
Di Bumi Jauhari yang tenang, Pondok Pesantren Al-Amien berdiri gagah. Di sini, ujian bukanlah sekadar musim mengerjakan soal, melainkan sebuah “pesta perjuangan” yang dirayakan dengan khidmat. Ada satu kalimat sakti yang selalu didengungkan oleh para Kiai, mulai dari KH. Idris Jauhari hingga Kiai Ahmad Fauzi Tidjani saat ini: “Al-Imtihānu li al-Ta’allum la li al-Imtihān”. Ujian itu tujuannya untuk belajar, bukan belajar mendadak hanya karena mau ujian.
Bagi orang luar, mungkin ini terdengar biasa. Tapi bagi santri Al-Amien, kalimat ini adalah prinsip hidup. Jika di sekolah biasa siswa belajar demi nilai di rapot, di sini santri belajar untuk menaklukkan rasa malas dan kebodohan diri sendiri. Puncaknya ada pada sebuah fase keramat yang disebut EBTA Niha’ie (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Ini adalah gerbang terakhir yang memisahkan antara “siswa” dan “alumni”. Mari kita selami kisah perjalanan ini dari sudut pandang seorang santri kelas akhir.
Sebelum lembar soal dibagikan, suasana pondok berubah drastis. Tidak ada lagi sorak sorai penonton bola atau latihan pidato yang berapi-api. Kita memasuki masa yang disebut “Learning Center” atau masa tenang.
Masjid Jami’ Al-Amien yang megah berubah menjadi perpustakaan raksasa. Ribuan santri duduk bersila memegang kitab. Suara dengungan hafalan (lalaran) terdengar seperti suara lebah yang tak putus-putus siang dan malam. Di masa ini, tidur menjadi barang mewah. Ada istilah “sahirul layali” (begadang sepanjang malam) untuk melahap materi pelajaran. Meski begitu, Pimpinan Pondok sering mengingatkan: “Boleh begadang, tapi jangan sampai sakit. Kalau sakit saat ujian, itu kerugian besar.”
Ada satu tradisi yang membuat merinding sebelum EBTA dimulai. Santri kelas 6 (niha’ie) akan diberdirikan di depan adik-adik kelas (kelas 1 sampai 5) dan para guru. Bukan untuk pamer senioritas, tapi untuk meminta maaf dan minta Do’a.
Mereka menyadari, mungkin selama menjadi pengurus organisasi, mereka pernah memarah-marahi adik kelas atau berbuat salah. Filosofinya sederhana tapi dalam: ilmu tidak akan masuk dan berkah jika hati masih kotor oleh dosa pada sesama. Momen ini sering kali penuh air mata. Kakak kelas yang dulunya garang, tiba-tiba mereka didirkan untuk minta restu.
Menjadi santri niha’ie di TMI Al-Amien itu berat. Mereka tidak hanya menghadapi satu ujian, tapi rentetan ujian maraton yang menguras fisik dan mental selama berbulan-bulan.
Ujian mental pertama adalah ‘amaliyah tadris (Praktik Mengajar). Santri niha’i harus menjadi guru sungguhan di depan adik kelasnya.
- Persiapan berdarah-darah: Rencana mengajar (I’dad) harus ditulis tangan sempurna dalam Bahasa Arab atau Inggris. Salah satu huruf saja, dicoret merah oleh pembimbing dan harus ditulis ulang dari awal, sering kali harus diselesaikan jam 3 pagi.
- Hari penghakiman: Saat maju mengajar, di belakang kelas teman seangkatan (pengkritik) dan guru senior. Mereka mencatat setiap kesalahan: mulai dari tulisan miring di papan tulis, suara kurang keras, sampai gerakan tangan yang kaku. Di sini santri belajar bahwa menjadi pemimpin (mundzirul qaum) itu harus siap dikritik dan tidak boleh anti-kritik.
Belum sempat bernapas lega, mereka dikirim keluar pondok untuk khidmah tarbawiyah (Pengabdian). Selama sekitar 10 hari, mereka tinggal di pesantren-pesantren kecil di pelosok Madura. Di sana mereka tidak lagi jadi murid, tapi jadi pengelola. Mengajar ngaji, melatih pramuka, hingga membersihkan lingkungan. Ini adalah ujian nyata: “Mampukah kamu bermanfaat bagi orang lain?”
