Ketika al-Futūr Menyapa: Pulang ke Al-Amien, Menemukan Kembali Arah (Bagian 1)

Perjalanan menuntut ilmu kadang membuat kita begitu sibuk berjalan hingga lupa bertanya: sebenarnya, ke mana arah perjalanan ini menuju? Pertanyaan itu muncul begitu saja pada suatu malam di Kota Buraidah, Arab Saudi, di tengah kesibukan saya menempuh program doktoral di Qassim University.

Saya lelah, untuk apa semua ini?

Saya tidak sedang ingin berhenti. Saya hanya ingin mengambil jeda sejenak, untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, untuk apa semua yang selama ini saya jalani?”

Allah Swt. telah memberi saya nikmat untuk berhijrah menuntut ilmu setelah menuntaskan TMI dan Sarjana di IDIA (UNIA sekarang) dan melanjutkan rihlah akademik melalui program magister dan Doktoral Tarbiyah di Kerajaan Arab Saudi. Alhamdulillāhi ‘alā kulli ḥāl.

Namun, dalam sepuluh bulan terakhir, kesibukan itu perlahan terasa seperti rangkaian pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ruang kelas, tumpukan tugas, buku dan jurnal, riuh diskusi akademik, proposal riset, hingga persiapan disertasi terus menunggu untuk dituntaskan.

Hari berganti hari. Raga tetap berjalan. Laptop tetap terbuka. Jurnal tetap dibaca. Kitab dan buku tetap terbentang di meja. Tetapi ada sesuatu yang berubah: Saya mulai kehilangan daya untuk menikmati semuanya.

Pada beberapa malam di tanah Najd yang kering dan sunyi, saya seperti dipaksa bercermin kepada diri sendiri. Di tengah kesunyian itu, muncul pengakuan yang sebelumnya enggan saya ucapkan: “Saya lelah”. Dan pertanyaan berikutnya terasa lebih berat: “Untuk apa semua ini?”.

Untuk apa mengejar gelar doktor? Untuk apa bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga dan tanah air? Untuk apa membaca puluhan hingga ratusan kitab, menelaah ribuan halaman, dan menulis berlembar-lembar gagasan jika pada akhirnya hati justru merasa semakin jauh dari makna ilmu itu sendiri?

Mungkin, dalam bahasa psikologi kontemporer, pengalaman seperti ini disebut burnout. Dalam khazanah keislaman, saya menemukan istilah al-futūr: melemahnya semangat setelah sebelumnya berada dalam keadaan penuh gairah.

Saya tidak bermaksud menyamakan keduanya. Namun istilah al-futūr membantu saya memahami bahwa melemahnya semangat bukanlah pengalaman yang sama sekali asing dalam kehidupan seorang penuntut ilmu. Dan dari sana, saya mulai memahami satu hal sederhana: Lelah tidak selalu berarti gagal.

Ketika Hati Butuh Beristirahat

Semakin saya menyelami tradisi keilmuan Islam, semakin saya menyadari bahwa manusia memang memiliki batas. Semangat tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada saatnya hati bergelora, ada saatnya ia meredup, dan ada waktunya ia membutuhkan jeda untuk kembali menemukan keseimbangan.

Ada sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Alī ibn Abī Ṭālib r.a. yang terasa dekat dengan keadaan seorang penuntut ilmu yang sedang mengalami kejenuhan:

إنَّ هَذِهِ القُلُوبَ تَمَلُّ كَمَا تَمَلُّ الأَبْدَانُ، فَابْتَغُوا لَهَا طَرَائِفَ الحِكْمَةِ

“Sesungguhnya hati ini bisa merasa jenuh sebagaimana tubuh mengalami kelelahan. Maka carilah untuknya keindahan-keindahan hikmah.” (Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi)

Ungkapan itu mengingatkan saya bahwa ketika semangat melemah, yang dibutuhkan tidak selalu jalan baru. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, mengambil jarak, lalu kembali mengingat mengapa dahulu kita memilih jalan itu.

Hati membutuhkan ruang untuk bernapas. Kadang ia membutuhkan suasana yang memulihkan, percakapan yang menenangkan, doa yang dilangitkan lebih panjang, atau sekadar kembali menengok titik awal yang dahulu membuat kita jatuh cinta kepada ilmu. Bagi saya saat itu, “keindahan hikmah” itu hadir dalam satu kata: pulang.

