Kepedulian Tidak Otomatis Menjadi Tanggung Jawab

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah obrolan ringan saya dengan salah seorang pengurus. Dari percakapan tersebut muncul sebuah refleksi tentang batas antara kepedulian dan tanggung jawab dalam kehidupan berorganisasi. Meski lahir dari konteks tertentu, gagasan yang dibahas dalam tulisan ini bersifat umum dan relevan bagi siapa pun yang terlibat dalam sebuah amanah kelembagaan.

Dalam kehidupan berorganisasi, sering kali muncul anggapan bahwa siapa pun yang peduli terhadap suatu masalah harus ikut bertanggung jawab menyelesaikannya. Sekilas, pandangan ini terdengar mulia. Namun jika ditelaah lebih dalam, pandangan tersebut dapat menimbulkan kekacauan dalam pembagian tugas dan amanah. Kepedulian memang penting, tetapi kepedulian tidak otomatis melahirkan tanggung jawab.

Setiap lembaga, organisasi, maupun pesantren dibangun di atas sistem pembagian tugas yang jelas. Ada yang bertugas memimpin, membina, mengawasi, mengelola administrasi, menjaga keamanan, hingga mengatur kehidupan santri di kamar. Pembagian tugas ini bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan agar setiap amanah terlaksana secara efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masalah muncul ketika batas antara kepedulian dan tanggung jawab mulai kabur. Ketika suatu tugas tidak berjalan sebagaimana mestinya, perhatian sering kali beralih kepada pihak yang dianggap mampu membantu, bukan kepada pihak yang memang memegang amanah. Akibatnya, fokus pembahasan bergeser dari akar masalah menuju pencarian “siapa lagi yang bisa mengerjakan.”

Padahal dalam prinsip manajemen yang sehat, tanggung jawab selalu melekat pada pihak yang menerima amanah. Jika seorang pengurus tidak menjalankan tugasnya, maka yang harus dievaluasi adalah pelaksanaan tugas pengurus tersebut, bukan mengapa orang lain tidak mengambil alih pekerjaannya. Sebab mengambil alih tugas orang lain mungkin dapat menyelesaikan masalah sesaat, tetapi tidak menyelesaikan sumber persoalan yang sebenarnya.

Bukan berarti pihak lain tidak boleh membantu. Membantu adalah bentuk kepedulian yang sangat terpuji. Namun bantuan tetap berbeda dengan tanggung jawab. Seseorang dapat membantu pekerjaan yang bukan tugasnya tanpa harus dibebani kewajiban atas pekerjaan tersebut. Sebaliknya, seseorang yang memegang amanah tetap tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya hanya karena ada pihak lain yang bersedia membantu.

Jika setiap masalah yang muncul selalu dibebankan kepada pihak yang kebetulan berada dekat dengan masalah tersebut, maka lambat laun struktur organisasi kehilangan maknanya. Orang yang rajin membantu akan terus dibebani tugas tambahan, sementara pemegang amanah yang sebenarnya justru terhindar dari evaluasi. Pada titik inilah budaya pelimpahan tanggung jawab mulai tumbuh tanpa disadari.

Karena itu, penting untuk membedakan antara kepedulian dan tanggung jawab. Kepedulian mendorong seseorang untuk membantu ketika diperlukan. Namun tanggung jawab tetap berada pada pihak yang menerima amanah. Ketika batas ini dipahami dengan baik, kerja sama dapat berjalan tanpa menghilangkan akuntabilitas. Sebab organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang semua tugas dikerjakan oleh semua orang, melainkan organisasi yang setiap amanah dijalankan oleh pemegang amanahnya dan setiap bantuan diberikan tanpa menghapus tanggung jawab pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Pada akhirnya, amanah yang tidak dijalankan seharusnya dikembalikan kepada pemegang amanah untuk diperbaiki, bukan dipindahkan kepada orang yang kebetulan berada paling dekat dengan masalahnya. Karena kepedulian adalah sebuah keutamaan, sedangkan tanggung jawab adalah sebuah kewajiban. Keduanya saling melengkapi, tetapi tidak boleh disamakan.

“Kepedulian dapat menggerakkan seseorang untuk membantu, tetapi hanya amanah yang melahirkan tanggung jawab.” Wallahu a’lam..