
Al-mu’minu lil mu’mini kal bunyāni yasyuddu ba‘ḍuhu ba‘ḍan.
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.”
— HR. Bukhari dan Muslim.
Dari hadits ini, kita bisa belajar bahwa sebagaimana sebuah bangunan, persaudaraan sejati tidak dibangun atas dasar kesamaan, melainkan atas dasar kesediaan untuk bersatu dan saling menopang, meskipun terdapat perbedaan dalam bentuk dan fungsinya. Tanggal 8 Agustus tahun ini, di lapangan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, gambaran itu bisa terlihat saat ribuan santri dari seluruh provinsi di Nusantara bahkan luar negeri, lintas lembaga yang bernaung di bawah satu pondok, berkumpul bersama dalam rangkaian Apel Tahunan.
Sul dan Qunṣuliyyah: Sapaan yang Melampaui Asal
Beberapa bulan pertama saya berkuliah di ISID Gontor, sekarang UNIDA, ada satu kata yang paling sering menyapa telinga saya sebelum saya benar-benar memahami maknanya: “Sul.” Kata itu muncul di mana-mana; di lorong kampus sesaat setelah kuliah, di kantin saat antre membeli gorengan, di tengah diskusi kelas yang tiba-tiba diselingi tawa. “Kaifa ḥālukum, Sul?” tanya seorang kawan sambil menepuk pundak. “Ma‘an najāḥ, Sul,” ucap yang lain sebelum temannya mempresentasikan makalah.
Akhirnya saya tahu, kata sapa “Sul” adalah pemendekan dari kata qunṣuliyyah, konsulat, yakni sistem pengelompokan santri berdasarkan daerah asal yang sudah berjalan puluhan tahun di Pondok Modern Darussalam Gontor. Mulanya, kata itu hanya dipakai untuk menyapa sesama santri satu daerah, berasal dari konsulat yang sama: sama-sama dari Solo, misalnya, saling memanggil “Sul” sebagai pengingat tanah kelahiran yang sama. Tetapi kata itu tidak betah tinggal di dalam sekat kedaerahan. Ia merambat, meluas, lalu berubah menjadi sapaan akrab sehari-hari lintas daerah, kurang lebih menempati fungsi yang sama dengan “Bro” atau “Kawan”, bisa dipakai siapa saja untuk siapa saja, tanpa lagi memedulikan dari konsulat mana ia berasal.
Kata kecil ini, bagi saya, adalah pintu masuk untuk merenungkan sesuatu yang jauh lebih besar. Sebab yang terjadi pada penggunaan kata “Sul” sebagai sapaan, sesungguhnya adalah miniatur dari apa yang pernah terjadi empat belas abad lampau, ketika Rasulullah SAW. mempersaudarakan (muākhāt) dua kelompok manusia yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, yakni Muhājirīn dan Anṣār.
Nasab dan Ukhuwwah: Dua Ikatan, Satu yang Abadi
Bahasa Arab membedakan dengan tegas antara dua jenis ikatan antarmanusia. Ada kata nasab (نَسَب) dan ada kata ukhuwwah (أُخُوَّة). Keduanya sama-sama bisa diterjemahkan sebagai bentuk “hubungan,” tetapi akarnya sangat berbeda.
Nasab berarti hubungan kekerabatan yang mengalir lewat garis keturunan: ayah, kakek, marga, dan suku. Ikatan ini given, sudah ditentukan sejak lahir, dan tidak bisa dipilih. Seseorang tidak bisa memutuskan lahir dari rahim siapa atau di tanah mana.
Sebaliknya, ukhuwwah, yang berasal dari kata Arab أَخٌ (akhun) yang berarti “saudara,” menunjukkan persaudaraan yang lahir dari pilihan dan ikatan yang lebih dalam: kesamaan iman, kesamaan nilai, serta kesediaan untuk saling menanggung. Ikatan ini tidak diwariskan, melainkan dibangun, diusahakan, dan dirawat.
Karena itulah Allah SWT. berfirman dalam Surah al-Ḥujurāt, “Innamal mu’minūna ikhwah,” yang berarti “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. al-Ḥujurāt: 10). Menariknya, Al-Qur’an menjadikan iman sebagai dasar persaudaraan, bukan kesamaan kampung halaman, suku, atau garis keturunan. Dengan demikian, persaudaraan yang ditegaskan Al-Qur’an adalah persaudaraan yang melampaui nasab.
Tak lama setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW. mempersaudarakan setiap Muhājirīn yang datang ke Madinah nyaris dengan tangan kosong, meninggalkan rumah dan harta di Makkah, dengan seorang Anṣār, penduduk asli Madinah yang bahkan tidak memiliki hubungan nasab sedikit pun dengan mereka. Kaum Anṣār membagi rumah, kebun, bahkan mata pencaharian kepada saudara baru yang datang dari kota yang jauh. Tidak ada syarat kesamaan kampung halaman, tidak ada tuntutan kesamaan suku. Yang menjadi dasar hanyalah satu: iman yang sama dan kesediaan untuk saling menanggung.
Teladan inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi pesantren dalam membangun ikatan persaudaraan di antara para santrinya. Saat reuni angkatan kami, KH. Maktum Jauhari kurang lebih pernah berpesan, “Yang kami inginkan, Antum, para alumni lintas lembaga dan angkatan, memiliki ikatan persaudaraan yang erat, bahkan bisa lebih daripada ikatan saudara. Mungkinkah hal itu terwujud? Sangat mungkin, seperti saat Rasulullah mempersaudarakan Muhājirīn dan Anṣār.”
