Zaman sekarang menasihati seseorang yang paham teknologi bukan perkara yang mudah. Gadget, media sosial, hiburan, dan berbagai tren seolah lebih didengar daripada nasihat orang tua, guru, atau ceramah di pengajian. Banyak dari kita yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, tetapi merasa berat meluangkan beberapa menit untuk membaca, mengaji, atau sekadar merenung. Bukan karena generasi sekarang tidak baik, melainkan karena godaan yang mereka hadapi jauh lebih dekat dan datang setiap saat. Di tengah keadaan seperti ini, menjaga keimanan menjadi tantangan yang tidak ringan, terutama bagi mereka yang masih berada pada usia muda.
Kadang saya berangan-angan dan bertanya, adakah dan mungkinkah di zaman sekarang ada seseorang yang rela meninggalkan semua kenyamanan demi agama? Rela menghabiskan semua hartanya untuk Islam? Di saat banyak orang berlomba mengejar profesi, kekayaan, kendaraan mewah, rumah megah dan pengakuan dari orang lain di media sosial, kisah Mush’ab bin Umair terasa seperti cerita yang sangat jauh dari kehidupan kita.
Mush’ab bin Umair dikenal sebagai salah satu pemuda paling terpandang di Makkah. Ia tumbuh dalam keluarga yang kaya, hidup dengan segala kemewahan, serta dikenal karena ketampanan dan penampilannya yang selalu rapi. Bahkan, orang-orang sering mengenalinya hanya dari wangi tubuhnya yang khas ketika ia melewati kerumunan.
Namun semua itu berubah ketika Islam hadir dalam hidupnya. Mush’ab memilih untuk menerima kebenaran Islam, meski harus berhadapan dengan kemarahan keluarganya sendiri. Ia kehilangan kenyamanan yang selama ini ia nikmati, bahkan sampai harus merasakan pengekangan dari orang-orang terdekatnya. Dari seorang pemuda yang terbiasa dengan kehidupan serba cukup, ia perlahan menjalani hidup yang jauh lebih sederhana, tanpa kemewahan yang dulu melekat padanya.
Meski begitu, ia tidak pernah menoleh kembali untuk menyesali pilihannya. Justru dari perubahan itulah, Mush’ab tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dalam iman, hingga akhirnya dipercaya Rasulullah SAW untuk membawa dakwah ke Madinah. Sebuah amanah besar yang menunjukkan bahwa pengorbanannya bukan kehilangan, melainkan perpindahan menuju derajat yang lebih tinggi.
Yang membuat saya kagum, Mush’ab tidak pernah meminta kembali apa yang telah hilang. Ia memilih mempertahankan keislamannya.
Di sinilah saya merasa kisah Mush’ab begitu indah sekaligus berat untuk diteladani. Sebab jika kita jujur, di zaman sekarang rasanya sangat sulit menemukan seseorang yang mau menukar kekayaan demi agama. Bahkan terkadang kita justru rela menunda salat demi pekerjaan, meninggalkan pengajian demi hiburan, atau mengorbankan prinsip demi diterima lingkungan.
Lalu, bagaimana cara kita bisa meneladani Mush’ab?
Menurut saya, kita tidak harus menjual semua harta atau meninggalkan kehidupan dunia. Tidak semua orang akan diuji seperti Mush’ab. Namun setidaknya kita bisa belajar untuk menempatkan agama di atas kepentingan pribadi. Kita bisa tetap salat di tengah kesibukan, menjaga pergaulan di tengah lingkungan yang kurang baik, kuat pada tujuan dan menggunakan ilmu maupun media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.
Jika Mush’ab diuji dengan kemewahan, mungkin kita diuji dengan kenyamanan. Jika Mush’ab harus meninggalkan harta, mungkin kita hanya diminta meninggalkan kebiasaan buruk yang sebenarnya sangat sulit kita lepaskan.
Pada akhirnya, mari bersama-sama menyadari bahwa kisah Mush’ab bukan tentang seorang pemuda yang miskin karena Islam. Kisah ini adalah tentang seorang pemuda yang mengetahui apa yang paling berharga dalam hidupnya.
Mungkin kita tidak akan mampu menjadi Mush’ab bin Umair sepenuhnya. Namun setidaknya, jangan sampai kita menjadi orang yang menukar agama hanya demi kenyamanan hidup. Karena boleh jadi, kemewahan terbesar bukanlah banyaknya harta yang kita miliki, melainkan hati yang tetap takut kepada Allah di atas segala hal yang kita senangi.

