
Refleksi ini tiba-tiba hadir di kepala saya ketika menyaksikan Bis Tayo berjalan dalam Parade Kekayaan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan pada acara Apel Tahunan dan Khuthbatul Arsy 2026. Di antara kemeriahan parade itu, pandangan saya tertuju pada satu bis yang begitu akrab bagi saya. Di dalamnya ada anak-anak saya. Seketika saya terhenyak. Dua puluh lima tahun yang lalu, saya juga pernah duduk di dalam bis ini. Pagi hari berangkat sekolah, sore hari pulang kembali. Dua kali sehari, berulang dari hari ke hari, menjadi bagian dari keseharian saya sebagai seorang anak. Saat itu, tentu saya tidak pernah membayangkan bahwa dua puluh lima tahun kemudian saya akan melihat bis yang sama, dengan anak-anak saya di dalamnya.
Mungkin memang begitulah waktu bekerja. Ketika sedang menjalaninya, hari-hari terasa biasa saja. Kita naik bis, pergi sekolah, belajar, bermain, lalu pulang. Kita tidak merasa sedang menyimpan sesuatu untuk dikenang. Tetapi waktu berjalan, dan tiba-tiba kita menemukan diri kita berada di tempat yang berbeda, dengan peran yang berbeda pula. Dulu saya adalah anak yang diantar. Sekarang saya menjadi orang tua yang melihat anak-anak saya diantar. Yang dahulu saya jalani tanpa banyak berpikir, hari ini justru membuat saya berhenti dan merenung.
Saya kemudian menyadari, ternyata perjalanan Bis Tayo ini sudah begitu panjang. Selama bertahun-tahun ia telah membersamai begitu banyak anak. Sopir dan kondekturnya pun datang dan pergi, berganti dari satu masa ke masa berikutnya. Wajah-wajah boleh berubah, tetapi tugasnya tetap sama: mengantar anak-anak berangkat dan memastikan mereka kembali. Mereka mungkin menjalankan itu sebagai pekerjaan sehari-hari. Namun jika kita melihatnya dari rentang waktu yang panjang, sesungguhnya ada amanah besar yang sedang mereka jalankan. Setiap hari mereka membawa anak-anak dalam perjalanan menuju sekolah, menjaga mereka selama perjalanan, lalu mengembalikan mereka kepada keluarganya.
Dan tiba-tiba saya berpikir: bis ini ternyata tidak hanya membawa anak-anak. Bis ini membawa generasi-generasi penerus Al-Amien.
Anak-anak yang hari ini duduk di dalamnya adalah mereka yang kelak akan mengisi masa depan. Mereka yang sekarang mungkin masih bercanda di dalam bis, mengantuk dalam perjalanan pagi, atau bercerita dengan teman-temannya, suatu hari nanti akan menjadi orang-orang dewasa yang mengambil peran di tengah masyarakat. Mungkin di antara mereka kelak ada yang menjadi guru, ulama, pemimpin, profesional, atau mengambil jalan pengabdian dalam bentuk yang lain. Kita belum tahu. Tetapi hari ini, mereka masih berada dalam satu perjalanan yang sama, dalam proses panjang menjadi manusia yang akan melanjutkan apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Di situlah saya melihat makna yang lebih dalam dari sebuah bis sekolah. Ia bukan sekadar alat transportasi dari rumah menuju sekolah dan kembali lagi. Ia menjadi salah satu bagian kecil dari mata rantai pendidikan. Ada anak-anak yang dulu berada di dalamnya, kemudian tumbuh dan meninggalkan pondok. Kini anak-anak dari generasi berikutnya kembali duduk di bangku yang sama, menempuh perjalanan yang serupa. Seperti sebuah estafet yang terus berpindah tangan.
