Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika mengenang masa-masa mondok, bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah kampung kecil tempat saya tumbuh menjadi diri yang lain; terkadang lebih keras, lebih lentur, kadang lebih rapuh, bahkan juga lebih kuat dari sebelumnya. Disana, suara tongkat rotan yang dipukul pelan ke tiang asrama menjelang tahajjud, menyambut alunan adzan subuh, aroma sejuk ubin masjid yang basah oleh wudhu dan sujud para santri, bibir yang selalu basah dengan dzikir, serta riuhnya kelakar dan tawa anak-anak jauh dari rumah menjadi bagian dari memori yang membentuk saya.

Dalam kenangan itu, ada romantika, ada adab, ada rasa hormat. Tetapi di saat yang sama, ada pula dinamika: benturan pertemanan, drama dormitory, hingga gesekan-gesekan kecil khas kehidupan komunal. Sebuah dunia yang membuat saya paham bahwa manusia memang sedang ditempa, kadang lewat keteladanan, kadang lewat pengalaman yang tidak selalu manis.

Kini, di tengah derasnya opini publik soal bullying di pesantren, saya sering termenung. Sebab sebagian dari apa yang saya lihat hari ini, sejujurnya tidak sepenuhnya salah, ada kasus yang memang harus dibongkar, diselesaikan, bahkan dihukum bila perlu. Namun sebagian lain terjadi karena orang luar tidak pernah benar-benar tinggal di pesantren, tidak pernah merasakan bagaimana hidup berhari-hari bersama ratusan teman sebaya dalam ruang terbatas, tidak pernah melihat bagaimana guru dan kiyai hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pengasuh yang memikul peran orang tua.

Saya masih ingat, bagaimana dulu seorang ustadz sering duduk larut malam bersama kami di serambi dan pelataran gazebo. Bukan untuk mengajari kitab, bukan pula untuk menegur, tapi sekadar memastikan tidak ada santri yang merasa sendiri. Dalam diamnya, ada pengasuhan. Dalam tegurannya yang pendek, ada bentuk cinta yang tidak terlalu pandai mengekspresikan diri. Dan dalam cara beliau menatap kami, ada rasa tanggung jawab yang tidak bisa dibeli oleh angka-angka pada gaji bulanan.

Di pesantren, guru itu bukan sekadar ‘guru’. Mereka adalah rumah kedua, tempat pulang ketika hati kami tersasar jauh dari keluarga. Kami memanggil mereka “ustadz”, tetapi sebenarnya kami sedang memanggil figur yang dalam tradisi kami disebut “murabbi”, pendidik jiwa, bukan sekadar penyambung sanad pelajaran.

Maka ketika ada isu kekerasan di pesantren, saya sering ingin berkata pada publik, bahwa pesantren bukan surga, bukan pula lembaga tanpa cacat. Tetapi ia juga bukan tempat gelap sebagaimana digambarkan sebagian opini yang hanya mengenal pesantren dari pemberitaan singkat beberapa detik di layar kaca. Pesantren itu rumah yang hidup, rumah yang diisi oleh ratusan anak muda yang sedang mencari bentuk dan jati dirinya.

Dan seperti rumah-rumah lain, kadang ada ribut kecil, kadang ada senior yang hilang arah memaknai kedewasaan, kadang ada aturan yang diterapkan dengan interpretasi keliru oleh beberapa oknum. Namun semua itu bukan sistem, identitas, apalagi karakter pesantren.

Yang saya rindukan justru adalah cara pesantren menjaga marwah-nya. Marwah itu bukan tentang gengsi, tetapi kewibawaan moral. Ia tampak ketika para santri saling merendah satu sama lain. Ketika teguran tidak lagi menjadi hukuman tetapi jadi tanda bahwa seseorang masih peduli, Ketika seorang senior membetulkan sarung juniornya agar rapi sebelum berangkat ke masjid. Ketika konflik diselesaikan dengan ishlah, dengan duduk bersama, sambil mendengar suara angin yang membawa aroma laut dari arah belakang pondok, aroma yang khas dimiliki pulau ini.

Marwah itu mengalir dari cara kiyai mengucap nasihat tanpa meninggikan suara. Dari cara guru memanggil nama kita dengan lembut ketika kita kesulitan. Dari cara para masyayikh selalu mengajarkan bahwa kesalahan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk diperbaiki dalam diam.

Di tempat semacam itu, kekerasan bukanlah tradisi. Ia adalah penyimpangan. Dan setiap penyimpangan selalu menyakitkan bagi pesantren, sebab ia meruntuhkan kehormatan spiritual yang dibangun berabad-abad.

Ketika saya melihat perdebatan hari ini, saya ingin sekali publik memahami bahwa pesantren telah lama memiliki cara tersendiri untuk mendidik, yang kadang tidak dipahami oleh kacamata sekolah umum. Di pesantren, relasi antara guru dan murid jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan akademik. Ia seperti hubungan keluarga; ada cinta, ada ketegasan, ada koreksi, ada sandaran.

Hidup di pesantren adalah belajar tentang batas. Batas antara bercanda dan menyakiti, antara menghormati dan menakuti, antara disiplin dan memaksa. Dan batas itu, jika keliru dipahami, bisa menimbulkan pemahaman yang bias. Karena itu, pesantren selalu memiliki cara unik untuk berbenah, bukan dengan membuang tradisinya, tetapi dengan menjaga, melestarikan, dan memulihkan nilai-nilai yang mungkin saja kikis tergerus arus modernitas yang terkesan bias terhadap tradisi salaf.

Saya percaya, jika kita kembali kepada ruhnya; kepada adab, kepada marwah, kepada cinta para guru, kepada teladan para kiyai, maka pesantren akan selalu menjadi tempat yang aman nan mendamaikan; tempat yang mendewasakan tanpa melukai, tempat di mana seorang anak dapat tumbuh, jatuh, bangun, belajar, marah, rindu, pulang, dan pada akhirnya menemukan dirinya.

Karena bagi kami yang pernah mondok, pesantren bukan hanya bangunan. Ia adalah pengalaman, kenangan, sekaligus rumah yang senantiasa dirindukan. Rumah, yang tentunya selalu punya cara untuk melindungi anak-anaknya (Lembang, 2025)