Kitab
Di setiap helai waktu yang retak,
kutemukan kitab terbaring sunyi—
baris-barisnya berkilau,
menyimpan rahasia hidup yang tak selesai.
Kala kubaca,
kata-kata menjelma doa,
menyelusup perlahan ke dalam dada,
hingga mataku terpejam
dan senja pun bersembunyi di ufuk.
Kulemaskan pelukan pada kitab itu,
tinta-tinta seakan berbisik,
air mataku jatuh tanpa suara,
menyapu debu yang lama bersarang.
Kubuka lembar demi lembar,
ayat-ayat berpendar bagai cahaya,
kubiarkan suaraku bergetar lirih,
dengan nada yang menembus sunyi malam.
—
Langit
Langit…
hamparan misteri yang tak terjelaskan,
awan-awan berarak bagai pesan rahasia,
hembusan angin menyimpan denting rahmat.
Ketenteraman membius jiwa,
namun biru yang tenang perlahan sirna,
berganti kelam yang menutupinya,
seakan menyembunyikan tangis semesta.
Tiba-tiba hujan mengetuk bumi,
butirannya bagai bisikan takdir,
kutelusuri derasnya jalan air,
seolah menuntun hati yang luka.
Oh langit…
kutitipkan resah pada lipatan awanmu,
hingga pelangi memecah sunyi,
mewarnai deras hujan hari itu.
—
Hujan
Hujan…
kau jatuh tanpa suara,
namun menusuk hati yang bimbang
antara bahagia dan kehilangan.
Aku berjalan di tepi malam,
rintikmu membasuh wajahku,
lalu lalang manusia kutatap bisu,
sementara waktu membeku di jalan basah.
Langkahku terseret tanpa arah,
iringanmu bagai simfoni muram,
membungkus tubuhku yang menggigil
dengan rahasia dingin yang tak kupahami.
Malam semakin sunyi,
hanya hujan yang berbicara,
di sanalah kisahku terikat,
antara aku, dan gemuruh rahasia langit.
—
Rindu yang Gugur
Rinduku…
kau tumbuh dalam gelap,
seperti bunga yang tak pernah mekar,
hanya tangis yang menyiraminya.
Kukunyah pedih perlahan-lahan,
meski hati kian terkoyak,
namamu terpatri di ruang terdalam,
membentuk rindu yang berduri.
Kucintai dirimu dalam diam,
dengan luka yang tak terobati,
melupakanmu hanyalah mimpi,
sedang waktu terus menertawakan.
Hari-hari berjalan tanpa wajahmu,
kubungkus sepi dengan selimut pasrah,
dan pada akhirnya…
aku ikhlaskan gugurnya rindu
ke tanah rahasia semesta.
*Puisi ini adalah karya Putri Wikasi, kelas III-F asal Sumenep.