Dan saya sendiri tiba-tiba merasa menjadi bagian dari estafet itu. Dua puluh lima tahun lalu saya adalah salah satu anak yang diantar. Sekarang anak-anak saya yang berada di dalamnya. Ada sesuatu yang sederhana tetapi dalam dari pergantian peran ini. Saya seperti sedang menyaksikan perjalanan yang pernah saya tempuh, dilanjutkan oleh generasi setelah saya.
Mungkin kita sering memandang pendidikan hanya dari apa yang terjadi di dalam ruang kelas. Padahal perjalanan seorang anak dibentuk oleh begitu banyak orang dan begitu banyak hal. Ada guru yang mengajar, orang tua yang mendoakan, teman-teman yang menemani, dan orang-orang yang dalam perannya masing-masing menjaga keseharian mereka. Termasuk para sopir dan kondektur yang mungkin tidak pernah berdiri di depan kelas, tetapi setiap hari ikut memastikan anak-anak sampai ke tempat mereka belajar dan kembali dengan selamat.
Tidak semua orang yang berjasa dalam perjalanan seorang anak akan diingat namanya. Sebagian mungkin hanya hadir dalam rutinitas yang begitu biasa, lalu pergi ketika masa tugasnya selesai. Tetapi justru dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan terus-menerus itulah sebuah perjalanan pendidikan dapat berlangsung. Ada orang yang mengajar, ada yang membimbing, ada yang menjaga, ada yang mengantar. Masing-masing mengambil bagian.
Maka ketika melihat Bis Tayo melintas dalam parade hari itu, saya tidak lagi melihatnya sekadar sebagai kendaraan. Saya melihatnya sebagai saksi perjalanan. Ia pernah membawa saya dan teman-teman saya Ketika itu. Dua puluh lima tahun kemudian, ia membawa anak-anak saya, generasi berikutnya yang sedang menempuh proses yang sama. Sopir dan kondektur mungkin telah berganti, anak-anak yang duduk di dalamnya juga terus berganti, tetapi perjalanan itu tetap berlangsung.
Dan mungkin itulah yang membuat saya terharu. Bukan semata karena sebuah bis lama masih berjalan, tetapi karena saya melihat sebuah kesinambungan. Ada sesuatu yang terus dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Apa yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil saya, kini menjadi bagian dari masa kecil anak-anak saya. Dan anak-anak yang hari ini berada di dalam Bis Tayo itu, kelak akan menjadi bagian dari generasi yang meneruskan perjalanan Al-Amien.
Saya tidak tahu apakah anak-anak saya kelak akan mengingat Bis Tayo seperti saya mengingatnya. Mungkin bagi mereka sekarang, bis ini hanyalah bagian dari keseharian. Mereka naik, duduk, bercanda, kemudian turun dan melanjutkan aktivitas. Tetapi mungkin bertahun-tahun nanti, ketika mereka sudah dewasa, sebuah bis atau sebuah perjalanan akan mengingatkan mereka pada masa ini. Pada pagi-pagi ketika mereka berangkat sekolah dan sore-sore ketika mereka pulang. Pada masa ketika ada orang-orang yang dengan setia mengantar dan menjaga mereka.
Dan mungkin saat itu mereka baru memahami bahwa masa kanak-kanak mereka tidak hanya diisi oleh pelajaran di kelas, tetapi juga oleh begitu banyak orang yang diam-diam membersamai perjalanan mereka.
Dua puluh lima tahun yang lalu, Bis Tayo mengantarkan saya. Hari ini, ia mengantarkan anak-anak saya. Di antara dua perjalanan itu ada waktu yang panjang, ada generasi yang berganti, ada sopir dan kondektur yang datang dan pergi, dan ada begitu banyak anak yang telah tumbuh bersamanya.
Kini saya melihatnya dengan kesadaran yang berbeda. Bis itu bukan hanya membawa anak-anak dari satu tempat ke tempat lain. Ia membawa generasi penerus Al-Amien dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Dan mungkin, tanpa banyak disadari, setiap pagi ketika pintunya terbuka dan anak-anak naik ke dalamnya, sebuah bagian kecil dari masa depan sedang ikut berangkat.
