Tulisan ini berangkat dari percakapan saya dengan salah seorang santriwati yang merasa ragu ketika hendak mendaftar menjadi anggota JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh). Ada banyak kekhawatiran yang ia rasakan. Padatnya kegiatan, menumpuknya tugas hafalan pelajaran, tugas-tugas ekstrakurikuler, sampai kekhawatirannya tentang bagaimana jika target hafalannya kelak di JQH membuatnya tidak naik kelas.

Di lembaga TMI Al-Amien Prenduan, kegiatan santri memang sangatlah padat, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Namun, menurut hemat saya, kesibukan itu tidak menjadi halangan bagi anggota JQH untuk menyempatkan diri menghafal al-Qur’an.

Waktu atau padatnya kegiatan sebenarnya bukan alasan untuk berhenti mengejar impian. Justru dari kesibukan itulah kita bisa menemukan waktu-waktu kecil untuk menghafal. Menghafal al-Qur’an bukan soal menunggu waktu luang, tapi soal mau meluangkan waktu.

Saya sendiri tidak terlahir dari keluarga penghafal al-Qur’an, tetapi saya ingin memulainya dari diri saya—dan kelak semoga adik-adik saya pun mengikuti. Awalnya saya merasa menghafal itu sulit. Namun, ayat dalam surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40 menguatkan hati:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Ayat ini menegaskan bahwa Allah memudahkan siapa saja yang ingin menghafal, mempelajari, dan mengajarkan al-Qur’an.

Pernah saya menulis di mushaf dan buku-buku saya, “Selesaikan hafalan sebelum menjadi alumni TMI..!!”, dan qadarullah, ternyata Allah mengabulkan doa kecil itu. Bagi saya, al-Qur’an itu unik. Bukan kecerdasan yang membuat seseorang mampu menghafal, tapi justru al-Qur’an yang mencerdaskan penghafalnya.

Saat awal masuk kelas II, saya menempati kelas paling akhir—kelas II-I. Rasanya mustahil bisa menjadi anggota JQH karena mayoritas anggotanya berasal dari kelas A, B, atau C. Namun, ternyata nama saya tercantum di daftar anggota.

Menghafal di tengah kesibukan memang tidak mudah. Tapi saya menemukan bahwa kesempatan-kesempatan kecil justru menjadi waktu terbaik untuk menghafal. Dalam sehari, saya menargetkan menambah satu halaman hafalan baru.

Metode saya sederhana: membaca halaman tersebut tiga kali, lalu membaca terjemahnya. Jika ayatnya sulit, saya mengulang 70–100 kali. Jika mudah, cukup 30–50 kali. Menjelang setoran, saya mengulang hafalan tanpa melihat mushaf 1–5 kali, lalu meminta teman untuk menyimak. Setelah siap, barulah disetorkan kepada muhafidzah.

Bagi saya, modal menghafal adalah sabar, istiqamah, dan ikhlas. Di sela-sela kegiatan, saya memanfaatkan waktu seperti sebelum halaqah subuh, setelah salat subuh, menjelang kegiatan pagi, sebelum tabkier, sebelum guru masuk kelas, saat istirahat, atau sebelum kegiatan KOMDAS dimulai. JQH juga menyediakan waktu khusus bagi anggotanya untuk fokus menambah atau mengulang hafalan, dan itu sangat membantu.

Bimbingan dari para muhafidzah yang siap menyimak kapan saja menjadi dukungan besar. Dari interaksi yang terus-menerus dengan al-Qur’an, saya merasakan ketenangan dan perubahan pada hati—menjadi lebih lembut dan tenang.

“Kesibukan bukanlah tembok penghalang; penghalang sejati adalah kemauan yang enggan melangkah”