Kalah

Man lam yadzuq murro at-ta‘allumi sā‘atan, tajarra‘a dzulla al-jahli ṭūla ḥayātihi.

“Siapa yang tidak sanggup menahan pahitnya belajar sesaat, akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidup.”

— Muḥammad bin Idrīs asy-Syāfi‘ī, Dīwān asy-Syāfi‘ī.

Kutipan Imam Syāfi‘ī di atas sebenarnya sedang bicara tentang dua jenis “pahit” yang sangat berbeda: pahit yang sesaat dan pahit yang seumur hidup. Piala Dunia 2026 kebetulan menghadirkan kisah yang mungkin terlihat pahit, yang menggambarkan perbedaan itu dengan sangat gamblang.

Vozinha, Tanjung Verde, dan Kalah yang Terhormat

Tanjung Verde (Cabo Verde) adalah negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat, berpenduduk hanya sekitar 500-600 ribu jiwa, kira-kira setengah penduduk Sumenep. Piala Dunia 2026 adalah penampilan pertama mereka di putaran final sepanjang sejarah, tergabung di Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, tiga nama yang di atas kertas tak seharusnya memberi ruang bagi debutan mana pun.

Lalu terjadi sesuatu yang membuat dunia tercengang. Dalam laga perdana, Tanjung Verde menahan juara Eropa, Spanyol, tanpa gol. Meski hanya menguasai sedikit bola dan terus ditekan, pertahanan disiplin yang dipimpin kiper veteran Vozinha berhasil menggagalkan 27 percobaan Spanyol! Vozinha sendiri adalah kiper berusia 40 tahun yang telah berkarier di lima negara sejak usia 25 tahun, pernah berpikir untuk berhenti, tapi bertahan karena satu mimpi: agar sang ibu bisa melihatnya bermain di Piala Dunia. Mimpi itu terwujud.

Kisahnya tak berhenti di sana. Tanjung Verde lolos ke babak 32 besar, menghadapi Argentina, juara bertahan dan tim nomor satu dunia. Dalam laga yang berlanjut hingga babak tambahan waktu, mereka memaksa Argentina bersusah payah selama 120 menit penuh, dua kali tertinggal dan dua kali menyamakan kedudukan, sebelum akhirnya kalah tipis 3-2 karena gol bunuh diri di menit ke-111. Ketika peluit panjang berbunyi dan para pemain berjatuhan di lapangan, Vozinha berjalan dari satu pemain ke pemain lain, mengangkat mereka satu per satu berdiri kembali.

Setelah pertandingan itu, menyebar satu kalimat di seluruh media sosial: “If you lose, lose like Cape Verde.” Fenomena ini terjadi karena orang-orang tidak hanya menghargai kemenangan, tapi mungkin lebih dalam, menghargai perjuangan. Akhirnya Tanjung Verde tidak pulang membawa trofi, tapi membawa sesuatu yang lebih langka: kehormatan dan pelajaran yang akan dikenang lebih lama dari skor akhir mana pun.

Hazama dan Khusr: Dua Kata untuk Dua Jenis Kekalahan

Bahasa Arab memiliki kosakata untuk membedakan dua makna kekalahan. Ada kata hazama (هَزَمَ) dan khusr (خُسْر). Keduanya sama-sama dapat berkaitan dengan “kalah” atau “rugi”, tetapi maknanya tidak sama.

Hazama berarti dikalahkan atau mengalami kekalahan dalam suatu pertarungan, pertandingan, atau persaingan. Kekalahan ini bersifat situasional: seseorang bisa kalah hari ini, tetapi menang di kesempatan berikutnya.

Sebaliknya, khusr, yang berasal dari akar kata khasara, berarti mengalami kerugian yang mendasar, kehilangan sesuatu yang bernilai, atau berada dalam keadaan merugi secara hakiki. Makna ini tidak sekadar menunjuk pada kekalahan sesaat, melainkan pada kerugian yang berkelanjutan jika tidak segera diperbaiki.

