
Generasi muda Indonesia—terutama Gen Z dan Gen Alpha—sedang berada di persimpangan yang pelik soal budaya membaca. Di pesantren, membaca memang masih hidup, tetapi sering kali hadir sebagai rutinitas yang harus dijalani, bukan kesadaran yang tumbuh dari dalam. Membaca hari ini jarang lagi tentang memahami, lebih sering tentang merasa sudah tahu. Mata bergerak cepat dari kata ke kata, halaman dibalik tanpa jeda, paragraf dilewati tanpa sempat diajak bicara. Buku yang seharusnya menjadi jendela dunia justru kita tatap dengan mata setengah tertutup. Dari situlah kegelisahan muncul, apakah kita sungguh membaca, atau hanya merasa telah melakukannya?
Di rak-rak buku yang tersusun rapi, selalu ada setidaknya satu buku yang kita miliki, namun jarang benar-benar kita pahami. Cinta generasi muda pada buku sebenarnya belum hilang. Kita masih menyukainya, masih merasa dekat dengannya, hanya saja membaca sering dilakukan dengan tergesa, tanpa kesabaran untuk tinggal lebih lama. Padahal, buku tidak pernah memaksa. Ia hanya menunggu. Menunggu dibuka, dibaca perlahan, dan dipahami dengan sungguh-sungguh. Buku yang benar-benar dibaca tidak hanya memberi informasi, tetapi mengetuk pikiran dan mengajak kita berpikir ulang tentang banyak hal.
Ada satu tempat yang sering kita lewati, tetapi jarang benar-benar kita datangi, “perpustakaan”. Di sanalah kesabaran diuji. Duduk diam bersama satu buku kini terasa asing. Membaca bahkan kerap dianggap keanehan. Mereka yang tenggelam dalam halaman-halaman sering dicap “kutu buku”, seolah membaca bukan kebiasaan yang wajar bagi anak muda. Stigma semacam ini pelan-pelan menciptakan jarak. Buku tak lagi dipandang sebagai teman bertumbuh, melainkan sebagai beban atau sesuatu yang membosankan. Di sisi lain, memilih bacaan fiksi—terutama novel—sebagai pelarian tentu bukan kesalahan. Namun ketika membaca berhenti sebatas hiburan, ruang untuk memperluas pengetahuan dan melatih cara berpikir pun menyempit. Minat baca bukan hanya menurun, tetapi kehilangan arah dan kedalaman.
Dari kebiasaan membaca yang terbentuk hari ini, lahir persoalan yang lebih dalam dari sekadar soal minat. Kita menjadi “buta”, bukan karena tak mampu membaca huruf, melainkan karena enggan berlama-lama memahami makna. Kesabaran untuk tinggal bersama satu gagasan semakin langka di tengah budaya serba cepat. Kita terbiasa berpindah, takut berhenti, cemas pada hening, dan enggan berlama-lama bersama pikiran sendiri. Membacapun akhirnya hanya menjadi kewajiban, tugas yang harus diselesaikan, bukan ruang untuk berdialog dengan diri sendiri. Kita membaca agar selesai, bukan agar menetap. Halaman demi halaman berlalu tanpa sempat meninggalkan jejak makna.
Barangkali yang kita butuhkan bukan kemampuan melihat yang lebih tajam, melainkan kesediaan untuk memperhatikan. Tidak perlu ambisi besar. Satu buku, satu waktu, dan kecepatan yang diperlambat sudah cukup untuk memulai kebiasaan baru. Ketika membaca dilakukan dengan pelan, kata-kata tidak sekadar lewat, tetapi tinggal. Kalimat tidak hanya terbaca, tetapi mengendap. Memberi waktu pada buku sejatinya adalah memberi waktu pada diri sendiri.
Mungkin “si buta” bukan mereka yang tidak membaca, melainkan kita yang terlalu tergesa untuk benar-benar melihat. Buku tetap setia menunggu, tidak menuntut banyak, hanya sedikit waktu dan kehadiran. Dan ketika kita berhenti sejenak, membuka satu halaman dengan sungguh-sungguh, perlahan kita belajar melihat kembali; dunia dan diri kita sendiri di dalamnya.

Bagus tulisannya bisa menjadi inspirasi untuk semua kalangan bukan hanya genZ saja. Baarakallah ukhti
Masyaallah, dari setiap kalimatnya dipenuhi dengan nuansa yang cocok untuk zaman sekarang, menyeret pembaca untuk terus mengikuti alurnya. Barakallah fiikum ustadzah
Terima kasih shar-e ilmunya, bahwa tahu belum tentu paham dan dalam buku banyak makna yang bisa kita belum tahu menjadi paham