalam pikirannya, seorang munajjim tentu tidak perlu terlalu dihiraukan omongannya.  Sama seperti kita, para santri, mengenal ungkapan: “kadzaba al-munajjimūn wa law shadaqū”—para munajjim pasti berdusta sekalipun mereka berniat jujur. Tapi Syaikh Yāsīn sendiri yang kemudian meyakinkan sang guru bahwa ramalan tersebut bukanlah tanjīm, melainkan ilham dari Allah kepadanya. Entah benar-benar ilham atau bukan, ramalan itu terjadi. Al-Nawawī menjadi seorang alim yang zāhid, dan karya-karyanya terus menjadi mata air tempat para pelajar menimba ilmu selama bergenerasi-generasi.

Ada sebuah disiplin ilmu yang disebut grafologi. Ilmu ini adalah tentang bagaimana menganalisis tulisan tangan untuk mengidentifikasi kondisi kejiwaan atau karakter seseorang. Tingkat akurasinya diklaim cukup tinggi. Hanya dengan menganalisis pola tulisan, para ahli konon bisa mengungkap ribuan jenis kepribadian. Tetapi para grafolog tidak mau disebut peramal. Bagi mereka, grafologi sepenuhnya adalah sains. Seorang grafolog adalah ilmuwan, bukan peramal. Namun bisakah tulisan digunakan untuk meramal masa depan? Mungkin ya, seperti kisah al-Dzahabī dan gurunya berikut ini.

Syams al-Dīn al-Dzahabī (w. 748 H.) adalah salah satu tokoh paling penting di bidang sejarah dan biografi periwayat hadits. Pada bidangnya itu, boleh dibilang bahwa semua karyanya adalah masterpiece. Para penggiat disiplin keilmuan tersebut pasti mengenal Tadzhīb al-Tahdzīb, al-Mughnī fī al-Dhuʿafāʾ, Mīzān al-Iʿtidāl, Siyar Aʿlām al-Nubalāʾ, dan beberapa karya lain yang lahir dari tangannya. Tetapi siapa sangka bahwa keputusan al-Dzahabī untuk menekuni ilmu Hadits didorong oleh komentar singkat gurunya terhadap tulisan tangannya. Guru itu bernama al-Qāsim al-Birzālī, seorang ulama hadits kenamaan juga. Suatu hari, ia membaca naskah yang ditulis tangan oleh al-Dzahabī. Saat itu, al-Dzahabī masihlah seorang pelajar yang belum memutuskan bidang keilmuan apa yang akan secara khusus ditekuninya. Ia belajar ilmu bahasa, sastra, qirāʾāt, dan beberapa ilmu lain selain hadits sendiri. Al-Birzālī berkomentar singkat saja untuk tulisan tangan al-Dzahabī. Ia bilang, “Tulisan tanganmu ini mirip sekali dengan tulisan tangan para ulama hadits”. Sangat singkat. Namun dalam pengakuan al-Dzahabī, pernyataan itulah yang menumbuhkan di dalam hatinya rasa cinta yang besar kepada ilmu hadits sehingga ia lantas memutuskan untuk menjadikan disiplin keilmuan tersebut sebagai fokus utama studinya.

Imam Mālik, Syaikh Yāsīn, dan al-Birzālī dalam kisah-kisah di atas adalah “para peramal”. Tidak dalam konotasi yang negatif, tentu saja. Mereka membantu orang lain, membukakan jalan, menumbuhkan motivasi, dan memilihkan fokus. Selain mereka, pasti ada banyak nama yang lain. Kalau mau, kita bisa menghimpun koleksi yang sangat melimpah tentang kisah-kisah semacam itu, termasuk yang terjadi pada ulama-ulama kita di Indonesia. Bahkan, kisah-kisah yang sama juga terjadi di Pondok kita, dialami oleh banyak santri dan alumnus. Saya berkali-kali mendengar kisah tentang alumni Al-Amien yang merasa dibimbing oleh ramalan kiai-kiai kita dahulu dalam menentukan karir dan jalan hidup. Sebagian yang lain mengungkapkan penyesalan mereka karena tidak menuruti ramalan tersebut. “Andai saya dulu tidak bersikeras mengikuti dorongan hati dan memilih untuk menuruti saran beliau,” tutur mereka, “barangkali tidak akan begini nasib saya.” Tentu tidak ada yang tahu pasti apakah jika mengambil pilihan yang berbeda itu, mereka sungguh-sungguh akan punya jalan hidup yang berbeda pula.