Karena itu, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Aṣr: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam khusr (kerugian), kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Ayat ini tidak mengatakan bahwa manusia sedang “kalah”, melainkan berada dalam keadaan khusr (merugi) dalam arti yang lebih dalam daripada sekadar mengalami kekalahan sesaat. Seseorang benar-benar mengalami khusr ketika ia berhenti belajar, kehilangan harapan, dan enggan memperbaiki diri, sehingga kerugian itu terus berlanjut.

Di sinilah kutipan Imam Syafi’i di awal tulisan ini menemukan maknanya. “Pahitnya belajar sesaat pahit sesaat ini mendekati makna kata hazama, kekalahan atau kesulitan yang sifatnya sementara: menahan kantuk saat mengaji, gagal dalam ujian, tidak kerasan rindu rumah, gagal kalah dalam satu perlombaan. Semua itu pahit, tapi berlalu, sebagaimana Tanjung Verde kalah dari Argentina lalu pulang dengan kepala tegak.

Adapun “Hinanya kebodohan sepanjang hidup adalah gambaran khusr, bukan kekalahan dalam satu momen, melainkan kerugian yang menetap karena seseorang memilih berhenti, menyerah, dan tidak lagi mau memperbaiki diri. Itulah kekalahan yang sesungguhnya yang harus dihindari seorang santri: bukan nilai yang rendah, bukan gagal dalam satu ujian, melainkan berhentinya usaha untuk belajar dan menjadi lebih baik.

Tiga legenda sepak bola dunia mengalami hal serupa di turnamen ini: Cristiano Ronaldo, di usia 41 tahun dan mengaku ini Piala Dunia terakhirnya, harus tersingkir di babak 16 besar bersama Portugal, tanpa pernah meraih trofi yang paling ia idamkan sepanjang karier. Luka Modric, kapten Kroasia berusia 40 tahun yang pernah membawa timnya ke final 2018, kali ini tersingkir lebih awal di babak 32 besar, kemungkinan besar tahun ini penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Neymar, andalan Brasil lebih dari satu dekade, tersingkir di babak 16 besar dan langsung mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional, tanpa pernah menjadi juara dunia.

Saya meyakini ketiganya hanya mengalami hazama, kekalahan sesaat dalam pertandingan atau turnamen. Tapi tak satu pun dari mereka mengalami khusr, karena dedikasi dan cara mereka berjuang hingga titik terakhir akan tetap dikenang, terlepas dari hasil akhir di papan skor.

Kembali ke Pondok dengan Kāffah

Berbeda dengan zaman kami nyantri dulu yang baru bisa menonton bareng Piala Dunia saat babak final, tahun ini santri bisa menikmati pertandingan-pertandingan puncak Piala Dunia saat berlibur Liburan Pertengahan Tahun. Tapi liburan pasti berakhir dan akan tiba waktunya untuk kembali ke pondok. Ada yang kembali dengan semangat baru, tapi ada juga yang berat hati: membayangkan target pelajaran yang harus dikejar, aturan yang harus dijalani kembali, rutinitas yang beratnya sudah terasa bahkan sebelum benar-benar kembali. Itu semua normal. Yang tidak normal adalah menyerah sebelum mencoba!

Maka, kembalilah ke pondok dengan kāffah, dengan kesungguhan yang utuh, bukan setengah hati. Dan kesungguhan itu perlu diterjemahkan menjadi hal-hal yang konkret, bukan sekadar semangat yang menguap dalam sepekan pertama. Niat itu perlu diperbarui secara tertulis, bukan hanya dalam hati, tulis target yang ingin diraih semester ini, bukan sekadar “ingin lebih baik.” Target itu juga perlu terukur, agar ada patokan jelas untuk mengevaluasi diri, bukan menunggu ujian akhir untuk sadar bahwa target meleset jauh.

Kesungguhan yang sebenarnya juga tidak menunggu mood datang, pahit memang, tapi harus ditelan, karena terkadang semangat setelah liburan biasanya hanya bertahan beberapa hari jika kita tidak bisa memaksa diri kita sendiri. Semua itu perlu dijaga, misalnya evaluasi mingguan yang sederhana, satu-dua menit menjelang tidur untuk bertanya pada diri sendiri: adakah target pekan ini yang tidak tercapai, dan apa yang akan dilakukan berbeda pekan depan.

