Kenangan Tak Terlupakan di TMI Selama Menjadi Santri

Menjadi santri di TMI Al-Amien Prenduan merupakan salah satu perjalanan yang sangat berarti dalam kehidupan saya. Ketika pertama kali menjadi santri, saya datang dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Saya bahkan belum mampu menulis tulisan Arab dengan baik, belum lancar mengaji, dan sebelumnya tidak banyak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pesantren. Jika mengingat masa itu, saya menyadari bahwa diri saya yang dahulu sangat berbeda dengan diri saya sekarang. Banyak hal yang pada awalnya terasa sulit, perlahan mulai saya pahami melalui proses pendidikan, pembiasaan, dan pengalaman selama menjadi santri. Bagi saya, menjadi santri bukan hanya tentang belajar ilmu agama di dalam kelas, tetapi juga tentang belajar menjalani kehidupan, belajar menghargai orang lain, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Pada awal masuk TMI Al-Amien, saya merasakan banyak sekali tantangan. Hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana justru menjadi sesuatu yang harus saya pelajari dari awal. Menulis huruf Arab, membaca Al-Qur’an, mengikuti kegiatan pesantren, berkomunikasi dengan orang lain, hingga menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru membutuhkan proses. Saya yang sebelumnya belum mengetahui banyak hal akhirnya harus berusaha mengikuti berbagai kegiatan dan aturan yang ada. Dari situlah saya mulai memahami bahwa pendidikan tidak selalu memberikan hasil secara instan. Ada proses panjang yang harus dijalani, ada kesalahan yang harus diperbaiki, dan ada rasa lelah yang harus dilewati. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan saya sebagai seorang santri.

Salah satu perubahan yang paling saya rasakan adalah keberanian untuk tampil di depan banyak orang. Sebelum menjadi santri, saya termasuk orang yang tidak percaya diri untuk berbicara atau tampil di hadapan orang banyak. Bahkan untuk sekadar menyampaikan sesuatu di depan orang lain terkadang masih merasa takut dan malu. Namun, kehidupan di TMI secara perlahan memaksa saya untuk keluar dari rasa takut tersebut. Berbagai kegiatan yang mengharuskan santri berbicara, menyampaikan pendapat, mengikuti kegiatan organisasi, dan tampil di depan umum menjadi latihan yang sangat berharga. Awalnya memang tidak mudah, tetapi karena terus dilakukan akhirnya rasa takut tersebut perlahan berkurang. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian tidak selalu muncul dengan sendirinya, tetapi dapat tumbuh karena seseorang mau mencoba dan membiasakan diri.

Semakin lama menjalani kehidupan sebagai santri, saya mulai memahami bahwa pesantren sebenarnya sedang mengajarkan banyak hal yang tidak semuanya tertulis di dalam buku pelajaran. Salah satunya adalah pentingnya peran dalam kehidupan. Setiap orang mempunyai peran masing-masing, baik sebagai seorang pelajar, teman, anggota masyarakat, maupun sebagai seseorang yang kelak akan memberikan manfaat kepada orang lain. Di TMI Al-Amien, saya belajar bahwa menjadi seseorang yang berilmu saja belum cukup. Ilmu harus disertai dengan tanggung jawab dan kemauan untuk mengamalkannya. Dari sinilah saya mulai menyadari bahwa keberadaan seseorang akan lebih berarti apabila dirinya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Hal lain yang sangat membekas dalam perjalanan saya adalah ketika mendapatkan pembelajaran tentang penelitian pada masa kelas akhir. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang santri akan diarahkan untuk melakukan penelitian dan mengamati berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Namun, pengalaman tersebut justru membuka wawasan saya. Saya mulai belajar melihat sebuah persoalan tidak hanya dari apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga berusaha mencari penyebab, memahami keadaan, dan memikirkan kemungkinan solusi. Penelitian mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Dari sana saya memahami bahwa ilmu yang dipelajari di pesantren seharusnya tidak berhenti di dalam kelas, tetapi dapat digunakan untuk membaca realitas kehidupan.

Pengalaman yang semakin berkesan bagi saya adalah ketika santri kelas akhir diberikan kesempatan untuk mengembangkan atau memberikan kontribusi kepada lembaga yang berada di daerah terpencil. Pada saat itu, muncul pertanyaan dalam diri saya: “Apa yang sebenarnya bisa saya bawa dan berikan kepada mereka?” Saya sempat berpikir bahwa mungkin saya harus membawa sesuatu yang besar, sesuatu yang terlihat, atau sesuatu yang secara materi dapat langsung membantu. Namun, setelah menjalani proses tersebut, saya menyadari bahwa tidak selamanya kontribusi harus berupa barang atau sesuatu yang mahal. Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi memiliki nilai yang sangat besar, yaitu adab dan sopan santun.

