
Ada guru yang kita ingat karena ilmunya. Ada guru yang kita ingat karena ketegasannya. Namun ada juga guru yang tetap hidup dalam ingatan karena kebaikannya yang sederhana.
Waktu memang pandai membawa banyak hal pergi. Ia menghapus nama-nama pelajaran yang pernah memenuhi buku catatan, mengaburkan rumus-rumus yang dahulu dihafal mati-matian, bahkan membuat kita lupa pada banyak peristiwa yang pernah dianggap penting. Namun anehnya, ada beberapa kenangan yang justru semakin jelas seiring bertambahnya usia.
Bagi saya, salah satu kenangan itu berawal dari sebuah gardu kecil di tepi wartel lama. Tempat yang mungkin kini sudah berubah, atau bahkan tidak lagi ada. Tetapi di sanalah saya menerima sebuah hadiah yang tidak dibungkus kertas, tidak bisa disimpan di lemari, dan tidak akan pernah usang dimakan waktu.
Tulisan ini adalah tentang sebuah sore yang biasa saja. Tentang sebuah gardu di tepi wartel. Dan tentang hadiah kecil dari almarhum KH. Zainullah Ro’is yang sampai hari ini masih saya bawa dalam perjalanan hidup. Ceritanya begini;
Suatu sore, saya menghampiri almarhum KH. Zainullah Ro’is yang sedang mengaji di sebuah gardu kecil di samping wartel lama. Saat itu saya datang dengan satu pertanyaan tentang pelajaran aqoid yang belum saya pahami. Beliau kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana. Jujur saja, kalau ditanya sekarang apa materi aqoid yang beliau jelaskan sore itu, saya sudah tidak ingat lagi. Mungkin sebagian besar penjelasannya sudah hilang dari ingatan saya.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah hilang. Saya masih ingat senyum beliau. Saya masih ingat bagaimana beliau mengucapkan, “Terima kasih sudah berani bertanya”. Kalimat itu terdengar biasa saja. Sangat sederhana. Mungkin bagi beliau itu hanya ucapan spontan yang terlontar begitu saja. Namun bagi saya, kalimat itu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Hari itu saya belajar bahwa bertanya bukanlah tanda kebodohan. Bertanya adalah tanda keberanian. Sejak saat itu, perlahan pola pikir saya berubah. Saya menjadi lebih berani mengangkat tangan, lebih berani mengakui bahwa saya tidak tahu, dan lebih berani mencari jawaban.
Sampai hari ini, kebiasaan untuk bertanya masih saya pegang. Bahkan jika ada sedikit keberhasilan yang saya raih sekarang, saya yakin salah satu penyebabnya adalah karena saya tidak malu untuk bertanya ketika tidak mengerti.
Aneh memang. Saya lupa pelajarannya, tetapi saya mengingat senyumnya. Saya lupa materinya, tetapi saya mengingat penghargaan yang beliau berikan kepada seorang santri yang hanya datang membawa satu pertanyaan sederhana.
Mungkin memang begitulah guru yang hebat. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan semangat untuk terus belajar yang akan hidup jauh lebih lama daripada materi pelajaran itu sendiri.
Teruntuk semua guru-guru kami, I wanna say “A student’s love for a teacher is often silent, carried not by words, but by prayers that never cease.”
