Inti pembahasan dalam surah Al-Ankabut itu, “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang” (QS. Al-Ankabut: 5) adalah mengenai Raja’ yang artinya harapan. Harapan merupakan kunci kesuksesan hidup manusia muslim; sukses di dunia, sukses di alam kubur , sukses di di atas shirat dan sukses di akhirat nanti, karena ia merupakan satu dari beberapa tahapan dalam mencari keridhaan Allah. Siapa pun orangnya jika tidak punya harapan dalam hidup ini tentu dipertanyakan eksistensinya sebagai manusia. Harapan termasuk Maqàmàt al-Sàlikîn wa ahwàl al-Ţàlibîn, kedudukan para penempuh jalan Allah dan keadaan para pencari ridla Allah.

Istilah harapan (raja’) banyak diterangkan oleh para Sufi dalam buku-buku panduan mereka bagi penempuh jalan dan pencari ridha Allah. Salah satu pengertian Raja’ yang dapat ditulis di sini adalah keterpautan hati kita kepada sesuatu yang kita inginkan terjadi di masa yang akan datang, seperti surga, sebagaimana halnya takut (khawf) adalah berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang, seperti neraka. Dalam pandangan Abu Ali al-Rudzbari, manusia itu laksana seekor burung. Artinya menurut beliau, “Takut dan harapan seperti sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang ia pun akan terbang dengan sempurna. Tetapi manakala salah satunya kurang berfungsi, maka hal itu akan menjadikannya kehilangan kemampuan untuk terbang. Apabila takut dan harap keduanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematian”.

Untuk lebih jelas kedudukan raja’ para Sufi memperbandingkan dengan tamanni. Harapan termasuk sifat yang terpuji karena ia membuat hati menjadi hidup sedangkan tamanni, angan-angan dikatagorikan sifat yang tercela sebab ia membuat seseorang menjadi malas, karena ia hanya mengangan-angankan sesuatu namun tak melakukan tindakan apapun atau tidak pernah berusaha atau membulatkan tekad untuk mencapai apa yang diangan-angankan. Tepat apa yang dikatakan Abu Utsman al-Maghribi,” Barangsiapa mendorong dirinya untuk berharap saja, maka ia akan terjerumus ke dalam kemalasan, dan barangsiapa yang mendorong dirinya kepada takut saja maka ia akan terjererumus pada keputus-asaan. Sebenarnya yang rasional adalah, ada waktu untuk berharap dan ada waktu untuk takut; keduanya punya tempatnya sendiri. Artinya, harapan tidak kosong dari tekad dan usaha.  

Secara spesifik, Imam al-GhazaIi mengatakan bahwa harapan adalah kegembiraan hati karena menantikan apa yang dicintai. Akan tetapi apa yang dicintai itu harus mempunyai sebab. Bilamana sebagian besar sebabnya telah dilakukan, maka layak disebut harapan. Apabila hanya menunggu berpangku tangan dan sebab-sebabnya telah berlalu, maka hal demikian lebih tepat disebut ghurur. Tetapi apabila  terjadinya sebab-sebab dengan ketiadaannya secara bersamaan, maka lebih tepat dinamakan tamanni, angan-angan. Maka angan-angan atau gharur sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi SAW dibawah ini, “orang yang bijak adalah orang yang memeriksa dirinya dan beramal bagi kehidupan sesudah mati. Orang yang dungu adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah”.

Amal Shaleh

Masing-masing kita tentu punya harapan baik itu harapan antara maupun harapan puncak. Harapan antara terjadi di dunia sedang harapan puncak terjadi di akhirat nanti, karena itu harapan antara merupakan ladang dan jembatan bagi harapan puncak. Misalnya, harapan untuk membahagiakan istri yang telah berjanji mendampingi suaminya dunia akhirat. Syarat ketercapaian harapan itu wajib didahulukan dan diutamakan seperti memberi nafkah dhahirah yang halalan thayyibah dan nafkah batinah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya

Harapan untuk membahagiakan ibu yang telah mengandung selama lebih kurang sembilan bulan, melahirkan telah memperjuangkan hidupnya dan menyusui selama dua tahun, dan ayah yang telah mencari nafkah untuk hidup dan kehidupan. Syarat untuk harapan yang demikian itu, sebagai anak kita wajib berusaha bagaimana menjadi warisan orang tua yang terbaik bagi agama, bangsa dan negara, menjadi anak shaleh yang selalu mendo’akan, berilmu luas yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, dan beramal sejati. Begitu juga, harapan seorang guru untuk mengantarkan muridnya sukses mencapai cita-citanya, maka dituntut mendidiknya secara profesional dan proporsional.

Semua sebab di atas menandai sesuatu yang dicintai adalah disebut amal. Amal perbuatan yang bernilai shaleh bila bersumber dari iman kepada Allah dan hari kemudian. Sedangkan amal shaleh yang diridhai oleh Allah adalah yang diniatkan untuk Allah semata bukan untuk yang lain-Nya. Maka amal shaleh yang dilandasi  harapan seperti itu lebih tinggi daripada yang berlandaskan rasa takut, karena hamba yang terdekat kepada Allah swt adalah yang paling dicintai-Nya, sedangkan cinta dikalahkan oleh harapan. Maka Nabi Muhammad saw berpesan kepada kita, “Janganlah seseorang di antara kamu mati melainkan ia berbaik sangka kepada Allah”.

