Redefinisi Manusia dalam Diskursus Sains-Agama

“Siapa nenek moyang manusia?”

Pertanyaan ‘sederhana’ ini tiba-tiba muncul di benak saya. Bagi orang yang beragama abrahamik, mereka sepakat bahwa manusia berasal dari sepasang manusia bernama Adam dan Hawa, di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa umat manusia sekarang berasal dari keturunan Nuh (Abul Basyar Ats-Tsani).

وَلَقَدْ نَادٰىنَا نُوْحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيْبُوْنَۖ ۝٧٥وَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۖ ۝٧٦ وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ ۝٧٧

“Sungguh, Nuh benar-benar telah berdoa kepada Kami dan sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa. Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar. Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi)”. (QS. Ash-Shaffat. 75-77).

Maka sebagai muslim tentu kita mengimani ayat Al-Quran yang menjelaskan genealogi umat manusia ini. Menariknya kepercayaan itu barangkali diuji ketika pembaca menghadapi Teori Evolusi Manusia milik Charles Darwin. Pada akhir bab VI dalam buku yang berjudul The Descent of Man (1871), ia menguraikan bagaimana silsilah manusia dalam rentang waktu yang sangat lama bermula dari organisme laut sederhana, melewati tahap mamalia dan monyet (Catarrhine) di masa lalu dan kemudian berevolusi menjadi manusia seperti yang dikenal sekarang. Saya turut mengapresiasi usaha Charles Darwin sebagai Bapak Biologi Modern dalam menjelaskan asal-usul manusia.

Namun meski kedua topik tadi tampak memiliki ranah pembahasan yang berbeda, opini saya; agama turut berkaitan dengan sains begitu pula sebaliknya. Tulisan ini berupaya untuk menciptakan konvergensi harmoni alih-alih dualitas.

Prinsip saya berseberangan dengan Non-Overlapping Magisteria (NOMA), sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Stephen Jay Gould pada tahun 1977. Bila Stephen dengan NOMA-nya secara sengaja memisahkan domain antara sains dan agama agar tidak saling bersentuhan atau menghindari konflik di kepala dengan menciptakan pemisah, saya justru menyatakan bahwa titik temu sejarah manusia dapat dijelaskan dengan keduanya, melengkapi tanpa saling menjatuhkan.

Dalam taksonomi, seluruh makhluk hidup diklasifikasikan sesuai persamaan dan perbedaan sifatnya, membentuk tingkatan hierarki yang disebut taksa, dari yang paling umum (domain/kerajaan) hingga paling spesifik (spesies bahkan subspesies). Sementara dalam antropologi, kita banyak mengenal manusia dengan sebutan Homo Habilis, Homo Erectus, Homo Neanderthalensis, Homo Sapiens dan masih banyak lagi.

Di sinilah titik krusial yang barangkali memicu kebingungan. Saat belajar biologi, tidak ada satu individu tunggal yang bisa ditunjuk sebagai spesies pertama, karena evolusi adalah proses perlahan yang terjadi pada tingkat populasi selama ribuan generasi, bukan perubahan mendadak dari satu spesies ke spesies lain dalam satu kelahiran. Manusia sekarang ini yang disebut sebagai Homo Sapiens diakui berevolusi dari nenek moyang primata mirip kera di Afrika. Sementara dalam kepercayaan agama, manusia berasal dari Adam yang diciptakan dari tanah oleh Allah SWT. langsung dan dibekali ilmu pengetahuan sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ ۝١١

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-Mu. Lalu, Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud. (QS. Al-A’raf: 11)

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٣١

“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!'”(QS. Al-Baqarah: 31)

Sampai di titik ini, jika ditanyakan sekali lagi mengenai nenek moyang manusia, barangkali kita dihadapkan pada dua kutub pilihan besar: Mau pilih sains atau agama? Seolah-olah kita dituntut untuk mengingkari salah satunya, padahal bukan begitu. Pertama-tama, kita perlu memahami konsep Kreasionisme di dalam agama-agama abrahamik dimana penciptaan bukanlah hal yang terjadi kebetulan melainkan ada karena kekuasaan Tuhan. Dalam Islam kita mengenal konsep itu dalam kalimat “Kun Fayakun” yang familiar didengar:

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٨٢

“Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka, jadilah (sesuatu) itu.” (QS. Yasin: 82)

