Pelajaran Komunikasi dari Tragedi Utsman bin Affan

Sejarah atau histori terkadang menyimpan banyak nilai-nilai kehidupan dan berbagai macam keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari kita. Baik dari perjalanannya, hikmah-hikmah di dalamnya, dan nilai-nilai religiusnya. Dalam histori Islam sendiri banyak peristiwa yang memiliki relevansi di kehidupan kita saat ini, baik dari tokoh-tokoh Islam, sahabat, ilmuan dan lain sebagainya, serta dari beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam itu sendiri.

Terkadang, dalam sebuah histori juga terdapat sebuah kesalahan karena adanya informasi-informasi yang jauh dari kebenaran dan tidak terverifikasi oleh kita, serta disalahgunakan oleh beberapa pihak atau oknum yang menjadikan pandangan beberapa orang terhadap sejarah, menjadi suatu kesalahan dan kekacauan informasi.

Dalam pembahasan ini ada kisah tokoh dan peristiwa yang bisa kita pahami nilai relevansi dan implementasinya, yang mana terdapat dampak besar dalam kesalahan penyebaran berita, cerita dan komunikasi saat itu terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang dimaksud adalah orang yang terkenal dengan sebutan Dzun Nurain yaitu Utsman bin Affan RA.. Beliau terkenal menjadi yang orang yang menyebarkan Al-Qur’an dalam bentuk mushaf ke beberapa penjuru yg hingga kini berada ditangan kita. Kisah Utsman bin Affan yang paling terkenal adalah gejolak sosial yang berujung fatal terhadap beliau sendiri.

 Beberapa hal yang terjadi di saat itu karena bahayanya informasi yang disalahgunakan dan kurangnya kebenaran dan vertifikasi berita itu sendiri, hingga berujung fatal dengan pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Contoh seperti: desas-desus isu nepotisme, pengelolaan uang negara, dan insiden surat palsu.

Dan yang paling fatal adalah kesalahan dari pemalsuan surat perintah eksekusi yang mana mengatasnamakan sang khalifah itu sendiri. Eksekusi itu akan diberlakukan terhadap para ketua demonstran yang menuntut Utsman atas beberapa kebijakan yang dianggap bersebrangan dan memicu gelombang amarah di kalangan umat Islam saat itu. Itu adalah salah satu disinformasi paling krusial, dan misunderstanding escalatory (kesalahanpahaman yang meningkat eksponensial).

Kasus di atas mengajarkan kita untuk mengambil langkah-langkah yang lebih bijak di kemudian hari, terlebih kita berada di era modern, yang mana hal serupa lebih mungkin terjadi, bahkan lebih cepat meluas dangan ketidakbenaran informasi yang diterima. Kesalahan informasi adalah pemicu tragedi di zaman sang khalifah. Sedangkan, di era sekarang surat palsu tersebut berubah menjadi screenshot WhatsApp, video editan AI, dan berita provokatif lain.

Relevansi secara universal adalah 5 menit mempercayai hoaks dapat mehancurkan hubungan dan hubungan baik dalam keluarga, negara dan sebagainya. Pentingnya bagi kita untuk menggali dan mempelajari lebih dalam berita yang sampai pada kita, terlebih sekarang akses untuk mempermudah sumber berita sudah sangat mudah.