Menjadi Pendidik dan Uswah Hasanah Digital

Uswah hasanah tidak pernah selesai di gerbang pesantren. Ia terus bergerak, bahkan hingga ke layar gawai yang kita sentuh setiap hari. Keyakinan ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan sesuatu yang penulis saksikan sendiri sebagai alumnus TMI Al-Amien Prenduan yang hingga kini masih mengamati para kiai dan asatiz di ruang digital: dalam unggahan mereka, dalam cara mereka merespons, dalam pilihan diam mereka yang pun berbicara.

Pendidikan keteladanan (uswah hasanah) yang penulis peroleh sejak menjadi santri (thalibul ‘ilmi) dari para kiai dan asatiz di TMI senantiasa tetap sama dan tidak berubah, sebuah panggilan untuk menjaga keutuhan diri sebagai seorang pendidik yang ilmunya hidup (ilmu amaliyah) karena akhlaknya terjaga (amal ilmiah). Nilai inilah yang hadir secara utuh, baik di lingkungan pesantren maupun di ruang digital.

Nilai yang Melampaui Ruang Kelas

Dalam kerangka pendidikan di TMI, nilai (qimah) merupakan komponen puncak yang harus dicapai setelah dimensi kognitif (pemahaman) dan afektif (penghayatan), hingga akhirnya tampak secara lahiriah pada perilaku dan keterampilan santri dalam kehidupan sehari-hari. Uswah hasanah menjadi salah satu mekanisme penguatan nilai yang dipraktikkan dengan tegas oleh para kiai dan asatidz, bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai teladan moral dan spiritual.

Konsep ini berakar pada firman Allah Swt.: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Uswah hasanah yang dimaksud bukanlah sekadar perilaku baik di hadapan santri, melainkan konsistensi antara hati, pikiran, dan tindakan di mana pun berada. Nabi Muhammad saw. tidak hanya mendidik dari mimbar, beliau mendidik melalui cara beliau berbicara di pasar, memperlakukan tetangga, dan bersabar dalam menghadapi tekanan. Keteladanan adalah keseluruhan hidup, bukan penampilan atau pencitraan terpilih.

Ruang Digital: Arena Baru bagi Ujian Lama

Kehadiran teknologi digital menciptakan ruang baru untuk berdialog dan berbagi ilmu. Namun ruang ini tidak sepenuhnya netral, karena dipengaruhi oleh logika platform dan preferensi pengguna. Ia dirancang untuk memancing reaksi cepat, algoritma kerap lebih mendorong konten yang memicu emosi dibandingkan yang mengedepankan kedalaman substansi. Di sinilah sisi-sisi manusia yang paling rentan menjadi terlihat: luapan amarah yang tiba-tiba, ego yang ingin menang dalam perdebatan, atau keinginan untuk tampil berlebihan (flexing) demi menjaga citra di hadapan pengikut.

Para kiai dan asatidz menghadapi tantangan yang tidaklah ringan: mewarisi tanggung jawab sebagai figur uswah hasanah di ruang yang tidak memberi jeda untuk berpikir, di mana satu komentar terburu-buru bisa beredar lebih luas dari seribu ceramah yang terencana. Dan yang membuat tantangan ini semakin berat adalah para santri yang mengamati secara diam-diam. Mereka tidak hanya mendengar apa yang diajarkan di ruang kelas, mereka menyaksikan bagaimana gurunya bereaksi saat diprovokasi di kolom komentar, bagaimana gurunya memilih kata saat emosi sedang memanas, bahkan bagaimana gurunya bersikap saat tidak ada yang terlihat sedang menonton.

Keteladanan yang Bekerja dalam Diam

Penulis pernah menyaksikan sebuah momen kecil yang membekas. Di tengah polemik keagamaan yang sedang memanas di media sosial, seorang asatiz tidak membalas dengan bantahan panjang, tidak ikut menyebarkan narasi yang memperkeruh suasana. Beliau memilih mengunggah sebuah tulisan pendek tentang pentingnya menjaga prasangka baik (husnuzan) di tengah perbedaan, tanpa menyebut nama, tanpa menunjuk siapapun. Dalam hitungan jam, tulisan itu beredar di antara para alumni. Bukan karena viral, melainkan karena terasa seperti air di tengah kekeringan.