Maka model penciptaan dari dua dikotomi yang berbeda ini dapat ditemukan jalan tengahnya dengan Evolusi Teistik; sebuah pandangan bahwa ajaran Tuhan mengenai penciptaan sejalan dengan pemahaman ilmiah modern mengenai evolusi biologi. Francis Sellers Collins, tokoh ahli genetika yang aktif mempromosikan diskursus korelasi antara sains dan teologi kristen di The BioLogos Foundation berpandangan bahwa “evolusi terjadi seperti yang digambarkan oleh ahli biologi, tetapi di bawah arahan Tuhan”. Dalam artian lain bahwa Tuhan merancang hukum alam (seperti genetika dan seleksi alam) agar kehidupan berevolusi menuju titik sebagaimana yang Ia kehendaki. Dengan demikian Evolusi Teistik merangkul dua ranah yang berbeda menjadi satu konklusi pemahaman yang tidak saling kontradiktif.

Bagaimana dari sudut pandang Islam? Shoaib Ahmed Malik, seorang akademisi dan teolog muslim berpendapat bahwa diskusi ini membagi orang-orang ke dalam empat pandangan berbeda diantaranya: Non-evolusionisme, Eksepsionalisme manusia, Eksepsionalisme Adam, dan terakhir Non-eksepsionalisme.

Pandangan pertama secara jelas menolak konsep ‘makroevolusi’. Manusia maupun monyet hari ini sama halnya dengan ribuan tahun lalu, tidak ada perubahan sama sekali kecuali kecil (mikroevolusi). Non-evolusionisme berpandangan bahwa manusia dan monyet adalah dua makhluk yang sama sekali berbeda sejak awal penciptaan (dengan kata lain tidak ada namanya nenek moyang bersama).

Pandangan kedua menyatakan bahwa evolusi hanya terjadi kepada hewan dan tumbuhan, sementara manusia tidak; ia adalah makhluk spesial. Eksepsionalisme manusia berpandangan bahwa Adam adalah manusia pertama dan keturunannya berevolusi seiring waktu (mikroevolusi).

Adapun Eksepsionalisme Adam menjadi pandangan yang paling unggul saat ini. Sedikit menarik karena secara jelas membedakan konsep manusia secara jasad dan spiritual. Eksepsionalisme Adam berpandangan bahwa semua manusia itu berevolusi kecuali Adam. Dengan kata lain, saat Adam dan Hawa diciptakan oleh Tuhan, sudah ada makhluk dengan raga “manusia” yang hidup lebih dahulu dan berevolusi dari LUCA. Pandangan unggul ini berpendapat bahwa Adam adalah manusia “spesial” pertama di samping makhluk hominin purba (seringkali disebut manusia pra-Adam) yang sudah hidup lebih dahulu.

Pandangan terakhir jelas berbeda dengan ketiga lainnya. Non-eksepsionalisme berpandangan bahwa evolusi terjadi pada semua makhluk. Dengan kata lain bahwa perubahan bermula dari Last Universal Common Ancestor (LUCA), yaitu makhluk bersel satu hingga menjadi hewan maupun manusia yang kita ketahui sekarang. Sederhananya, manusia tidak terlahir instan sebagaimana yang kita imani.

Pembaca mungkin terbesit melihat diskursus hangat ini, karena memang begitulah diskusi “siapa nenek moyang manusia?” berjalan. Yang pasti sebagai muslim yang ilmiah, pandangan pertama tentu bertentangan dengan sains (sebab menolak evolusi) sementara pandangan terakhir bertentangan dengan teologi (sebab menolak penciptaan Adam yang istimewa).

“Saya punya pandangan bahwa sains dalam kacamata manusia bergerak menuju muara pengetahuan Tuhan, berkembang dan terus diperbaiki mendekati menuju kesempurnaan.” Maknanya adalah umat manusia dalam lintas sejarah selalu berusaha memahami alam semesta. Sains terus berusaha melakukan pendekatan jawaban untuk semua fenomena yang terjadi meski terbatas pada metode ilmiahnya. Kutipan saya pribadi yang dimuat pada rubrik berjudul Dinamika Asimtotik Sains itu menegaskan konsep utama Eksepsionalisme Adam.