Satu hal yang saya rasakan, kemampuan “meramal” itu semakin langka dari waktu ke waktu. Yang jelas, saya tidak memilikinya. Kalau diminta untuk melakukan apa yang dilakukan al-Birzālī dalam kisah di atas, saya mungkin akan secara serampangan meramalkan bahwa banyak santri yang berbakat untuk menjadi dokter hanya lantaran tulisan tangan mereka buruk. “Tulisanmu mirip tulisan dokter. Nanti kalau kamu kuliah, ambillah jurusan kedokteran.” Saya kira itu akan jadi ramalan yang bahkan lebih rendah kualitasnya daripada “tanjīm”.

Persoalan lainnya, sebagian dari santri-santri kita tampaknya membutuhkan “ramalan” dari orang lain itu untuk membantu mereka menentukan fokus dan merencanakan masa depan. Kalau tidak, mereka terancam akan kehilangan fokus dan salah langkah dalam waktu yang lama. Bahkan manusia sekelas Imam al-Syāfiʿī pun pernah hampir mengalami “salah jalan” tersebut. Al-Syāfiʿī muda gemar ilmu bahasa. Di masa kecil, ia pernah bertahun-tahun sengaja melakukan retret dari hiruk pikuk kota Mekah dan tinggal di pedalaman bersama kabilah Hudzail yang terkenal sebagai kabilah paling fasih di Jazirah Arab. Hasilnya, al-Syāfiʿī menjadi sangat ahli dalam bidang bahasa dan sastra Arab pada usia yang masih belia. Sedemikian ahlinya sehingga al-Ashmuʿī (atau dibaca juga: al-Ashmaʿī), seorang imām dalam bidang bahasa dan sastra Arab, harus berkonsultasi kepada al-Syāfiʿī muda tentang syair-syair kabilah Hudzail. Barangkali al-Syāfiʿī akan terus meniti karir sebagai penyair yang cemerlang andai ia tidak ditegur oleh seseorang pada suatu siang di jalanan kota Mekah. Yang menegurnya adalah seorang kātib yang tidak terekam namanya dalam buku-buku sejarah. Ia menegur al-Syāfiʿī yang sedang sibuk melantunkan syair dengan berkata, “Orang sepertimu tidak layak belajar syair. Belajarlah ilmu Fiqih.” Nasehat singkat ini kemudian mengubah fokus al-Syāfiʿī sekaligus mengubah haluan hidupnya.

Saya berharap santri-santri kita yang membutuhkan nasehat seperti itu bisa mendapatkannya di Pondok. Kalau tidak berupa ramalan dari para kiai yang linuwih, nasehat itu kita harapkan bisa datang dari proses pembinaan dan pendampingan yang sistemik. Beberapa hal sudah dilakukan meski mungkin belum maksimal.

Dalam proses awal tes penempatan, misalnya, para santri baru dihadapkan kepada ujian psikotes. Rangkaian tes ini diharapkan bisa menyuplai informasi yang memadai tentang karakter dan kepribadian masing-masing santri untuk kemudian digunakan dalam proses pembinaan di masa-masa berikutnya. Dalam praktiknya, tes ini memang belum sepenuhnya sesuai harapan. Instrumennya terus kita sempurnakan bersama el-Psika (Lembaga Psikologi Terapan Al-Amien Prenduan). Di masa mendatang, tidak tertutup kemungkinan bahwa kita akan menggunakan instrumen-instrumen yang lebih efektif, seperti grafologi atau yang lain. Saya dengar ada Pondok Alumni yang mulai menggunakan instrumen berbasis sidik jari untuk mengidentifikasi dan memetakan potensi serta bakat santrinya. Kita tentu akan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan itu juga di masa depan.

