Bisa Karena Biasa

الْمَلَكَاتُ لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِتَكْرَارِ الْأَفْعَالِ

“Kemampuan yang mengakar tidak akan terbentuk kecuali melalui pengulangan perbuatan.” Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah

Mahkota yang Harus Dikenakan

Al-lughatu al-‘Arabiyyatu tāju ma’hadinā. Bahasa Arab adalah mahkota pesantren kami.

Begitulah semboyan yang diwarisi turun-temurun di TMI Al-Amien Prenduan. Sebuah kalimat pendek yang menyimpan tekanan besar. Sebab mahkota bukan hiasan semata. Ia adalah lambang wibawa, penanda identitas, simbol otoritas. Seorang raja yang tampil tanpa mahkotanya bisa saja tidak dikenali. Kewibawaan yang melekat pada jabatannya tidak serta-merta terpancar jika atribut utamanya tidak dikenakan.

Begitu pula santri TMI. Tanpa bahasa Arab yang hidup di lisannya, ilmu yang ia miliki bisa jadi hanya tersimpan rapi di kepala, tidak terpancar, tidak mengalir, tidak menggerakkan orang lain. Mahkota yang tidak dikenakan tidak ada kekuatannya. Dan mahkota itu hanya akan benar-benar menjadi milik seseorang jika ia terbiasa memakainya, setiap hari, dalam setiap keadaan.

Tapi di sinilah persoalannya, tidak ada santri baru yang langsung bisa mengenakannya dengan anggun.

Kesulitan yang Tidak Perlu Ditutupi

Hampir setiap santri baru TMI merasakan hal yang sama di minggu-minggu pertama, dikelilingi bahasa yang belum sepenuhnya dipahami. Kalimat-kalimat melayang di udara dalam bahasa Arab atau Inggris, sementara pikiran masih bekerja dalam bahasa ibu. Ada yang tertegun diam. Ada yang tersenyum canggung berpura-pura mengerti. Ada pula yang menghitung hari dan mulai bertanya-tanya apakah keputusan masuk ke sini adalah keputusan yang tepat.

Salah seorang guru saya pernah bercerita tentang pengalaman beliau ketika pertama kali nyantri di TMI sebagai lulusan SMA. Beliau mengalami persis itu, tersusul oleh santri yang jauh lebih muda, dan merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Sampai suatu hari, beliau menyaksikan sesuatu yang mengubah cara pandangnya selamanya.

Dua orang santri yang sudah lebih lama mondok sedang adu mulut. Bukan debat yang tertib, tapi pertengkaran sungguhan, dengan nada tinggi dan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan. Yang membuat beliau tertegun bukan intensitas pertengkaran itu. Yang membuat beliau terdiam adalah satu fakta sederhana, pertengkaran itu berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Arab. Fasih. Deras. Tanpa jeda untuk berpikir.

Di tengah amarah, ketika kendali diri pun nyaris tidak berfungsi, bahasa Arab tetap keluar dengan sendirinya.

Dari peristiwa itulah beliau bisa disimpulkan, bahwa bahasa yang sejati bukan bahasa yang diingat, melainkan bahasa yang sudah menjadi bagian dari diri. Dan satu-satunya jalan menuju ke sana adalah pembiasaan yang tidak kenal jeda.

Al-lughatu mā yuqālu lā mā yakūnu. Bahasa adalah apa yang diucapkan, bukan sekadar apa yang ada.

Kalimat ini menyimpan kebenaran yang sering dilupakan dalam cara kita memahami pembelajaran bahasa. Bahasa bukan kumpulan kaidah yang tersimpan di buku teks. Bahasa bukan daftar kosakata yang dihafalkan lalu dilupakan setelah ujian. Bahasa adalah peristiwa. Ia hanya nyata ketika diucapkan, ketika dipertukarkan, ketika digunakan dalam percakapan yang hidup.