Sebelum terburu-buru menerima sepenuhnya pendapat ketiga ini, ada satu hal yang diperdebatkan. Eksepsionalisme Adam berpendapat lagi bahwa sebagian keturunan Adam kemudian melakukan hubungan dengan makhluk beraga manusia yang sudah hidup lebih dahulu itu, sehingga (kedengarannya) mengonfirmasi jalur nasab kita kepada Adam secara teologis (agama) dan ketersinambungan taksonomi kita yang hidup sekarang kepada Homo Sapiens secara biologis (sains). Dua pendapat berbeda datang dari kalangan dosen muslim.

David Solomon Jalajel, seorang dosen teologi Islam dari Afrika Selatan dan Konsultan Institut Penelitian di King Saud University dalam makalahnya yang berjudul Tawaqquf and Acceptance of Human Evolution (2018) menjelaskan bahwa penciptaan Adam dan Hawa adalah sam’iyyāt atau pengetahuan yang diwahyukan, sementara organisme lainnya tidak termaktub. Menurutnya, seyogyanya seseorang mematuhi prinsip tawaqquf atau bersikap netral pada hal-hal yang tidak dikonfirmasi ataupun dibantah oleh kitab suci secara eksplisit. “Mungkinkah keturunan Adam menikah dengan makhluk hominin purba yang sudah hidup lebih dahulu?”, David Solomon Jalajel memilih posisi netral dengan prinsip Tawaqquf-nya mengenai pandangan Eksepsionalisme Adam.

Pada kesimpulan akhir makalahnya, David memberi keluwesan bahwa pembaca dapat saja mempercayai adanya evolusi manusia sekaligus mengimani penciptaan Adam yang spesial karena antar keduanya tidak punya pertentangan yang melekat. Dengan kata lain, pembaca bisa saja menerima pandangan Eksepsionalisme Adam.

Shaykh Rafaqat Rashid memiliki pendapat yang kontras. Dosen Kehormatan di University of Leeds Inggris sekaligus pendiri Al-Balagh Academy ini dalam makalah publikasinya yang berjudul Exploring Tawaqquf in Islamic Theology (2024) menjelaskan bahwa prinsip tawaqquf yang dipahami oleh David adalah sebuah pemahaman yang salah kaprah. Ia berpandangan bahwa konsep “Nafsin Wāḥidah” di dalam Al-Qur’an telah menjadi konsensus yang menutup celah mengenai kemungkinan persilangan biologis.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ۝١

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS. An-Nisa’: 1)

Bila David Solomon Jalajel mencoba menjembatani ranah sains dengan agama lewat tawaqquf-nya, maka Shaykh Rafaqat Rashid menegaskan soal supremasi wahyu bahwa sains harus tunduk pada agama, bukan sebaliknya, dan pandangan Eksepsionalisme manusia ini menjadi titik temu semestinya bagi pertanyaan sederhana di atas sebelumnya.

Akhir diskusi, bila kita bertanya-tanya “Siapa nenek moyang manusia?” atau barangkali siswa TMI Al-Amien melontarkan pertanyaan itu di kelas, maka jawabannya adalah ADAM sebagaimana yang sudah diuraikan Shaykh Rafaqat Rashid, ia adalah manusia pertama dan tidak ada manusia lain sebelumnya sebagaimana bunyi pandangan kedua tadi.

Ini sekaligus menegaskan kepada kita yang bergelut di ranah pendidikan (Pengajar IPA, IPS dan PAI/’Ulum Dirosat Islamiyah) bahwa tidak pantas menyematkan nama manusia pada seluruh makhluk yang beraga serupa dengan manusia sebelum Adam, melainkan menyebutnya sebagai makhluk purba, Hominin Purba atau Hominin pra-Adam yang sudah diciptakan lebih dahulu.

Paragraf ini menjadi penutup bagi tulisan saya yang berupaya untuk menciptakan konvergensi harmoni, tanpa mengabaikan ayat penciptaan di dalam Al-Qur’an atas temuan ilmiah mengenai sejarah manusia. Saya berharap kepada seluruh pembaca di manapun berada, terutama cendekiawan alumni Al-Amien Prenduan yang berkecimpung khusus di bidang Al-Quran dan Hadits, Perbandingan Agama, Antropologi maupun Biologi untuk turut serta mengkritisi dan menyempurnakan tulisan saya yang tentunya tidak luput dari kekeliruan.