Pada proses berikutnya, para santri juga diwajibkan untuk memilih bidang-bidang kompetensi yang ingin mereka tekuni. Berdasarkan pilihan tersebut, mereka kemudian bergabung dalam kelompok-kelompok tersendiri yang dibina secara intensif. Kita menyebutnya kelompok kompetensi pilihan (kompil). Bidang-bidangnya beragam, meliputi wilayah-wilayah keilmuan, kebahasaan, kesenian, olahraga, kepramukaan, keterampilan, dan beberapa lainnya. Dalam periode waktu tertentu, mereka juga diizinkan untuk berpindah kelompok kompil. Pendek kata, selama beberapa tahun menjadi santri TMI, mereka didorong untuk bereksplorasi dan mencari. Para ustadz dan mu‘allim membimbing santri-santri yunior dalam proses tersebut.

Lalu, saat santri-santri itu duduk di kelas akhir, mereka diwajibkan menulis otobiografi dan otoidentifikasi. Hal itu akan menjadi semacam laporan bagi kegiatan eksplorasi bakat dan minat yang telah mereka lakukan beberapa tahun sebelumnya. Tidak cukup dengan itu, apa yang mereka tulis tersebut kemudian akan didiskusikan bersama mentor (musyrif nihāʾī) dalam sesi-sesi muqābalah syakhshiyyah. Selama setahun, setidaknya ada tiga sesi muqābalah dengan fokus yang berbeda-beda. Di situlah para santri kelas akhir itu merencanakan masa depan secara intensif berdasarkan pengenalan mereka terhadap minat dan bakat masing-masing.

Bahwa program-program di atas belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan, itu kita akui. Tetapi ruang-ruang perbaikan, penambahan, dan penyempurnaan selalu terbuka. Ketika para kiai dan guru mulai kehilangan kemampuan “meramal” mereka, maka kita berharap sistem bimbingan dan pendampingan yang akan terus disempurnakan itu bisa menggantikan “kehilangan” tersebut untuk membantu para santri menentukan fokus serta merencanakan masa depan.

4 thoughts on ““Meramal” Masa Depan Santri

  1. Rusliefendi says:

    Saya rasa itu memang tepat, untuk menciptakan karakter santri dan santriwati, agar masa depannya lebih cemerlang

  2. Daffa Dhiyaulhaq says:

    Terkadang apa yang diucapkan seorang guru kepada muridnya itu adalah sebuah doa. Dan doa guru-guru terdahulu yang memang memiliki kedekatan dengan Allah dikabulkan lebih cepat. Bahkan saking dekatnya dengan Allah, ucapan guru yang mungkin saja tidak sengaja terlontar dari lisan beliau bisa benar-benar terjadi. Jadi menurut saya pak kiai, “ramalan-ramalan itu” bisa juga dipahami sebagai doa guru-guru yang sholeh yang tak akan hilang.

    Adapun tentang fokus minat dan bakat seorang santri itu memang sangat diperlukan. Memang benar apa yang antum sampaikan pak kiai. Sedikit cerita, hal yang yang sangat mempengaruhi fokus minat saya adalah lingkungan. Dulu ketika masih SMP, saya sangat suka sekali pelajaran Matematika dan benci sekali dengan bahasa indonesia. Sebab lingkungan disana sangat mendukung sekali untuk belajar mtk. Mulai dari adanya guru yang sering memberi rumus cepat dan anti ribet sampai adanya teman untuk bersaing dalam hal itu. Sehingga tak mengherankan, jika ada segelintir teman yang mendapat nilai 100 saat UN.

    Sedangkan ketika masuk pondok ini, perlahan tapi pasti, minat terhadap mapel MTK pun hilang. Orang-orang pondok membuat MTK jadi rumit dan sulit (tak ada namanya rumus cepat dipondok). Disamping itu, fokus kajian utama dipondok ini adalah bahasa arab. Para muallim yang tampil didepan kami, selalu saja mengingatkan untuk belajar bahasa arab. Alhasil, saya dan teman-teman banyak yang mengikuti kompil bahasa. Sejak saat itu, saya berubah haluan. Dari seorang yang memang suka MTK (sampai-sampai saya mendapat nilai UN MTK 97,5) menjadi pecinta bahasa arab. Saking cintanya, alhamdulillah kami bisa meraih beberapa prestasi dalam bidang bahasa arab. Jadi, pengaruh lingkungan sangat besar sekali. Ia dapat mengubah seseorang yang fokus pada bidang statistika ke bidang linguistik.

  3. Salamah says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, apakah saya salamah Bin bapak madamin bisa menikah dengan orang yang sangat saya cintai, trimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.