Sapaan “Sul” tadi sesungguhnya sedang menghidupkan kembali ukhuwwah semacam itu dalam skala yang lebih kecil. Mereka bukan saudara karena nasab. Mereka datang dari kampung yang berbeda, memiliki logat yang berbeda, kebiasaan mereka pun tak selalu sama. Namun, mereka saling menyapa, saling menopang, dan pada akhirnya saling menganggap saudara karena mereka menempuh jalan yang sama: meninggalkan rumah demi menuntut ilmu, lalu hidup bersama di bawah atap yang sama.
Konsulat yang Berkumpul, Saudara yang Menyatu
Apel Tahunan sendiri adalah salah satu tradisi paling tua yang diwariskan dari Pondok Modern Darussalam Gontor kepada pondok-pondok alumninya, termasuk Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Setiap tahun, seluruh santri, guru, fungsionaris, dan karyawan pondok, dari semua lembaga yang bernaung di bawahnya, berkumpul di satu tempat, di satu waktu, untuk mendengarkan Khutbatul ‘Arsy, pidato di atas singgasana, pidato resmi paling penting yang disampaikan Pimpinan Pondok sepanjang tahun. Biasanya, rangkaian ini juga diiringi Parade Konsulat, ketika ribuan santri turun ke jalan, berbaris dalam formasi konsulat masing-masing, lengkap dengan kostum dan yel-yel kebanggaan daerah. Namun tahun ini, Parade Konsulat itu ditiadakan. Yang tersisa, dan yang sesungguhnya menjadi inti dari seluruh rangkaian, adalah momen berkumpulnya seluruh penghuni pondok itu sendiri.
Justru dari sinilah sebuah pelajaran lain muncul. Selama ini kita mungkin terlalu sering terpukau oleh gemerlap Parade Konsulat, warna-warni kostumnya, kemeriahan barisannya, kebanggaan identitas daerah, konsulat mana yang juara, sampai lupa bahwa yang membuat Apel Tahunan benar-benar bermakna bukanlah paradenya, melainkan perkumpulannya. Tanpa parade sekalipun, santri asal Bangka dan santri dari Bangkalan tetap berdiri berdampingan di lapangan yang sama, mendengarkan pidato pimpinan yang sama, membawa nama besar yang sama: santri Al-Amien Prenduan.
Ukhuwwah di Zaman Layar Sentuh
Ironisnya, di zaman ketika informasi dan komunikasi jauh lebih mudah dibanding masa Rasulullah SAW. mempersaudarakan Muhājirīn dan Anṣār, ukhuwwah justru sering kali menjadi barang yang jauh lebih rapuh. Kita hidup di era ketika beda pilihan politik bisa memutus silaturahmi keluarga sendiri. Ketika beda klub sepak bola yang didukung bisa memicu caci maki di kolom komentar. Ketika sekadar beda memilih tim jagoan di Piala Dunia, yang sejatinya cuma tontonan empat tahunan, bisa berubah jadi permusuhan yang dibawa berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.
Padahal, jika direnungkan, semua perbedaan itu jauh lebih remeh dibanding jarak yang harus dijembatani antara Muhājirīn dan Anṣār: perbedaan latar ekonomi, kampung halaman, bahkan sejarah panjang permusuhan antarsuku di Madinah sebelum Islam datang. Jika Rasulullah SAW. sanggup mempersaudarakan orang-orang yang secara sosial dan historis begitu berjarak, mengapa kita hari ini justru sering kesulitan menerima saudara seiman yang hanya berbeda pilihan calon pemimpin, atau perbedaan remeh seperti berbeda warna kaus bola?
Di sinilah pelajaran dari sapaan sederhana semacam “Sul” menjadi begitu berharga untuk direnungkan kembali. Di pondok ini, santri dari Aceh, Padang, Jakarta, Madura, hingga Papua bisa tidur di kamar yang sama, makan dari nampan yang sama, dan saling bercengkerama, tanpa mempersoalkan lagi dari mana asal mereka. Bukan karena mereka tidak punya perbedaan, logat cara bicara mereka berbeda, watak kebiasaan mereka pun tak selalu sama. Tetapi semua perbedaan itu kalah besar dibanding satu hal yang mereka pegang bersama: mereka saudara seiman yang sama-sama jauh dari rumah, dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk saling menjaga.
Setiap kali Apel Tahunan tiba, ia adalah pengingat tentang bagaimana keberagaman asal-usul bisa dirayakan tanpa harus menjadi sekat, sebagaimana Rasulullah SAW. pernah mengajarkan lewat muākhāt. Sapaan sederhana “Sul” mengajarkannya lewat cara yang jauh lebih sederhana: satu sapaan hangat, satu panggilan akrab, bisa mengingatkan bahwa siapa pun di hadapan kita berhak disebut saudara.
Sebab pada akhirnya, seorang mukmin dengan mukmin lainnya memang seperti bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain, bukan karena mereka berasal dari batu yang sama, melainkan karena mereka bersedia berdiri berdampingan.
Wallāhu a’lamu biṣ-ṣawāb.