Pulang ke Al-Amien

Setelah sekitar sepuluh tahun tidak berkunjung, pada akhir Juli 2026 saya memutuskan untuk kembali ke Al-Amien Prenduan.

Saya tidak pulang untuk sekadar menghabiskan masa liburan. Saya kembali ke tempat yang secara geografis telah lama saya tinggalkan, tetapi secara batin ternyata tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali ke tempat ia pernah ditempa, diasah, diasuh, dan diasih. Tanahnya mungkin masih sama. Sebagian bangunan telah berubah, sebagian lainnya masih menyimpan wajah lama. Lorong-lorong yang dahulu saya lewati sebagai santri kembali menghadirkan ingatan yang sama. Bedanya, orang yang kini melangkah di atasnya bukan lagi santri yang dahulu.

Saya datang sebagai seseorang yang telah menempuh perjalanan panjang, melewati berbagai ruang pendidikan, pekerjaan, perantauan, dan pergulatan hidup.

Namun anehnya, justru di tempat itulah saya kembali merasa sebagai seorang santri biasa. Mungkin karena pesantren bukan sekadar tempat yang pernah kita tinggali. Bagi saya, Al-Amien Prenduan adalah salah satu ruang pertama tempat cara saya memandang kehidupan dibentuk.

Di Bumi Jauhari Prenduan, sebutan yang akrab bagi para santri dan alumni untuk kompleks pesantren ini, saya kembali menyaksikan para santri berjalan menuju kelas. Saya mendengar laras suara yang dahulu begitu akrab, melihat rutinitas yang dulu terasa biasa, bahkan kadang melelahkan. Saya juga kembali menyantap hidangan dapur santri yang sederhana.

Hal-hal yang dahulu tampak biasa itu, setelah bertahun-tahun berada jauh di perantauan, tiba-tiba terasa berbeda. Mungkin karena jarak mengubah cara kita memandang sesuatu.

Dulu, ada kalanya kita ingin segera menyelesaikan rutinitas pesantren dan melangkah keluar. Kini, setelah melangkah sejauh ini, justru sebagian dari rutinitas itulah yang terasa paling dirindukan. Begitulah kehidupan. Sering kali kita baru memahami nilai sebuah rumah setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Bahkan setelah berada nun jauh di seberang benua, di Kerajaan Arab Saudi, saya justru semakin menyadari bahwa sebagian dari diri saya ternyata masih tinggal di Prenduan. Karena itu, pulang ke Al-Amien bagi saya bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah sebuah ziyārah rūḥiyyah, perjalanan batin untuk menemui kembali bagian dari diri yang pernah tumbuh di sana.

Menemui Kembali Para Guru

Di tempat itu, ingatan saya kembali tertuju kepada para pendiri dan pengasuh yang telah membentuk kami: Almarhum KH. Moh. Tidjani Jauhari, KH. Muhammad Idris Jauhari, dan KH. Maktum Jauhari rahimahumullāh, beserta para kiai dan asatidz yang telah mendidik kami.

Semakin jauh saya melangkah, semakin saya menyadari bahwa pendidikan yang dahulu kami terima melalui apa yang saya kenang sebagai “kurikulum kehidupan 24 jam” ternyata jauh lebih besar daripada sekadar pelajaran di dalam ruang kelas.

Kami memang belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, fikih, usul fikih, tafsir, hadis, adab, dan berbagai disiplin ilmu. Namun hari ini saya melihat kembali bahwa banyak pelajaran penting justru berlangsung di luar buku.

Kami belajar disiplin sebelum sepenuhnya memahami mengapa disiplin itu penting. Kami belajar ikhlas meskipun belum tentu mampu menjalankannya dengan sempurna. Kami belajar berkhidmat ketika dunia luar sering kali mengajarkan manusia untuk lebih sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Kami belajar hidup bersama orang lain, mengatur waktu, menerima aturan, menghadapi keterbatasan, dan menyelesaikan persoalan. Dulu, semua itu mungkin hanya terasa sebagai bagian dari kehidupan santri. Kini saya melihatnya dengan cara berbeda.

