
“A: Kamu ngajar kelas berapa?”
“B: Kelas… D.”
“A: Haduh… anaknya sering ngantuk, ya?”
“B: Iya, bingung juga, padahal sudah dibangunkan tetap saja ngantuk.”
“C: Gak boleh gitu, Dek. Kemarin aku belajar ini di kuliah. Kita gak boleh bilang anak itu nakal atau malas. Itu bisa jadi label sekaligus doa bagi anak itu.”
“B: Iya, Kak? Terus harusnya bilang gimana?”
“C: Intinya kita harus berpikir positif bahwa anak itu bisa kita didik dan ajari. Mungkin caranya saja yang kurang tepat, atau perlu pendekatan baru. Guru juga harus tetap semangat.”
Percakapan singkat ini terjadi antar ustazah pengabdian di kantor Ma’had sebelum mengajar pelajaran jam ke-6. Setelah itu, kami bergegas menuju Marhalah masing-masing dengan membawa berbagai perasaan: ada yang semangat, ada yang ragu, bahkan takut jika pelajaran tidak diterima dengan baik oleh para santri. Namun, apa pun itu, kami tetap berangkat melaksanakan tugas kami sebagai pengajar. Bismillah…
Dalam proses pendidikan, labelisasi sering kali terjadi tanpa kita sadari. Label seperti “anak ini rajin”, “anak ini pemalas”, atau “anak ini bandel” seakan menjadi penilaian yang sah. Padahal sebenarnya dapat berdampak besar terhadap perkembangan anak. Labelisasi adalah pemberian identitas atau penilaian yang sifatnya menyederhanakan kondisi seseorang, baik secara positif maupun negatif. Penilaian ini bisa mengenai kemampuan, kepribadian, atau bahkan masa depan, dan tidak hanya ditujukan pada individu, tetapi juga kelompok.
Dampak labelisasi dirasakan oleh semua pihak yang terlibat, baik pemberi, penerima, maupun orang lain yang akan berinteraksi dengan penerima label tersebut. Misalnya, ketika suatu kamar di asrama dikenal sebagai kelompok yang rajin beribadah, belajar, dan aktif, maka Musyrifah akan merasa lebih ringan dan optimis saat berinteraksi dengan mereka. Sebaliknya, kamar yang dikenal malas atau bermasalah akan menimbulkan kecemasan bahkan rasa enggan dari Musyrifah sebelum berinteraksi. Padahal, bisa jadi hari sebelumnya mereka terlihat malas karena kelelahan mengikuti perlombaan, sedang mengalami masalah, atau nyeri haid.
Labelisasi seperti ini kerap terjadi di kelas, rayon, atau kelompok lain, dan sering menimbulkan perasaan cemas, ragu, dan takut sebelum berinteraksi. Guru atau pembimbing yang sudah memiliki ekspektasi negatif terhadap murid, cenderung memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda, sehingga murid merasa tidak dihargai atau tidak dipercaya. Akibatnya, semangat belajar dan rasa percaya diri murid pun menurun drastis.
Dalam dunia pendidikan, labelisasi memiliki dampak signifikan terhadap motivasi dan perkembangan anak. Ketika seorang anak diberi label sebagai “bodoh” atau “cerdas”, mereka cenderung menyesuaikan diri dengan ekspektasi itu. Anak yang diberi label “bodoh” bisa merasa tidak mampu, stres, atau bahkan kehilangan motivasi belajar. Sebaliknya, anak yang dilabeli “cerdas” mungkin merasa terbebani dengan ekspektasi tinggi yang harus ia penuhi.
Dalam Islam, setiap anak adalah amanah yang harus dijaga dan dibina dengan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi besar untuk berkembang, dan tugas orang tua serta guru sangatlah penting dalam membentuk karakter mereka. Oleh karena itu, para pendidik perlu memahami keunikan dan potensi setiap anak, lalu memberikan perhatian serta dukungan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 36: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” Ayat ini menegaskan bahwa kita harus berhati-hati dalam membuat penilaian, termasuk terhadap anak didik.
Agar terhindar dari dampak negatif labelisasi, guru dapat menerapkan beberapa strategi berikut. Pertama, fokus pada proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Berikan motivasi atas setiap keberhasilan maupun kegagalan, dan dorong anak agar terus mencoba. Kedua, gunakan bahasa yang positif dan membangun. Hindari ucapan yang merendahkan atau menyudutkan. Ketiga, kenali keunikan dan potensi setiap anak. Ini bisa dilakukan dengan memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara, menyampaikan pendapat, serta mengeksplorasi minat dan bakatnya. Terakhir, hindari membanding-bandingkan anak. Fokuslah pada perkembangan masing-masing individu.
Namun demikian, labelisasi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Dalam konteks tertentu, label dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan khusus anak, seperti perlunya perhatian ekstra atau dukungan tambahan. Selain itu, labelisasi bisa menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang lebih efektif dan relevan. Dalam kegiatan evaluasi dan rapat, label bisa membantu guru memahami karakteristik murid, sehingga pendekatan dan perencanaan bisa lebih tepat sasaran.
Meski begitu, penggunaan labelisasi tetap harus dilakukan secara hati-hati. Jangan sampai label menjadi penghalang bagi anak untuk berkembang atau menyebabkan guru memiliki sikap yang tidak adil. Dengan berpikir positif dan berprasangka baik, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan menyenangkan. Pendidikan adalah proses timbal balik antara guru dan murid. Ketika keduanya saling belajar dan tumbuh bersama, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan bermakna.
