Di pondok pesantren, kita tidak pernah benar-benar bertanya kemana hidup akan pergi. Arah sudah tersedia. Jam bangun ditentukan, waktu belajar diatur, bahkan cara duduk, makan, berjalan punya makna dalam aturan. Hidup berjalan dalam barisan, tak ada pertanyaan. Kita mengeluh, tentu. Kita lelah, sering. Kadang merasa seperti hidup dalam kepungan aturan. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang mungkin terlambat jauh untuk kita sadari, disana hidup kita punya ritme dan tujuan yang jelas, meski tujuan itu bahkan sedikitpun tidak kita pilih.

Di pondok, kita hidup bersama. Penderitaan jarang benar-benar sendirian. Capek dibagi, rindu dibagi, bahkan hukuman dibagi. Kita ditempa dalam kebersamaan yang memaksa, dan justru karena itu membentuk. Saat itu, kita belum mampu memaknai apapun. Kita hanya menjalani. Dalam bahasa Heidegger, kita hidup dalam modus “das Man”—hidup sebagaimana “orang-orang” hidup. Kita mengikuti pola, tak ada refleksi mendalam, hanya berpikir begitulah caranya berada di sana.

Namun semua berubah ketika kita keluar. Arah yang dulu begitu jelas, tiba-tiba berbanding terbalik. Kabur. Tidak ada lagi bel yang membangunkan. Tak ada mu’alliem yang mengawasi. Tak ada jadwal yang memaksa kita bergerak. Kita bebas, dan justru disitulah kebingungan dimulai. Dunia luar tidak menghitung kita ketika malas, tidak menegur ketika lalai, dan tidak selalu memberi makna pada usaha kita. Kita mulai merasakan apa yang oleh eksistensialisme disebut “keterlemparan”, kita ada di dunia, tetapi tanpa pegangan yang jelas.

Barulah di titik ini, pondok hadir sekali lagi dalam ingatan kita, hadir dalam bentuk yang lain, katakan sangat indah, bukan sebagai tempat yang sumpek dan mengekang. Kita baru sadar bahwa pondok tidak melulu memberi ilmu, ada struktur eksistensial yg dibangun; rasa waktu, rasa tujuan, dan rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Saat dunia luar menuntut kita menentukan segalanya sendiri, kita mulai merindukan masa ketika hidup, betapapun kerasnya, tidak perlu kita tafsirkan sendirian.

Sartre berkata bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan itu terasa nyata setelah kita keluar dari pondok. Di sana, tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan sistem. Jika gagal, itu urusan kita. Jika kosong, itu juga milik kita. Tidak ada aturan yang bisa kita benci, dan justru karena itu kita sering lelah. Pondok, yang dulu terasa menekan, kini tampak seperti tempat dimana kebebasan kita dibimbing, bukan dilempar seenaknya saja.

Dalam cahaya eksistensialisme, luka-luka kehidupan luar menjadi kunci pemahaman. Kita tak tiba-tiba mencintai pondok karena romantisasi, justru karena dunia luar memberikan akumulasi luka dan beratnya hidup tanpa arah. Ingatan tentang bangun subuh, antre kamar mandi, belajar sampai malam, berlarian untuk muhadloroh, dan hidup dalam keterbatasan kini berubah menjadi tanda ketahanan. Luka membuat kita mampu membaca ulang masa lalu dengan objektif.

Heidegger menyebut hidup autentik sebagai hidup yang sadar akan keterbatasannya. Kita mungkin baru hidup autentik setelah keluar dari pondok, ketika nilai-nilai yang dulu dipaksakan kini harus kita pilih sendiri. Disiplin tidak lagi karena takut di-‘iqob, toh, karena kita tahu hidup tanpa disiplin mudah runtuh. Do’a bukan lagi karena terjadwal di mading serambi masjid, toh, kita tahu betapa sunyinya dunia tanpa sandaran batin.

Eksistensialisme tidak meminta kita kembali ke pondok. Tak juga meminta dan mendorong kita meromantisasi masa lalu. Eksistensialisme membantu dan menawarkan kita memahami satu hal tentang arah yang dulu kita lawan ternyata memberi fondasi untuk menghadapi hidup tanpa arah. Pondok adalah fase ketika makna dipinjamkan. Dunia luar adalah fase ketika makna harus kita perjuangkan sendiri.

Maka ketika kita berkata bahwa kehidupan pondok adalah part terbaik dalam hidup, itu bukan karena disana paling menyenangkan. Tapi karena disana membentuk kita sebelum kita cukup dewasa untuk berterima kasih padanya. Dan kini, setelah arah pergi, setelah hidup mengoyak kita dengan kebebasan yang berat, kita akhirnya mengerti, bahwa makna tak selalu hadir saat pengalaman berlangsung, makna sering lahir jauh setelah kita pergi.