Ternyata pesantren sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sekadar materi pelajaran: bagaimana menjadi manusia yang hidupnya memiliki arah.

Ketika Alumni Kembali Berbagi

Pertemuan dengan para kiai dan asatidz ternyata menghadirkan kejutan kecil yang tidak saya rencanakan. Dalam suasana silaturahmi dan obrolan yang awalnya sederhana, saya justru secara spontan diminta untuk berbagi motivasi kepada para santri, khususnya tentang bahasa Arab.

Saya mengisinya di hadapan santri kelas A Marhalah Aliyah, para santri yang, sejauh yang saya lihat, termasuk mereka yang memiliki kemampuan akademik cukup menonjol di angkatannya.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang yang dahulu duduk sebagai santri, bertahun-tahun kemudian kembali ke tempat yang sama dan diminta berdiri di hadapan generasi setelahnya.

Saya datang ke Al-Amien dengan membawa kegelisahan tentang perjalanan ilmu saya sendiri. Namun tanpa banyak saya sadari, kepulangan itu justru membawa saya kembali kepada posisi seorang yang berbagi ilmu.

Di hadapan mereka, saya berbicara tentang bahasa Arab dan perjalanan akademik yang membawa saya sampai ke Arab Saudi. Saya kemudian bercerita tentang satu hal yang bagi saya memiliki makna tersendiri, ketika menjadi santri dahulu, saya tidak memilih kompetensi Dirosat al-Islamiyah wal ‘Arobiyah (DIA).

Namun, Allah Swt. justru membuka jalan bagi saya untuk belajar di Arab Saudi. Jalan yang saya tempuh ternyata tidak sepenuhnya seperti yang mungkin saya bayangkan ketika masih menjadi santri. Karena itu, pesan yang ingin saya sampaikan kepada mereka sederhana: Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan seluruh masa depan kita.

Pilihan kompetensi, bidang studi, atau jalan pendidikan memang penting. Tetapi perjalanan seseorang tidak selalu dapat dipetakan sejak awal. Ada pintu yang baru terbuka setelah kita melewati pintu yang lain. Ada kesempatan yang datang dari arah yang tidak pernah kita perkirakan. Pengalaman saya sendiri menjadi salah satu contohnya. Saya tidak memilih DIA. Tetapi pada akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Arab Saudi.

Bertahun-tahun setelah meninggalkan pesantren, saya kembali ke tempat yang sama dan berbicara kepada para santri tentang bahasa Arab, bahasa yang dahulu menjadi bagian dari keseharian kami di pesantren, dan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik saya.

Saya ingin mereka memahami bahwa masa depan belum selesai ditulis. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kuasai bahasa. Bangun kemampuan. Jaga adab. Dan teruslah membuka pintu kemungkinan. Kita tidak pernah benar-benar tahu, dari pintu mana Allah Swt. akan membawa kita menuju tempat yang telah Dia siapkan.

Setelah sesi motivasi itu, muncul beberapa pertanyaan dari para santri. Salah satunya sangat praktis: “Apa saja syarat untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Arab Saudi?” Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu.

Di hadapan saya adalah para santri yang sedang berada pada salah satu fase penting dalam menentukan masa depan. Mereka mulai bertanya tentang kuliah, beasiswa, bahasa Arab, dan kemungkinan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Saya pun berbagi pengalaman sebatas yang saya ketahui. Saya menjelaskan bahwa kesempatan studi di Arab Saudi tersedia dalam berbagai bidang, meskipun pilihan program dan persyaratannya bergantung pada universitas, jenjang, dan program studi yang dituju.

Tetapi di balik pertanyaan tentang syarat beasiswa itu, saya menangkap sesuatu yang lebih besar. Mereka sedang bertanya tentang kemungkinan. Mungkinkah seorang santri Al-Amien belajar di Arab Saudi? Mungkinkah bahasa Arab yang mereka pelajari hari ini kelak membawa mereka ke tempat yang belum pernah mereka bayangkan? Mungkinkah pilihan yang mereka ambil sekarang tidak menjadi batas, tetapi justru menjadi salah satu jalan menuju masa depan? Saya melihat diri saya sendiri pada pertanyaan-pertanyaan itu.

