Kecemasan Tersembunyi di Balik Kesalehan yang Terlihat

“Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate’. – Carl Gustav Jung

Di lingkungan pesantren, tidak sedikit santri yang terlihat tenang, tertib, dan disiplin. Ia hadir di majelis, mengikuti jadwal dan kegiatan harian, bahkan mampu menjaga adab di hadapan asatiz. Namun, sebagaimana kehidupan batin manusia pada umumnya, tidak semua yang tampak rapi di luar, benar-benar selaras di dalam.

Kisah ini tentang seorang santriwati tingkat atas. Secara lahiriah, tidak ada yang mencolok. Ia cakap dalam pelajaran, santun dalam berinteraksi, dan dikenal sebagai pribadi yang “salihah”. Namun suatu hari, ia menyampaikan keluhannya dalam sesi konseling, “Saya sering merasa tidak nyaman, perasaan saya tidak tenang, padahal tidak ada apa-apa.”

Kalimat ini sederhana, tetapi dalam ilmu jiwa, sering kali justru menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam. Pola yang berulang, tapi tak terlihat.

Dalam sesi konseling tersebut, ia menceritakan bahwa perasaan itu muncul secara intens dalam banyak kondisi, misalnya ketika belajar dan setoran hafalan, ketika berbicara di depan teman, atau bahkan saat hanya duduk di majelis. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada trauma yang jelas. Namun ada satu kalimat batin yang selalu muncul, “Saya harus terlihat baik, Nyai.”

Setelah itu, tubuhnya mulai merespon; napasnya berubah, dada terasa sempit, bahu menegang, pupil mata membesar. Lalu muncul penilaian, “Saya gugup, Nyai. Ini pertanda tidak baik”. Dan tanpa disadari, pikiran awal dan respon tubuh muncul kembali lebih kuat, “Saya tidak siap”.

Semua ini terjadi sangat cepat, seolah-olah itu kenyataan, bukan proses. Padahal dalam perspektif psikologi dan tazkiyatun nafs, ini adalah pola batin yang berulang, semacam lingkaran respons antara tubuh, pikiran, dan makna. Ia sempat berkata, “Mungkin saya kurang kuat ya…” padahal tidak demikian. Respon itu bukan pertanda lemah, tapi pola sikap yang menjadi kebiasaan.

Dalam psikologi, apa yang dialami oleh santriwati tersebut bukan kelemahan, melainkan kebiasaan batin yang terlatih. Sistem dalam dirinya telah belajar bahwa sensasi tubuh yang tidak biasa akan dianggap sebagai ancaman, ancaman akan memicu kecemasan, kecemasan akan mengirimkan sinyal bahaya ke otak, lalu otak akan meresponnya dengan memperkuat sensasi tubuh yang muncul, begitu seterusnya. Dan karena terus berulang, ia menjadi otomatis. Kondisi itu dalam psikologi dikenal dengan istilah custom (al-‘urf), atau dalam istilah tasawuf, ini mendekati apa yang disebut malakah, yaitu sifat yang terbentuk karena kebiasaan yang terus-menerus.

Santriwati ini termasuk pribadi yang rajin muhasabah. Ia sudah mencoba menenangkan diri, berdzikir, bahkan berpikir positif. Namun belum banyak perubahan, karena yang bekerja bukan hanya akal sadar (‘aql), tetapi juga lapisan alam bawah sadar yang lebih dalam. Di sinilah konseling pesantren mengambil peran; bukan sekadar memberi nasihat, tetapi membantu santri menyadari proses di dalam dirinya.

Pendekatan Mindfulness: Menyadari, bukan Melawan

Dalam sesi konseling, tidak ada pendekatan yang keras atau memaksa. Kami mulai dari yang sederhana; memperlambat diri, menyadari napas, mengamati sensasi tubuh. Lalu perlahan masuk pada dzikir yang lebih hadir; bukan sekadar lisan, tetapi kesadaran.

Di titik ini, ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput, yaitu sensasi dalam tubuhnya, yang sebenarnya netral, bukan ancaman. Dalam keadaan yang lebih tenang, ia tidak diminta menghilangkan rasa takut dan cemas. Sebaliknya, ia diajak melihat ulang, “Bagaimana jika ini bukan tanda bahaya, tapi sekadar reaksi tubuh yang sedang aktif?”.

Perubahan ini tampak kecil, namun dampaknya besar. Karena ketika makna berubah, emosi ikut berubah, tubuh menjadi lebih tenang, pola lama mulai melemah.

Latihan dalam Kehidupan Santri

Proses tidak berhenti di ruang konseling. ia dilatih untuk mengenali momen awal munculnya rasa, memberi jeda sebelum menilai, menghadirkan kesadaran dalam dzikir; bukan dzikir yang tergesa, tetapi dzikir yang disadari. Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami bahwa apa yang ia alami bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang berulang. Dan sesuatu yang berulang, selalu bisa dilatih ulang.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali menghadapi situasi yang sama. Sensasi itu masih ada. Namun kali ini berbeda. Ia tidak langsung bereaksi. Ia berhenti sejenak, mengamati dan tidak tergesa memberi makna. Lalu ia berkata dengan tenang, “Ternyata, tidak harus jadi apa-apa”. Apa yang sebenarnya berubah?. Yang berubah adalah cara batinnya bekerja, dari tidak sadar menjadi sadar, dari reaktif menjadi reflektif, dari kaku menjadi lebih lentur.

Kisah ini bukan tentang hilangnya kecemasan secara tiba-tiba. Melainkan tentang sebuah kesadaran, bahwa apa yang selama ini terasa sebagai “kenyataan”, sering kali hanyalah pola yang berulang. Dan ketika pola itu dimaknai dengan sadar, ia tidak lagi menguasai sepenuhnya. Karena sejatinya, proses “penyembuhan” di lingkungan pesantren bukan sekadar menghilangkan rasa, tetapi menata cara rasa itu dipahami dan dihadapi. Dari situlah, ruang ikhtiar dan tawakal terbuka.

Semoga bermanfaat. Salam sehat mental.