Ketika Waktu Menyapa
Pagi meredup di balik cahaya
Menyisakan malam dengan wajah berbeda
Angan-angan berkelip di kejauhan
Berputar dari benak hingga ke genggaman
Pilihan datang silih berganti
Pada malam yang sama, tanpa menanti
Kutahan gejolak hawa nafsu
Bayang masa lalu kembali menyapa
Dari lorong malam yang panjang
Kenangan lama datang tanpa diundang
Kawan yang lama tak bersua
Membangkitkan pedih yang pernah reda
Aroma keberkahan menyentuh rasa
Kedamaian singgah sejenak di dada
Namun badai yang pernah berlalu
Jangan kembali mengetuk pintu
—
Pilu di Balik Purnama
Pilu perlahan menjelma kasih
Namun hati masih menyimpan perih
Riak kata merobek ketenangan
Di tengah barisan manusia yang saling memandang
Segala perkara saling berkait
Hingga langkah terasa seperti melewati ranjau
Pilu bersembunyi di balik kebijaksanaan
Sementara mata kehilangan cahaya
Kesaksian pun berubah menjadi kepedihan
Wahai lisanku, jagalah dirimu
Biarkan hati menembus segala keraguan
Lirikan kecil kerap dipersoalkan
Perisai prasangka menutup pandangan
Kebinasaan mengiringi nada permusuhan
Padahal keadilan semestinya dirintis bersama
Inikah pedoman bagi umat manusia?
—
Di Persimpangan Keputusan
Etika baru saja ditata
Namun gejolak telah memenuhi ruang
Biarkan lisan menjadi peneduh
Ketika bahaya datang menyentuh
Segala perkara yang berulang
Kembali hadir dalam ingatan
Di tengah hening, irama kehidupan terdengar
Arus kebangsaan perlu kembali ditata
Kini tampak siapa di balik semua
Meski musyawarah masih diselimuti duka
Pilihlah arah setenang angin
Yang mengantar langkah pada keputusan
Kini aku mulai memahami
Memilih bukan berarti mengkhianati
—
Ketika Hati Mengendalikan Langkah
Langkahku digenggam oleh hati
Tak mudah bergerak saat nurani menahan
Namun setiap pilihan membawa akibat
Takdir merangkai susah dan senang
Diriku sendiri kerap sulit kupahami
Kepercayaan dan keinginan saling bertarung
Pikiran menjelma samudra tanpa tepian
Gelombangnya membawa ragu berkepanjangan
Pikiran terus berakar hingga keputusan menjauh
Langkah tertahan di persimpangan pilihan
Hari dan diri seolah sulit berdamai
Saat kucoba memahami aturan kehidupan
—
Samudra Kebimbangan
Samudra pandang terbentang luas
Lingkar kebersamaan terasa kian dekat
Ada hangat yang tumbuh saat menatapnya
Ada harapan yang menyala di dalam dada
Namun, panik datang menyela
Menjebakku di antara riuh gangguan
Kebahagiaan terpecah menjadi serpihan
Sementara kabar yang tak berbalas singgah dalam pikiran
Beratnya beban terasa kian nyata
Bagaimana bila ketakutan benar menjelma?
Pengetahuan menjadi saksi perjalanan
Bahwa tak ada hidup yang bebas dari ujian
Namun harapan selalu menyediakan jalan
*Puisi ini adalah karya Muhammad Nur Afgan Maulidin, kelas V DIA-C asal Bogor.