Seorang santri yang hafal seluruh kaidah nahwu tapi tidak pernah berbicara dalam bahasa Arab belum benar-benar memiliki bahasa Arab. Ia hanya memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab, dan itu berbeda. Pengetahuan tentang bahasa adalah peta. Kemampuan berbahasa adalah perjalanan itu sendiri.

Inilah yang sering tidak disadari, bahkan oleh sebagian yang sudah lama nyantri di sini. Kita punya kelas Muḥādatsah, kelas conversation, program Muḥāḍarah, kamus di tangan, dan guru-guru yang tidak pelit ilmu. Semua itu adalah bekal yang luar biasa. Tapi bekal sebanyak apa pun tidak akan pernah mengantarkan siapa pun ke mana-mana jika ia dibiarkan tersimpan di dalam tas dan tidak pernah digunakan.

Sistem pendidikan bahasa yang kita punya, sepintar dan secanggih apa pun rancangannya, tidak akan menghasilkan apa-apa bagi santri yang hanya berbahasa di dalam kelas lalu kembali ke bahasa ibu begitu melangkah keluar. Jam pelajaran bahasa hanya beberapa jam sehari. Sisa waktunya belasan jam penuh adalah kesempatan yang setiap hari terbuang oleh mereka yang tidak mau memanfaatkannya.

Bahasa harus diucapkan. Harus dipertaruhkan dalam percakapan nyata, dengan risiko salah, dengan kemungkinan tidak dimengerti. Hanya dari sanalah ia tumbuh menjadi milik yang sesungguhnya.

Ilmu yang Mengakar: Ibnu Khaldun dan Mekanisme Pembiasaan

Ibnu Khaldun, dalam Al-Muqaddimah yang beliau tulis pada abad ke-14, telah merumuskan sesuatu yang dibuktikan oleh pakar pendidikan modern secara ilmiah berabad-abad kemudian:

Al-malakātu lā taḥṣulu illā bitakrāri al-af‘āli, kemampuan yang mengakar tidak akan terbentuk kecuali melalui pengulangan perbuatan.

Malakah, itulah kata kuncinya. Bukan sekadar ilmu (pengetahuan) atau ma’rifah (pemahaman), tapi malakah: kemampuan yang telah menjadi sifat tetap, yang mengalir dari dalam diri tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Seperti pandai besi yang tidak lagi menghitung sudut tempaannya, atau penutur asli bahasa Arab yang tidak lagi mengingat kaidah i’rab, bahkan saat marah.

Tujuh abad setelah Ibnu Khaldun, para ilmuwan barat sampai pada kesimpulan yang sama melalui jalur yang berbeda.

Ivan Pavlov, John Watson, dan B.F. Skinner, para tokoh behaviorisme, merumuskan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui rangkaian stimulus-respons yang diulang secara konsisten hingga respons menjadi otomatis. Mereka menyebutnya habit formation, pembentukan kebiasaan. Bagi mereka, belajar bahasa pada hakikatnya adalah masalah pembiasaan, ketika telinga terpapar kalimat tertentu berulang kali, dan mulut terlatih meresponsnya dalam konteks yang tepat, maka pada akhirnya respons itu akan muncul tanpa perlu dipanggil secara sadar.

Inilah yang terjadi pada dua santri yang adu mulut dalam bahasa Arab itu. Bertahun-tahun stimulus dan respons telah membangun jalur yang begitu kuat, sehingga bahkan dalam kondisi emosi tinggi pun, ketika bagian otak yang rasional sedang tidak bertugas, bahasa Arab tetap mengalir. Kebiasaan telah lebih kuat dari kehendak sadar.

Namun teori behaviorisme saja belum cukup menjelaskan bagaimana pengulangan itu harus dilakukan agar benar-benar efektif. Di sinilah penemuan Hermann Ebbinghaus pada akhir abad ke-19 menjadi sangat relevan.

