خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’ān dan mengajarkannya..
— HR. al-Bukhārī no. 5027
Awal Oktober lalu, Ma’had TMI membuka Program Amaliyyatu at-Tadrīs, rangkaian praktik mengajar bagi santri Niha’ie. Di Putra, dalam pembukaannya, KH. Suyono Khatthab, M.Pd., menyampaikan pesan yang tegas: seorang alumni TMI belum sah disebut alumni jika tidak memiliki kemampuan mengajar. Isyaratnya sudah ada pada nama pondok ini, Tarbiyatu al-Mu‘allimīn. Di Putri, KH. Dr. Ghozi Mubarok, M.A., berpesan agar para santriwati menjadikan kegiatan ini sebagai kesempatan mengumpulkan pengalaman dan hikmah sebanyak-banyaknya.
Pesan serupa pernah disampaikan pada pembukaan Amaliyyatu at-Tadrīs al-Ikhtibāriyyah (ATI) tahun 2021. KH. Moh. Fikri Husain, M.A., mengajak para santri memanfaatkan program ini untuk belajar, karena at-ta‘līmu huwa khayru ṭuruqi at-ta‘allumi: mengajar adalah cara terbaik untuk belajar.
Gagasan ini juga sangat tua. Sekitar dua ribu tahun lalu, filsuf Romawi bernama Seneca menulis hal yang sama dalam suratnya kepada Lucilius, dan dari situlah muncul pepatah docendo discimus, “dengan mengajar, kita belajar.” Jadi, mengajar dan belajar ternyata tidak sejauh yang sering kita bayangkan. Untuk melihat sedekat apa keduanya, mari kita mulai dari dua kata yang paling sederhana: belajar dan mengajar.
Kita mulai dari belajar. Dalam bahasa Indonesia, kata ini berasal dari kata ajar, yang menurut KBBI berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau diturut. Dari kata ini lahir tiga makna belajar: berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, dan berubah tingkah laku karena pengalaman.
Dalam bahasa Arab, belajar adalah ta‘allama (تَعَلَّمَ), yang berasal dari kata ‘alima (عَلِمَ) yang berarti tahu. Menariknya, bentuk ta‘allama mengandung makna bersungguh-sungguh. Jadi, secara bahasa, ta‘allama bukan sekadar “tahu,” melainkan “berusaha keras untuk tahu.” Dalam bahasa Inggris, learn berarti usaha memperoleh pengetahuan, pemahaman, atau kemampuan, baik dengan menelaah sendiri, melalui petunjuk orang lain, maupun dari pengalaman.
Secara istilah, para ahli menyebut belajar sebagai proses yang mengubah perilaku melalui latihan atau pengalaman. Artinya, orang yang baru tahu belum tentu sudah belajar. Belajar baru terasa ketika pengetahuan itu mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Dari semua ini kita bisa menyimpulkan bahwa belajar adalah usaha sungguh-sungguh memperoleh ilmu dan keterampilan, yang diiringi perubahan perilaku, berdasarkan pengalaman.
Sekarang kita beralih pada mengajar. Dalam bahasa Indonesia, kata ini berarti memberi pelajaran, yakni memberi sesuatu untuk dipelajari.
Bahasa Arab punya dua padanan, yaitu ‘allama (عَلَّمَ) dan darrasa (دَرَّسَ). ‘Allama berasal dari akar kata yang sama dengan ta‘allama, yaitu ‘alima, dan artinya menjadikan seseorang tahu. Dari kata ini lahir kata mu‘allim, sebagaimana tersirat dalam nama Tarbiyatu al-Mu‘allimīn. Adapun darrasa berasal dari darasa yang berarti membaca, memahami, atau menghafal sesuatu. Maknanya kemudian meluas menjadi membacakan dan menjadikan orang lain paham. Dari kata inilah kita mengenal istilah tadrīs dalam Amaliyyatu at-Tadrīs. Dalam bahasa Inggris, teach berarti menjadikan orang lain tahu sesuatu, baik dengan menerangkan, memberi contoh, maupun berbagi pengalaman.
