Waktu yang Berlari, Kesabaran yang Tertinggal

Beberapa waktu berlalu pasca tragedi KRL Bekasi, masyarakat belum benar-benar sembuh dari trauma. Kecelakaan yang menewaskan 16 orang dan membuat 91 lainnya luka-luka itu, kini berlalu sebagai tinta hitam di perkamen sejarah perkeretaapian Indonesia.

Semua dimulai dari hal sederhana: ketidaksabaran pengendara untuk menunggu kereta berlalu. Realita itu menjadi semacam sinyal bahwa nilai kesabaran yang sering ditanamkan saat kanak, rupanya kini menjadi pemanis belaka di mulut dan buku nasihat.

Tapi, hal ini sebenarnya bisa dimaklumi, sebab dunia berjalan semakin cepat. Semua aktivitas manusia diupayakan bergerak dalam rentang dan jeda seminimal mungkin. Adapun bersabar, itu bisa diartikan sebagai jalan menuju kekalahan.

Ketergesaan yang mewabah di berbagai belahan dunia adalah output dari intensnya penyebaran budaya hidup serba instan. Wabah ini pun perlahan mengubah persepsi masyarakat tentang waktu ke titik ekstrem.

Waktu: Antagonis Bermuka Dua

Wabah ketergesaan membuat banyak orang lupa akan dualitas waktu. Mereka lupa bahwa waktu adalah boneka kaca. Ia indah apabila terjaga. Namun bila pecah, bukan hanya luka yang akan didapat, tapi juga sesuatu yang tak bisa dikembalikan seperti semula.

Sejak awal peradaban manusia, seruan tentang waktu sebagai entitas berwajah dua bergema menjadi semacam wasiat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Waktu dalam banyak peradaban digambarkan sebagai sesuatu yang urgen.

Dalam filsafat Hindu misalnya, terdapat konsep kalacakra. Konsep ini menggambarkan waktu sebagai roda waktu yang terus berputar. Menurut mereka, ada masa di mana waktu berputar untuk menggenapi siklus karma. Karenanya, masa kini menjadi pertaruhan bagi kehidupan yang akan datang, sebab masa kini tak lain ladang bagi kriyamana (karma baru) bertumbuh dan menentukan hidup mereka dalam punarbawa (kelahiran kembali).

Di luar konsep Hindu itu, hampir semua peradaban dan filsuf menyetujui bahwa waktu serupa emas, uang, atau benda berharga lainnya. Beberapa bahkan meyakini waktu lebih berharga dari itu semua. Ibnu Qayyim misalnya, beliau menyatakan bahwa membuang waktu lebih berbahaya dari kematian, sebab itu artinya seseorang akan terputus dari Tuhan beserta negeri akhirat yang dijanjikan.

Patience is Bitter, But It’s Fruit is Sweet

Ungkapan Jean-Jacques Rousseau yang menjadi sub judul bagian ini menggambarkan kesabaran sebagai kunci untuk meraih rasa manis dalam kehidupan. Ia adalah kunci bagi tiap orang yang ingin menggenggam dunia berikut liarnya waktu yang menjadi sang anjing penjaga.

Keliaran waktu tak lepas dari sifatnya yang ireversibel (tidak dapat kembali). Di hadapan waktu, masa kini menjadi sesuatu yang harus dipergunakan sebijak mungkin. Seremeh apa pun itu, tiap pilihan hari ini akan membawa manusia ke jenis masa depan berbeda.

Bila diibaratkan, mungkin waktu dan kesabaran itu bagaikan penenun dengan kain. Penenun adalah kesabaran yang merangkai benang satu demi satu. Adapun kain adalah waktu yang akan menjadi barang bernilai, hanya jika penenun tidak hilang arah dalam prosesnya.

Perpaduan dua hal ini adalah senjata mematikan. Setidaknya begitulah yang diungkapkan Leo Tolstoy dalam novel War and Peace. Sang maestro asal Rusia itu menggambarkan keduanya sebagai sepasang prajurit hebat. Baginya, hanya dengan dua prajurit tersebut, seribu perang pun pasti akan dilalui dengan kemenangan.

Entropic Arrow of Time

Apabila waktu dan kesabaran terpisah dalam prosesnya, maka insan bersangkutan tak pelak seperti melemparkan diri ke pandemonium. Dia akan berdiri di persimpangan yang menawarkan arah menuju masa depan yang samar dan tak menentu.

Sebabnya, ketergesaan cenderung membuat seseorang mengambil keputusan keliru. Tindakan impulsif atas dasar efisiensi itu akan membuat seseorang kehilangan peluang emas yang barangkali masih diperam waktu.

Namun, konsekuensi mengerikan dari hilangnya sabar sebenarnya terletak dari perangai waktu yang sering diumpamakan sebagai anak panah. Bagaimanapun, anak panah yang dilepas tak bisa ditarik kembali. Masalahnya, setiap peristiwa cenderung meningkatkan ketidakteraturan (entropi) dalam sistem. Dalam ranah sosial, peningkatan entropi dapat dianalogikan sebagai bertambahnya konsekuensi dari tiap tindakan.

Dalam kasus KRL Bekasi misalnya, terlepas dari ketiadaan palang di perlintasan Ampera, panah waktu dilesatkan oleh sopir taksi tepat saat ia memutuskan melaju melintasi rel. Konsekuensinya adalah efek berantai mengerikan seperti yang telah kita ketahui.

Kecelakaan tersebut tidak hanya meningkatkan entropi yang berdampak pada materi, tapi secara “metaforis” turut menyentuh psikologi. Kecelakaan itu pun dalam waktu singkat memicu trauma kolektif pada warga Jabodetabek.

Buktinya, sehari pasca kejadian, banyak media mengabarkan bahwa gerbong wanita yang biasanya padat, mendadak sepi. Trust issue membuat banyak penumpang lebih memilih berjejalan di gerbong tengah. Lalu, ada cuitan pengguna media sosial yang mengatakan bahwa mereka secara sadar berusaha menghindari penggunaan kereta api sementara waktu. Rangkaian respon itu menunjukkan satu ketergesaan bisa mengguncang sistem yang sebelumnya dianggap aman.

Sabar di Dunia yang Terus Berlari

Waktu dengan segala misterinya patut diwaspadai sebagai ranjau tersembunyi di padang yang disangka aman. Ia adalah sesuatu yang bertapa, menunggu manusia dan semua variabel di dunia menyalakan tombol on, kemudian meledak.

Manusia tidak akan pernah tahu kapan mereka menginjaknya, atau memasuki radar jangkauannya, sebab manusia adalah makhluk buta. Mereka buta akan masa depan, juga buta akan rahasia yang diperam semesta. Satu-satunya yang membuat mereka istimewa adalah anugerah akal, anugerah untuk berpikir.

Sebagai makhluk yang dapat menimbang baik-buruk, serta bisa belajar dari masa lalu, sepatutnya manusia paham urgensi sabar. Sabar hakikatnya adalah tali kekang bagi waktu yang liar. Maka, apabila manusia ingin mengendalikan waktu, pertama-tama mereka harus memiliki kesabaran dalam diri mereka.