Bagi saya, adab dan sopan santun menjadi salah satu bekal terpenting yang saya dapatkan selama menjadi santri di TMI Al-Amien. Ketika berada di tengah masyarakat, saya belajar bahwa cara kita bersikap sering kali lebih dahulu dinilai daripada seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Cara menghormati orang yang lebih tua, cara berbicara kepada orang lain, cara menerima perbedaan, dan cara menempatkan diri di tengah masyarakat merupakan bagian dari pendidikan yang sangat berharga. Saya akhirnya memahami bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan maknanya. Sebaliknya, adab yang baik dapat menjadi pintu bagi seseorang untuk diterima dan dihargai oleh orang lain. Inilah salah satu pelajaran yang menurut saya sangat melekat dalam diri saya hingga sekarang.

Ketika berada di lembaga terpencil tersebut, saya juga mendapatkan pelajaran tentang kehidupan yang tidak bisa saya peroleh hanya melalui teori. Saya melihat bahwa setiap tempat mempunyai tantangan dan keadaan yang berbeda. Ada lembaga yang mungkin memiliki keterbatasan fasilitas, tetapi tetap mempunyai semangat untuk mendidik dan belajar. Dari situ saya belajar untuk tidak mudah mengeluh atas keadaan yang saya miliki. Saya mulai memahami bahwa terkadang kita terlalu sibuk melihat apa yang tidak kita punya, padahal masih banyak hal yang dapat kita syukuri. Pengalaman tersebut membuat saya lebih menghargai proses pendidikan dan semakin menyadari bahwa kesempatan untuk belajar merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Jika saya melihat kembali perjalanan dari awal menjadi santri hingga berada di kelas akhir, perubahan yang terjadi bukan hanya perubahan dalam kemampuan akademik. Saya yang dahulu tidak bisa menulis Arab dengan baik dan belum memahami banyak hal tentang mengaji, perlahan mendapatkan kemampuan dan pengalaman baru. Saya yang dahulu tidak percaya diri tampil di depan banyak orang, akhirnya berani berbicara dan mengambil peran. Saya yang sebelumnya mungkin berpikir bahwa pendidikan hanya berkaitan dengan pelajaran, akhirnya memahami bahwa pendidikan juga berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian kepada sesama. Perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu atau dua hari. Semuanya lahir dari kebiasaan, kedisiplinan, pengalaman, serta proses panjang selama menjadi santri.

Kenangan selama menjadi santri tentu tidak semuanya berupa pengalaman yang mudah. Ada masa ketika merasa lelah, ada saat merasa kesulitan mengikuti kegiatan, dan ada pula keadaan yang membuat ingin menyerah. Namun, justru dari berbagai kesulitan itulah saya mendapatkan pelajaran. Saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang seseorang harus melewati keadaan yang tidak nyaman terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Jika pada saat itu saya hanya melihat kesulitan tanpa memahami prosesnya, mungkin saya tidak akan menyadari betapa besar manfaat yang saya dapatkan dari kehidupan pesantren. Kini, ketika melihat kembali perjalanan tersebut, saya justru merasa bahwa berbagai kesulitan itu merupakan bagian dari kenangan yang tidak terlupakan.

Bagi saya, TMI Al-Amien bukan hanya sebuah tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga tempat yang ikut membentuk cara saya memandang kehidupan. Di sana saya belajar bahwa menjadi manusia yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki pengetahuan. Seseorang harus mampu membawa ilmu tersebut dalam kehidupan nyata. Keberanian yang saya dapatkan harus digunakan untuk menyampaikan kebaikan. Ilmu yang dipelajari harus dapat memberikan manfaat. Dan yang paling penting, semua itu harus berjalan bersama adab dan akhlak. Pengalaman menjadi santri membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengubah seseorang, bukan hanya dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi juga dari tidak peduli menjadi peduli dan dari tidak berani menjadi berani mengambil peran.

Pada akhirnya, kenangan saya selama menjadi santri di TMI Al-Amien adalah sebuah perjalanan yang tidak akan mudah dilupakan. Saya datang sebagai seseorang yang belum bisa menulis Arab dengan baik, belum lancar mengaji, dan belum memiliki keberanian untuk tampil di depan banyak orang. Namun, melalui proses pendidikan dan pengalaman yang saya jalani, sedikit demi sedikit saya mengalami perubahan. Saya belajar ilmu, belajar penelitian, belajar berkomunikasi, belajar mengambil peran, dan yang paling utama belajar tentang adab serta sopan santun. Ketika suatu saat saya ditanya apa yang saya bawa dari pesantren, mungkin jawaban saya bukanlah sesuatu yang mewah atau besar. Saya akan mengatakan bahwa saya membawa ilmu, pengalaman, keberanian, dan terutama adab yang saya dapatkan selama menjadi santri. Karena bagi saya, itulah bekal yang akan terus saya bawa dalam menjalani kehidupan setelah meninggalkan pesantren.