Harapan puncak yang diinginkan oleh setiap muslim-mukmin adalah surga dan pertemuan dengan Tuhan Allah SWT. Oleh karena itu harapan antara dan harapan puncak tentu terkait erat dan tak bisa dipisahkan. Harapan puncak  bertemu dengan Allah baik itu di dunia maupun di akhirat ada korelasi yang signifikan dengan harapan antara yang berupa amal shaleh. Sebagai dinyatakan dalam firman Allah, “Katakanlah Muhammad: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”  (QS. Al-Kahfi:110)    

Sampai detik ini, tak seorang pun mampu menghitung ‘Rahmat Allah’ saking banyaknya. Salah satu ‘Rahmat Allah’ yang terbesar adalah pertemuan antara seorang hamba dengan sang Khaliq. Namun demikian, bagi yang punya harapan puncak, bertemu dengan-Nya tentu harus tunduk kepada petunjuk-Nya, dimana tata cara pertemuan itu telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  (QS. Al-Ahzab: 21)

Dan salah satu bentuk komunikasi yang sangat efektif dan efisien adalah shalat, suatu pola hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Penciptanya. Untuk itulah maka pola hubungan ini disendirikan dari berbagai bentuk nusuk, ibadah lainnya. Sedangkan hal yang perlu dan harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam hubungan itu tidak adanya unsur-unsur syirk, yakni menyekutukan Allah dengan siapapun atau dengan apapun. Allah SWT mengingatkan” (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?.(QS.Al-Zumar:9) Kandungan ayat ini merepresentasikan tentang keberuntungan yang akan didapatkan kelak oleh setiap manusia sesuai dengan apa yang dipercayainya atau diyakininya. Dalam artian kita akan memperoleh apa yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Bila yang kita percayai ternyata salah, maka justru keburukanlah yang akan kita peroleh. Sedangkan jika kita percaya akan kebaikan dan kebenaran apa yang telah Allah firmankan dan kita telah mempercayai kebenaranya maka kita sudah berpengharapan baik kepada  Allah SWT dan Dia tidak menyi-nyiakan hamba-Nya yang  beriman baik di waktu siang ataupun malam.

Berdasarkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam do’a iftitah yang seharusnya dipahami dan dipegang teguh oleh seoramg mushalli tentu akan diperoleh suatu komitmen yang kuat untuk penyerahan diri secara total kepada sang Pencipta. Dalam pencapaian penyerahan secara totalitas yang sangat mendasar diperhatikan adalah cara baca do’a iftitah sebab terdapat huruf ‘ma’ yang jika dicabut dari kalimat “wama ana minal musyrikin” menjadi ‘wa ana minal musyrikin’ atau ditambahkan ke kalimat “ wa ana minal muslimin’ menjadi ‘wama ana minal muslimin’ sudah barang tentu sangat merusak pola hubungan vertikal tersebut.

Syirk

Syirk dilihat dari bentuknya ada syirk kecil dan syirk besar. Syirik kecil yang dimaksud adalah riya’ dan syirk besar seperti sudah jelas dalam ayat di atas. Syirk laksana tanaman liar yang tumbuh di tengah sawah. Lalu, apa hubungan harapan dengan syirk yang tumbuh liar di ladang? Kita sebut saja dunia ini adalah akhirat, hati seperti ladang, dan iman laksana benihnya, sedang keta’atan seperti air, pupuk dan pengelolaan. Artinya, siapa yang punya sebab-sebab berupa ladang yang baik bersih dari tanaman liar, air dan pupuk, lalu menebarkan benih iman yang baik, kemudian ia menantikan panen seraya mengharap Rahmat Allah yang menolak keburukan yang merusak, maka ia disebut harapan. Namun jika benih iman ditanam di tanah yang gersang yang tak berair lagi ditumbuhi tanaman liar kemudian mengharap panen, maka ini yang dinamakan gharur. Sedangkan tamanni, jika benih ditebarkan di ladang yang baik, tetapi penuh tanaman liar dan tidak berair lalu mengharapkan panen karena mengandalkan air hujan, tentu ia sedang berangan-angan.

Begitu jelas bagi siapa pun bahwa siapa menanam iman di dalam hatinya, menyiramkan dengan air keta’atan dan menyucikan hati dari kotoran syirk sebagaimana tanah dibersihkan dari duri dan rerumputan liar, maka ia boleh berharap dan tentu saja pertemuan dengan Allah SWT akan tercapai. “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ( tentang hati)?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(QS.Al-Zumar:9)

Pengetahuan tentang syirk merupakan bekal yang sangat berharga bagi kesempunaan amal perbuatan manusia itu sendiri. Karena peran ilmu pengetahuan sangat vital bagi setiap orang muslim untuk menjadikan perjalanan hidupnya dalam kebaikan yang terbebas dari unsur-unsur riya’. Amal shaleh tanpa ilmu pengetahuan terutama tentang syirk tampaknya perbuatan itu akan sia-sia. Artinya , manusia yang  datang menghadap  Allah tidak bersama amal shaleh yang diridhai oleh-Nya, sudah berang tentu ditolak.

Menilik pada peran ilmu dan tujuan utama diciptakannya manusia itu sendiri, salah satunya adalah beribadah kepada sang Pencipta, Allah SWT. Dengan demikian dapat dipastikan seseorang membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu sebagai langkah awal mencapai kesempurnaan dalam mengarungi harapan yang diinginkannya. Harapan merupakan cambuk pertama untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya. Tanpa harapan tampaknya seseorang tidak akan berusaha terlebih dahulu, dengan begitu ia tidak akan mencapai tujuan yang diharapkannya. Sebagai manusia beriman yang diciptakan dengan kesempurnaan akalnya tentu dia selalu mencari solusi yang tepat untuk merepresentasikan cita-citanya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pada akhirnya dia akan sampai pada puncak kesempuraan berkat harapan yang ditanamkan dalam hatinya.

Semoga pembaca termasuk orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah yang mengharapkan rahmatNya, dan sadar seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Amin ya rabbal alamin.

One thought on “Harapan Kunci Sukses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.