Inilah uswah hasanah digital yang sesungguhnya. Cara seorang pendidik menyikapi perbedaan pendapat, bagaimana beliau menulis, menilai, berkomentar, hingga bercanda, semuanya adalah kurikulum yang tidak tertulis namun paling mudah diserap. Ketika mereka mengedepankan klarifikasi (tabayun) daripada provokasi, menyebarkan inspirasi alih-alih sensasi, dan menjaga kehormatan orang lain bahkan dalam perdebatan yang sengit. Mereka sedang mengajarkan adab Islam dalam format paling kontekstual yang ada: format kehidupan sehari-hari di ruang digital.

Dengan cara itulah, tanpa perlu mimbar ceramah panjang, mereka menunjukkan bahwa setiap konten yang dibagikan memiliki tanggung jawab moral, dan bahwa teknologi digital dapat menjadi sarana ibadah, bukan sekadar hiburan atau panggung pencitraan.

Empat Langkah Menuju Uswah Hasanah Digital

Pada titik ini, penulis ingin menegaskan bahwa menjadi pendidik dan uswah hasanah digital bukan berarti menampilkan kesempurnaan. Justru sebaliknya, ia adalah kesadaran untuk terus memperbaiki niat, sikap, dan perilaku. Dari pengamatan penulis, perjalanan itu dapat dimulai dari langkah-langkah yang sederhana namun bermakna.

Pertama, membangun literasi digital yang berlandaskan nilai Islam: memverifikasi sebelum berbagi, menahan jari sebelum membalas komentar yang memancing emosi, melatih kepekaan untuk membedakan informasi yang memberdayakan dari yang sekadar menghasut.

Kedua, menjaga keselarasan antara kehidupan nyata dan digital sebagai cermin kejujuran spiritual. Jika seorang pendidik mengajarkan kesederhanaan di ruang kelas namun memamerkan kemewahan di beranda media sosialnya, kesenjangan itu tidak luput dari pengamatan santri, dan mereka akan belajar dari kesenjangan itu, bukan dari kata-katanya.

Ketiga, memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan inspirasi melalui tulisan reflektif, humor yang mendidik, atau kisah-kisah yang menguatkan iman. Konten semacam ini tidak perlu viral untuk bermakna, cukup satu orang yang tergerak, maka manfaatnya terus mengalir.

Keempat, berkomitmen pada amal jama’i (kerja kolektif) dalam kebaikan. Dakwah di ruang digital menuntut komitmen bersama, bukan hanya kehebatan individu. Yang bertahan bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling konsisten dan paling banyak bergandengan tangan.

Majelis Tanpa Batas

Pada akhirnya, esensi menjadi pendidik dan uswah hasanah digital tidak pernah berubah: menuntun manusia menuju kebaikan. Hanya ruangnya yang bergeser: dari ruangan dengan papan tulis ke papan ketik, dari penyampaian di mimbar ceramah ke unggahan, komentar, dan jejak digital abadi yang dibagikan.

Tentu, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada hari-hari di mana jari lebih cepat dari akal, di mana niat baik terbungkus diksi yang keliru, di mana godaan untuk sekadar tampil terasa lebih dekat daripada dorongan untuk benar-benar memberi manfaat. Namun justru di sinilah letak keindahan uswah hasanah, ia bukan tentang sempurna, melainkan tentang terus kembali.

Menjadi uswah hasanah digital berarti menyadari bahwa setiap “klik” bisa mengandung nilai, bisa menjadi pahala atau dosa. Di tangan para kiai dan asatiz yang berakhlak, ruang digital dapat menjelma menjadi majelis ilmu yang luas tanpa batas, tempat di mana cahaya pendidikan pesantren tetap hadir dengan wajah yang lembut, humanis, dan membawa ruh ketuhanan.