Catatan Senja di Penghujung Mei

Rubrik ini adalah perayaan sederhana atas perjalanan saya menekuni aktifitas menulis. Setidaknya ada 3 orang yang menginspirasi saya untuk menulis: Darwis (Tere Liye), Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) yang keduanya merupakan kelahiran Mei serta seseorang teman lagi. Bila dianalogikan, saya baru saja menikmati sore pertama kali, sementara mereka berkali-kali boleh jadi telah menyaksikan bagaimana sandyakala pergi tuk kembali lagi dan lagi; sehangat mendengarkan lagu Bersenja Gurau – Raim Laode yang lewat saat saya sedang menyusun tulisan ini.

Apakah saya suka menulis? Bila ini ditanyakan satu dekade lalu (2016) maka jawabannya tidak. Fatih kecil hanya biasa membaca buku di perpustakaan SMP tempat ayahnya bekerja, dan hobi itu ikut terbawa semasa menimba ilmu di Bumi Jauhari tercinta. Bulan-bulan pertama menyandang status santri kelas I TMI, Perpustakaan ISMI menarik perhatian saya terutama pada rak sebelah utara yang dipenuhi Why Comic a.k.a seri komik edukasi anak dan remaja asal Korea Selatan. Itu momen yang paling saya ingat di samping juga membaca beberapa novel-novel dari penulis lainnya beberapa tahun kemudian.

Saya mulai menulis saat memutuskan ikut menjadi redaktur Buletin Rabbani di kelas III TMI. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, saat berpapasan dengan si pimred yang juga merupakan rekan konsulat Kalimantan, saya ucapkan dengan mantap “Aldi.. saya mau jadi anak Rabbani” kurang lebih begitu. Sepanjang kiprah di buletin saya fokus di bidang puisi, menikmati proses memilih diksi dan merangkai baris demi baris dari nol. Puisi perdana itu saya beri judul “Menuntut Ilmu” yang mendeskripsikan bagaimana seseorang belia yang belajar laksana memahat di batu.

Beranjak kelas IV TMI saya menghasilkan lebih banyak lagi karya-karya puisi. Seringkali saya menghabiskan sore hari dengan duduk di sudut serambi masjid, menatap mentari yang tenggelam di balik rumah allahu yarham KH. Moh. Zainullah Rois, Lc, menuangkan ide-ide menjadi sebuah sajak ke dalam buku catatan khusus dengan ilustrasi cover ala Jurnal Misterius yang ditulis Stanford Pines dalam animasi Gravity Falls di antara riuh aktifitas olahraga santri di lapangan.

Setahun berikutnya saya dipercaya menjadi redaktur Majalah Qawiyyul Amien (QA), puisi saya pun turut dimuat pada beberapa edisi. Sebuah kebanggaan tersendiri saat karya sederhana itu dibaca banyak orang dan menjadi representasi literasi di TMI Al-Amien. Sepanjang mengenyam studi di TMI, gaya bahasa saya pribadi banyak dipengaruhi oleh novel-novel Tere Liye, seorang penulis ternama asal Sumatera yang saya kenal lewat serial novel aksi, anak dan petualangan Raib.

Meski aktifitas menulis sempat terhentikan oleh padatnya program semasa menjadi santri kelas akhir (Nihaie), Alhamdulillah saya dapat menghidupkan kembali aktifitas menulis itu lewat program Guru Menulis di website TMI dengan rubrik berjudul Semesta Renjana, Insan Bercerita sebagai tulisan perdana saya.

Saat aplikasi Threads (serupa Twitter) diluncurkan pada 06 Juli 2023, saya mulai aktif membranding diri sebagai penulis kemarin sore yang berbagi sajak maupun sekadar kutipan. Antusiasme itu didukung oleh beberapa tulisan-tulisan akun @rintiksedu yang muncul di beranda Instagram saya. Inisial “rintik” lumayan menarik hati terutama karena dua hal: Pertama, saya seorang Pluviophile  dan kedua, pernah sesekali menggunakan nama pena Lluvia yang dalam bahasa spanyol memiliki makna yang kurang lebih sama: hujan.

Sekali lagi saya menikmati perjalanan mengolah kata, mengambil ide dan inspirasi dari segala bentuk ruang, waktu dan rasa. Pendirian Perpustakaan Baitul Hikmah misalnya mengispirasi saya untuk menulis rubrik berjudul Pemimpin dan Budaya Membaca. Event Clash of Champions yang diinisiasi oleh Ruang Guru juga turut menarik atensi saya dan melahirkan ide untuk menulis rubrik berjudul Santri dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi. Ada masih banyak tulisan lain di website maupun Threads yang menjadi saksi saya berproses hingga detik ini.

Pesan saya untuk pembaca di mana pun berada berhenti memikirkan “apa hal menarik yang akan saya tulis nanti?”. Ada banyak sekali hal-hal di sekitar kita yang dapat dijadikan bahan untuk mulai menulis. Tidak perlu memikirkan bagus tidaknya, karena memang tidak semua tulisan pertama yang langsung menarik untuk dibaca, tentu ada kurangnya, tetapi setidaknya itu jadi titik awal pada tulisan-tulisan hebat yang akan lahir setelahnya.

Catatan Senja di Penghujung Mei ini adalah rubrik kelima belas saya; sebuah perayaan sederhana atas anugerah menjadi orang yang terus belajar hingga pandai merangkai kata. Saya ucapkan terimakasih banyak kepada lembaga TMI yang telah memberikan wadah bagi saya untuk menulis, tak lupa juga kepada Tim Media yang tak pernah bosan menerima tulisan saya tuk kesekian kalinya. Akhir kata, ayo mulai menulis dan temukan seorang teman menulis versimu!