Secara istilah, mengajar adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membantu muridnya agar sampai kepada pengetahuan dengan jalannya sendiri.
Perhatikan bahwa kata ta‘allama dan ‘allama berasal dari akar yang sama. Belajar adalah berusaha untuk tahu, dan mengajar adalah menjadikan orang lain tahu. Keduanya bertemu di satu titik: agar orang lain bisa tahu, kita sendiri harus lebih dulu tahu, dan tahu dengan benar.
Menggabungkan belajar dan mengajar merupakan keistimewaan hadis yang kita kutip di awal tulisan ini. Perhatikan susunannya:
تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Ia mempelajari Al-Qur’ān dan mengajarkannya.”
Dua kata kerja di dalamnya, ta‘allama dan ‘allama, adalah kata yang baru saja kita bahas. Rasulullah SAW menggabungkan dua aktivitas tersebut dalam satu ungkapan.
Hal ini memberikan pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya terus belajar sekaligus berusaha memberikan manfaat kepada orang lain melalui ilmu yang telah dipelajarinya.
Seseorang tidak perlu menunggu menjadi ulama besar untuk mulai mengajarkan Al-Qur’ān. Ia dapat mengajarkan sesuatu yang telah dikuasainya dengan benar, sesuai kapasitasnya, dan tetap bersedia belajar dari orang yang lebih berilmu.
Sebaliknya, seseorang yang telah mengajar juga tidak boleh merasa telah selesai belajar. Ia tetap perlu memperbaiki bacaan, memperdalam pemahaman, dan meningkatkan kualitas pengajarannya.
Dengan demikian, terdapat hubungan yang berkesinambungan antara belajar, mengajar, mengamalkan, dan terus memperbaiki diri.
Dunia pendidikan modern menyebut gagasan ini learning by teaching, yaitu belajar dengan cara mengajar. Maksudnya sederhana, seseorang akan lebih dalam memahami sesuatu ketika ia harus menerangkannya kepada orang lain.
Gambaran ini sangat dekat dengan Amaliyyatu at-Tadrīs, ujian praktik mengajar tidak dimulai dari ruang kelas. Santri kelas akhir yang akan melakukan praktik terlebih dulu menulis i‘dād tadrīs, lalu i‘dād itu diperiksa guru master, ditulis ulang, kemudian dilatih secara mandiri. Barulah mereka tampil mengajar selama 40 menit, diawasi dan dinilai oleh musyrif serta teman-teman sekelompoknya, dan diakhiri dengan evaluasi. Karenanya, setiap santri kelas akhir harus memiliki al-i‘dād wal isti‘dād, persiapan yang matang, termasuk membaca berbagai referensi tambahan tentang materi yang akan diajarkan.
Bayangkan apa yang dilakukan seorang pengajar sebelum berdiri di depan kelas. Pertama, ia belajar agar paham materinya sendiri. Kedua, ia belajar lagi agar orang lain bisa paham: mencari contoh, memikirkan urutan penjelasan, dan menebak pertanyaan yang mungkin muncul. Murid yang duduk di bangku cukup belajar satu kali, yaitu memahami apa yang diajarkan. Guru harus belajar dua kali!
Hal ini tidak berhenti ketika praktik mengajar selesai. Seorang guru yang bertahun-tahun mengajarkan materi yang sama tetap akan menemukan hal baru, karena murid dan keadaan zaman terus berubah. Karena itu, pesan Kiai Suyono agar para santri Niha’ie tidak lupa mengajar dan mendidik, apa pun profesi mereka kelak, baik formal maupun nonformal, sebenarnya juga pesan agar mereka tidak berhenti belajar.
Menjadi guru bukan berarti berhenti belajar. Justru seorang guru harus belajar dua kali lebih banyak dibanding santrinya: belajar untuk memahami apa yang akan ia ajarkan, dan belajar untuk membuat orang lain paham. Amaliyyatu at-Tadrīs, dengan demikian, bukan sekadar ujian atau praktik mengajar, melainkan kesempatan bagi santri untuk merasakan sendiri bagaimana mengajar membuat seseorang belajar lebih dalam.
Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.