Melalui eksperimen bertahun-tahun yang ia lakukan pada dirinya sendiri, Ebbinghaus menemukan apa yang kemudian dikenal sebagai Forgetting Curve, kurva kelupaan. Temuannya menunjukkan bahwa lebih dari separuh informasi yang baru dipelajari akan terlupakan dalam satu jam pertama jika tidak segera diulang. Dalam sehari, hampir dua pertiga materi bisa lenyap dari ingatan. Dalam seminggu, hampir tidak ada yang tersisa jika tidak ada pengulangan.

Tapi Ebbinghaus juga menemukan solusinya, spaced repetition, pengulangan berjarak. Setiap kali seseorang mengulang materi tepat sebelum ia benar-benar lupa, jalur memori itu diperkuat dan bertahan lebih lama dari sebelumnya. Perlahan, interval itu melebar, dan pada akhirnya informasi itu tidak lagi bisa dilupakan karena sudah menjadi bagian dari memori jangka panjang.

Inilah sesungguhnya yang terjadi dalam sistem pembiasaan bahasa di TMI. Santri tidak hanya belajar bahasa Arab di kelas lalu melupakannya ketika bel berbunyi. Mereka seharusnya menggunakannya di asrama, di kantin, di lapangan, dalam percakapan santai, dalam teguran, dalam canda. Setiap percakapan adalah satu sesi pengulangan. Setiap hari adalah satu siklus penguatan. Tubuh dan pikiran tidak diberi kesempatan untuk melupakan. Begitulah seharusnya.

Kelakar yang Lebih dari Sekadar Kelakar

Di zaman kami nyantri, beredar sebuah kelakar yang cukup populer: santri seharusnya menggunakan bahasa resmi kapan pun dan di mana pun. Bahkan, kata mereka, ketika berbicara dalam hati pun harus menggunakan bahasa resmi. Ketika bermimpi pun tidak boleh pakai bahasa Indonesia.

Tentu tidak ada yang sungguh-sungguh mengharapkan itu terjadi secara harfiah. Tidak ada tata tertib yang bisa menjangkau alam mimpi seseorang. Tapi siapa pun yang pernah nyantri cukup lama tahu bahwa di balik gurauan itu tersimpan pesan yang sangat jelas: pembiasaan bahasa harus dijalani sedemikian rupa hingga ia tidak lagi hanya digunakan ketika diawasi, tetapi sudah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari cara seseorang hidup dan berpikir.

Dan yang mengejutkan, kelakar itu ternyata bukan hanya lelucon. Ada masanya, dan banyak alumni TMI mengakuinya, ketika seseorang mendapati dirinya berpikir dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris tanpa sengaja. Ada masanya, ketika hendak menegur teman, kata-kata yang pertama kali meluncur bukan bahasa ibu, melainkan bahasa yang selama ini dibiasakan.

Inilah yang oleh Ebbinghaus disebut sebagai memori yang telah sepenuhnya menguat, informasi yang tidak lagi bisa hilang karena sudah berulang kali dipanggil kembali, sudah terlalu dalam tertanam untuk bisa dilupakan begitu saja.

Ada anekdot lagi yang tidak kalah populer. Ketika jadwal muhadharah diumumkan dan nama seorang santri tercantum sebagai khatib, mendadak santri tersebut jatuh sakit, demam, pusing, atau tiba-tiba merasa tidak kerasan dan ingin pulang. Para senior yang sudah hafal polanya biasanya hanya tersenyum. Mereka tahu bahwa “penyakit” itu bukan penyakit sungguhan. Ia adalah nama lain dari rasa takut berdiri di depan orang banyak dan berbicara dalam bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai.

Tapi santri yang sama itu, bisa jadi dalam setahun atau dua tahun kemudian, justru menjadi khātib yang paling ditunggu-tunggu penampilannya. Bukan karena penyakitnya sembuh, tapi karena pembiasaan telah bekerja, dan rasa takut itu perlahan kehilangan dasarnya, karena malakah telah terbentuk.