Dulu, saya juga adalah santri yang belum tahu akan ke mana perjalanan ini membawa saya. Saya tidak memilih DIA. Saya tidak pernah menyusun peta perjalanan yang secara pasti akan berujung di Arab Saudi. Namun ternyata Allah Swt. memiliki jalan yang berbeda.

Dan hari itu, bertahun-tahun setelah saya meninggalkan pesantren, saya berdiri di hadapan para santri bukan hanya untuk berbicara tentang bahasa Arab, tetapi juga untuk menjadi semacam bukti hidup bahwa jalan ilmu tidak selalu dapat kita tebak sejak awal. Di titik itu saya merasakan sesuatu yang lain.

Saya datang ke Al-Amien karena sedang mencari kembali arah untuk diri sendiri. Tetapi tanpa saya rencanakan, saya justru diminta berdiri di hadapan para santri dan berbicara tentang kemungkinan arah bagi masa depan mereka.

Barangkali, di situlah saya mulai memahami sesuatu tentang khidmah. Ilmu yang kita terima dari guru tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Pada suatu saat, ia harus menemukan jalan untuk kembali kepada orang lain. Dan mungkin, inilah salah satu cara sederhana memahami makna Munḏirul Qaum.

Antara Degree dan Direction

Barangkali, di sinilah saya menemukan kembali persoalan yang sebenarnya. Selama perjalanan akademik, saya terlalu sibuk memikirkan degree (gelar) hingga perlahan lupa pada direction (arah).

Saya terlalu larut memikirkan disertasi hingga lupa untuk apa ilmu itu dahulu saya cari. Saya terlalu sibuk mengejar pencapaian akademik hingga hampir lupa bahwa ilmu memiliki tanggung jawab sosial dan moral. Padahal, dahulu di pesantren kami belajar bukan hanya agar menjadi pintar. Kami belajar agar ilmu itu kelak memiliki manfaat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul kembali ketika saya berada di Al-Amien Prenduan. Sayup-sayup bait “Hymne Oh Pondokku” dan alunan “Hymne Al-Amien Prenduan” kembali bergaung di relung dada. Dulu, lagu-lagu itu mungkin hanya bagian dari kehidupan santri.

Kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren, saya mendengarnya dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar nostalgia. Ada sesuatu yang terasa seperti sedang diingatkan kembali: “Mengapa dahulu saya memilih jalan ilmu?”. Mungkin, yang saya butuhkan bukan jalan baru. Saya hanya perlu kembali mengingat arah.

Saya perlu menata ulang niat, bukan untuk menghapus perjalanan yang telah ditempuh dan bukan pula untuk meninggalkan cita-cita akademik, tetapi untuk memastikan bahwa perjalanan panjang itu tetap menuju tujuan yang benar.

Di situlah tajdīd an-niyyah (pembaruan niat) menjadi penting. Gelar doktor tetap harus diselesaikan. Disertasi tetap harus ditulis. Buku dan jurnal tetap harus dibaca. Riset tetap harus dikerjakan. Tetapi semuanya perlu ditempatkan kembali pada proporsinya. Degree adalah bagian dari perjalanan. Direction menentukan ke mana perjalanan itu bermuara.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya mulai memahami kembali mengapa dahulu Al-Amien Prenduan mengajarkan kami untuk menjadi Munḏirul Qaum. Bukan sekadar menjadi orang yang berilmu, tetapi menjadi manusia yang membawa kemanfaatan ilmu kepada masyarakat.

Menemukan arah ternyata baru permulaan. Niat saja belum cukup. Ada pertanyaan yang lebih konkret menanti: setelah pulang dan menemukan kembali arah itu, bagaimana membawanya kembali ke Buraidah: ke ruang kelas, ke lembar-lembar disertasi, dan ke kehidupan sehari-hari seorang penuntut ilmu yang tetap harus menyelesaikan apa yang telah dimulai?

Mungkin, pulang bukan berarti kembali ke masa lalu. Pulang adalah kembali menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan. Itulah yang akan saya ceritakan pada bagian selanjutnya.

(Bersambung ke Bagian 2)