Jika ada yang merasa berat karena membayangkan apa yang akan dihadapi di pondok nanti, yakinlah bahwa perjuangan yang sudah ditempuh sejauh ini adalah bukti bahwa tahapan-tahapan selanjutnya pasti bisa dilalui. Setelah mampu bertahun-tahun menahan rindu rumah, menahan kantuk saat mengaji, menahan lelah saat belajar, yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya, pasti bisa untuk diselesaikan hingga tuntas, dengan husnul khotimah hingga lulus.

Mungkin ada yang merasa belum pernah berprestasi. Nilai akademik masih pas-pasan, belum pernah menang lomba, belum pernah menjadi yang terbaik di kelas atau di angkatan. Yakinlah, itu bukan kekalahan yang sesungguhnya, selagi masih terus belajar dan berjuang. Nilai yang biasa-biasa saja hanyalah hazama, kekalahan sesaat dalam satu momen, bukan khusr yang menyeluruh dalam hidup.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang cerdas adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. (HR. Tirmidzi). Yakinlah bahwa santri yang nilainya pas-pasan tapi terus mau introspeksi apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya, sedang menjalani proses yang lebih mulia daripada santri yang nilainya tinggi tapi tidak pernah tahu mengapa ia bisa mencapainya.

Pelajaran paling berharga dalam menyikapi kekalahan juga datang dari sirah Rasulullah SAW: Kekalahan dalam Perang Uhud, tampak sebagai kegagalan di mata orang luar, tapi ternyata menjadi pintu kemenangan yang jauh lebih besar. Di Uhud, sekitar tujuh puluh sahabat gugur dan Rasulullah SAW sendiri terluka, namun beliau tidak tenggelam dalam penyesalan, tidak membubarkan pasukan, dan tetap berlaku lemah lembut kepada mereka yang bersalah. Keimanan seseorang tidak diukur dari apakah ia selalu menang, tapi bagaimana ia bersikap ketika kalah.

Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya apabila kamu beriman. (QS. Āli ‘Imrān: 139). Juga: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirāḥ: 5-6).

Tidak semua orang menjadi juara. Tidak semua santri menjadi yang terbaik di angkatannya. Tetapi semua orang bisa memilih bagaimana ia “kalah” apakah sekadar hazama sesaat dalam satu momen, atau justru terjerumus dalam khusr yang sesungguhnya: kerugian yang menyangkut seluruh hidupnya karena berhenti belajar dan berhenti berjuang.

Jika suatu hari engkau harus kalah, maka kalahlah seperti Vozinha dan Tanjung Verde: dengan kehormatan, dengan perjuangan, dan tanpa kehilangan harapan. Kalahlah juga seperti Ronaldo, Modric, dan Neymar, tiga nama yang mengakhiri perjalanan Piala Dunia mereka tanpa trofi yang paling mereka dambakan, namun tidak satu pun pulang dengan tangan hampa. Yang mereka bawa pulang adalah warisan: gol-gol yang dikenang, generasi yang mereka inspirasi, dan cara mereka memberikan segalanya hingga peluit terakhir berbunyi.

Legacy semacam itu tidak ditentukan oleh trofi yang berhasil diangkat, melainkan oleh dedikasi yang tidak pernah mereka kurangi meski hasil akhirnya tak sesuai harapan. Begitulah seharusnya seorang santri menjalani perjalanan ilmunya, kembali ke pondok dengan hati yang mantap, menyelesaikan setiap tahapnya dengan sabar, hingga sampai pada akhir yang baik.

Sebab, yang akan dikenang dari seorang santri bukan semata predikat kelulusan atau peringkat di angkatannya, melainkan kesungguhan yang ia jaga sepanjang jalan, sebagaimana legacy tiga legenda itu ditentukan oleh perjuangan mereka, bukan oleh trofi yang tak pernah mereka genggam. Maka sekali lagi, ingatlah, pahitnya belajar hanya sesaat, sementara hinanya berhenti belajar akan ditanggung seumur hidup.

Wallāhu a’lamu biṣ-ṣawāb.