Yang Saya Saksikan Kini sebagai Seorang Guru

Sekarang, setelah saya duduk di sisi lain, bukan lagi sebagai santri baru melainkan sebagai guru yang mengamati, saya melihat siklus yang sama berputar setiap tahun. Wajah-wajah baru datang dengan kecemasan yang sama. Mereka memandang para senior berbicara dengan lancar, dan di mata mereka ada campuran antara kagum dan sesuatu yang menyerupai putus asa.

Kepada mereka, saya selalu menceritakan kisah guru saya tentang dua santri yang adu mulut dalam bahasa Arab itu. Sebuah kisah dari dalam tembok pesantren ini sendiri, yang menunjuk ke arah yang tidak bisa disangkal.

Yang paling sering saya tekankan, hambatan terbesar dalam belajar bahasa bukan soal tata bahasa yang belum dikuasai atau kosakata yang masih tipis. Hambatan terbesar adalah rasa malu dan takut salah. Di sinilah lingkungan pesantren bekerja dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh kelas bahasa mana pun. Ketika semua orang sedang dalam proses yang sama, rasa malu itu perlahan kehilangan daya gigitnya. Tidak ada yang bisa menertawakan kesalahan orang lain, karena semua orang pernah dan masih melakukan kesalahan yang sama.

Inilah sesungguhnya rahasia terdalam dari sistem pembiasaan bahasa di TMI. Bukan hanya soal frekuensi pengulangan, tapi soal lingkungan yang membuat pengulangan itu bisa terus terjadi tanpa terhenti oleh rasa malu.

Skinner menyebut ini reinforcement, penguatan. Ketika sebuah respons bahasa diterima oleh lingkungan, dimengerti, dibalas, dihargai, maka respons itu diperkuat dan cenderung diulang. Ketika lingkungan seluruhnya berbicara dalam bahasa yang sama, setiap percakapan adalah penguatan, setiap interaksi adalah latihan, dan perlahan tanpa terasa, malakah itu terbentuk.

Tapi lingkungan itu tidak akan pernah bekerja bagi mereka yang memilih untuk tidak masuk ke dalamnya. Yang berbahasa hanya ketika ada pengawas. Yang berbisik dalam bahasa Indonesia ketika merasa tidak ada yang mendengar. Yang menganggap disiplin bahasa sebagai beban yang harus disiasati, bukan jalan yang harus ditempuh. Mereka tidak sedang melanggar sebuah aturan semata, mereka sedang melubangi perahu yang mereka tumpangi sendiri.

Mahkota yang Akhirnya Dikenakan

Mahkota itu tidak jatuh dari langit. Ia ditempa setiap hari, dalam percakapan kecil di lorong asrama, dalam teguran yang canggung, dalam latihan pidato dengan lutut yang gemetar karena grogi, atau saat berbicara sendiri dalam hati, bahkan terbawa tidur dalam mimpi yang tanpa sadar berlangsung dalam bahasa Arab.

Maka berbicaralah. Buka mulut, meski kalimatnya belum sempurna. Sapa teman dalam bahasa Arab, meski kosakata masih terasa pas-pasan. Jawab pertanyaan guru dalam bahasa Inggris, meski grammarnya masih harus diperbaiki. Junjung tinggi disiplin bahasa bukan karena takut dicatat Qismu al-Lughah, tapi karena kita tahu bahwa setiap kalimat yang kita ucapkan hari ini adalah satu batu bata yang kita pasang untuk bangunan yang kelak akan kita diami seumur hidup.

Mahkota itu sudah ada di tangan kita. Pertanyaannya hanya satu, apakah kita cukup berani dan cukup sungguh-sungguh untuk mengenakannya? Itu adalah pilihan. Dan pilihan itu tersedia setiap hari, di setiap percakapan, bagi setiap santri yang mau.