Level Up

“You have to learn the rules of the game. And then you have to play better than anyone else.” — Albert Einstein

Saya terinspirasi membuat tulisan ini saat akan menyampaikan materi Kuliah Umum Kepondokan bertema Hakikat Pondok Pesantren dan Kunci Sukses Belajar di Dalamnya.” Untuk menarik minat audiens, saya kaitkan tema dengan beberapa permainan daring (online game) yang mungkin mereka mainkan saat liburan. Saya sampaikan kepada mereka, Agar antum bisa lebih enjoy, mungkin antum bisa membayangkan kehidupan antum di pondok sebagai sebuah game. Maka, dua hal yang harus antum lakukan agar sukses: pahami gameplay dan terus naik level; kenali lebih dalam pondok ini dan terus tingkatkan pengetahuan serta kompetensi antum.”

Dalam dunia game, pemain perlu mengenal gameplay atau aturan, tujuan, dan mekanisme permainan agar tahu cara bermain dan strategi yang tepat. Selain itu, penting bagi pemain untuk terus naik level (levelling up) karena setiap level membawa tantangan baru, meningkatkan kemampuan, dan membuka akses ke fitur atau hadiah yang lebih menarik. Proses naik level juga memberi rasa pencapaian dan mendorong pemain untuk terus berkembang dan tidak cepat menyerah.

Di dunia nyata, peserta didik perlu memahami sistem pendidikan serta tantangan zaman, lalu terus mengasah ilmu, karakter, dan kepemimpinan agar mampu menghadapi “level” kehidupan yang lebih tinggi dan agar bisa survive menghadapi tantangan hidup yang lebih berat dibanding yang mereka Jalani saat ini.

Dalam sistem pendidikan nasional, tahapan belajar pun telah dirancang bertingkat dalam beberapa level. Dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK) yang menekankan aspek motorik, afeksi, dan bermain edukatif. Lanjut ke Sekolah Dasar (SD) yang membangun kemampuan literasi, numerasi, dan karakter dasar. SMP adalah masa eksplorasi diri, penguatan logika dan kerja sama. SMA atau SMK memperdalam analisis, minat, dan perencanaan karier. Hingga akhirnya di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, mandiri, dan berkontribusi aktif dalam masyarakat.

Jika peserta didik ditempatkan bukan di level yang sesuai dengan tahap perkembangan usianya—baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi—maka proses belajar tidak akan optimal. Penempatan di tingkat yang lebih rendah dapat membuat peserta didik kehilangan motivasi karena materi terlalu mudah dan kurang menantang, sedangkan penempatan di tingkat yang lebih tinggi bisa menyebabkan tekanan mental, kebingungan, serta kesenjangan kemampuan yang menghambat pemahaman dan pencapaian.

Di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, khususnya di Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI), perjalanan pendidikan digarap secara lebih dalam dan berjenjang bukan hanya secara akademik, tetapi juga pendidikan rohani dan karakter. Tiap level dalam sistem ini disusun dengan sangat terstruktur dari kelas I hingga kelas VI, dan di setiap jenjangnya dicanangkan target kompetensi yang khas.

KH. Muhammad Idris Jauhari secara khusus merumuskan kekhasan tersebut dalam buku “Pedoman Dasar Pelaksanaan Kurikulum Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah.” Beliau juga menentukan syarat minimal santri layak naik ke level yang lebih tinggi serta mengatur arah pendidikan dan pengajaran di masing-masing tingkatan kelas. Hal tersebut secara singkat bisa dirangkum sebagai berikut:

Kelas I adalah fondasi utama, tempat santri dibentuk menjadi muslim yang saleh dan bertaqwa, dengan pondasi aqidah, ibadah, akhlaq, dan motivasi hidup. Di sini ditekankan pentingnya penguasaan internal terhadap ilmu dan nilai/falsafah. Guru di kelas ini memegang peran sentral dalam membentuk arah hidup santri ke depan. Maka, proses pendidikan di kelas I adalah basis yang sangat penting sebelum lanjut ke level berikutnya. Di level ini santri sudah harus masak/matang, baik secara keilmuan maupun mental. Kiai Idris menegaskan dengan pernyataan “Kelas I yang masak lebih baik dari kelas II, III, atau IV yang tidak masak.”

Kelas II dan III adalah fase pengembangan dan penuntasan pondasi. Pelajaran dan nilai-nilai yang sudah ditanam mulai diperluas dan diperdalam. Keterampilan bahasa, daya hafal, dan logika berpikir dilatih sebagai bekal memasuki jenjang menengah atas.

Kelas IV dan V menjadi fase awal dan tengah pembekalan keulamaan dan kepemimpinan. Di kelas IV, santri mulai diarahkan berdasarkan minat dan potensi: menjadi pemikir (calon ulama) atau praktisi (calon pemimpin). Kelas V memperluas cakrawala dengan ilmu sosial, administrasi, manajemen, dan juga pengembangan soft skills lewat organisasi dan latihan kepemimpinan lapangan.

Kelas VI adalah tahap akhir pembinaan sekaligus persiapan memasuki masyarakat. Di kelas ini santri ditugaskan menjalani berbagai bentuk ‘amaliyah: khutbah, ceramah, mengajar, mengelola organisasi, pengabdian sosial, hingga riset kecil-kecilan. Guru dituntut peka dalam membimbing, sebab di kelas ini kedewasaan berpikir, ibadah, dan orientasi hidup harus sudah tertanam. Target utamanya: melahirkan religious scholar yang hidup dalam ilmu, bukan sekadar scholar of religion yang hanya pandai berbicara.

Agar perjalanan menempuh pendidikan ini berhasil di tiap levelnya, KH. Moh. Idris Jauhari dalam bukunya “Hakikat Pesantren dan Kunci Sukses Belajar di Dalamnya” menyebutkan empat kunci sukses belajar di pesantren. Pertama, kepercayaan yang utuh terhadap sistem dan para pengasuh, karena hal ini menjadi dasar tumbuhnya keikhlasan dalam belajar. Kedua, kesadaran yang tinggi terhadap status dan misi sebagai santri, yang menjadikan proses belajar lebih terarah. Ketiga, kemauan yang kuat untuk terus berjuang dan bertahan dalam suka maupun duka, sebab konsistensi adalah kunci keberhasilan. Keempat, taufiq dan hidayah dari Allah SWT, karena segala upaya manusia tidak akan berarti tanpa pertolongannya.

Dengan adanya kegiatan Kuliah Umum Kepondokan ini, kita diharapkan dapat semakin mengenal dan mencintai Pondok ini. Semoga dengan penyampaian materi “Hakikat Pondok Pesantren dan Kunci Sukses Belajar di Dalamnya.” para santri bisa menemukan jalan dalam menuju kesuksesan. Baik selama menempuh pendidikan di Pondok ini maupun dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Akhirnya, jika hidup adalah permainan panjang yang terus menuntut kita untuk naik level, maka ingatlah bahwa dalam permainan, pemain terbaik bukan yang paling cepat tamat, tapi yang menyelesaikan setiap level dengan bersih, cerdas, dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Maka, kenali gameplay hidupmu, dan teruslah naik level dengan semangat, ilmu, dan akhlaq. Jadikan setiap ujian sebagai penguat diri, dan setiap pengalaman sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi pembelajar sepanjang hayat.