Inilah inti dari segalanya. EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Berbeda dengan sekolah umum yang hanya mengujikan pelajaran kelas 3, di Al-Amien, materi ujian mencakup pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6. Bayangkan banyaknya materi yang harus diulang! Gerbang pertama EBTA adalah ujian lisan. Santri dipanggil satu per satu masuk ke ruangan, berhadapan langsung dengan penguji senior di balik meja (sering disebut “meja hijau”). Tidak ada kertas, tidak ada pilihan ganda. Pertanyaannya bisa menyambar kemana-mana:
Baca kitab ini! Apa kedudukan kata ini dalam Nahwu?
Coba pidato bahasa Inggris tentang masa depanmu!
Sebutkan dalil sholat jamak!
Di momen ini, mental diuji habis-habisan. Jika bisa menjawab dengan lantang dan sopan, itulah makna pepatah “bi al-Imtihān yukramu al-mar’u” (dengan ujian orang dimuliakan). Tapi jika diam seribu bahasa atau celingukan, rasanya “yuhān” (dihinakan) sekali. Setelah lisan, berlanjut ke ujian tulis selama kurang lebih dua minggu. Di sini integritas adalah harga mati. Menyontek adalah dosa besar yang sanksinya bisa sampai pengusiran (di mahkamah). Soal-soal di Al-Amien menuntut analisis, bukan sekadar hafalan. Pelajaran agama (Fiqih, Tafsir, Hadis) soalnya dalam Bahasa Arab. Pelajaran umum (Matematika, IPA) dalam Bahasa Indonesia/Inggris. Otak santri dipaksa bekerja multilingual (banyak bahasa) dalam tekanan tinggi.
Jika anak SMA merayakan kelulusan dengan corat-coret seragam dan konvoi motor, santri Al-Amien punya cara yang jauh lebih berkelas (“keren”). Ada tradisi “Satu Santri, Satu Karya”. Sebagai syarat yudisium, santri niha’ie wajib menulis. Bukan status galau di medsos, tapi buku!
Setiap angkatan menerbitkan ratusan judul buku ber-ISBN, mulai dari novel, kumpulan puisi, sampai kajian agama. Pada saat wisuda, buku-buku ini dipersembahkan kepada Pimpinan Pondok. Pesannya jelas: “Kami lulus meninggalkan karya, bukan sampah.” Pada tahun 2021 saja, santri niha’ie berhasil menerbitkan 309 judul buku. Inilah momen paling emosional. Saat pengumuman kelulusan (Yudisium) dibacakan, dan Kiai menyatakan “Kalian semua Lulus”, tidak ada teriakan hura-hura.
Ribuan santri niha’ie secara serentak melakukan sujud syukur. Saat kening menyentuh tanah itulah, pertahanan runtuh. Air mata tumpah ruah. Terbayang wajah orang tua di kampung yang menunggu. Terbayang lelahnya begadang menghafal ribuan kosa kata. Terbayang pedasnya kritik guru saat ‘amaliyah. Semua rasa lelah itu terbayar lunas dalam sujud. Suasana hening, hanya terdengar isak tangis bahagia dan lantunan doa.
Perjalanan panjang melewati ‘amaliyah, khidmah, hingga EBTA Niha’ie ini bukan sekadar untuk mendapatkan selembar ijazah. Ijazah hanyalah kertas. Hasil sesungguhnya tertanam dalam jiwa mereka. Alumni Al-Amien dikenal memiliki daya tahan (resilience) yang tinggi. Mereka tidak mudah “baper” saat dikritik (karena sudah biasa saat ‘amaliyah). Mereka tidak mudah menyerah saat ada masalah (karena sudah terlatih saat Fathul Kutub). Dan mereka berani bicara di depan umum (karena ditempa saat ujian lisan).
Itulah makna sejati dari “Ujian untuk Belajar”. Al-Amien tidak hanya meluluskan orang pintar, tapi meluluskan pejuang yang siap terjun ke masyarakat. Bagi seorang niha’ie, ujian di pondok memang telah usai, tapi ujian kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.
