
Kilas balik ke dua tahun silam, tepatnya tanggal 16 September 2023, kala itu saya menjadi sekretaris panitia ujian untuk ke sekian kalinya. Setelah berkutat sekian jam di depan komputer untuk menuntaskan tugas kepanitiaan, saya berdiskusi cukup panjang membahas seputar pondok dengan sekretaris senior saya, alih-alih kembali ke kamar setelah pekerjaan selesai.
Kami sempat membahas kurikulum TMI Al-Amien Prenduan yang berbasis penanggalan hijriah. Topik diskusi yang lumayan dalam itu muncul dari pertanyaan sederhana: “Bagaimana nantinya santri yang mendaftar ke TMI di tahun yang akan datang?” mengingat bahwa selisih antara tahun ajaran TMI (yang berbasis hijriah) dengan nasional (yang berbasis masehi) semakin jauh. Saya menyoroti beberapa hal seperti kehadiran santri syu’bah setahun penuh, ketertinggalan pelajaran bagi santri yang mendaftar di gelombang terakhir hingga ide pergantian Mudir Marhalah Tsanawiyah secara periodik.
Saat diskusi, masing-masing dari kami mencoba menebak tahun dimana selisih antara tahun ajaran TMI dengan nasional mencapai selisih terjauh, saya menyebutnya dengan “Tahun Puncak”. Bermodalkan kertas bayanat kosong dan pulpen merah serta asumsi bahwa selisih umum tahun hijriah dan masehi adalah 10/11 hari, saya mencoba menghitung, menggambar garis yang membentuk gelombang, memberi titik-titik dan menambahkan keterangan tahun. Dua kali saya memvisualisasikan perhitungan dalam bentuk gelombang tadi dan menemukan bahwa tahun puncak itu jatuh pada tahun 2029 kemudian 2032.
Itu adalah diskusi dua tahun silam. Saya ingat betul momen itu sebab pernah mendokumentasikan “tahun puncak” itu berbentuk foto yang tersimpan rapi di galeri. Saya tidak berencana membahasnya kembali hingga sekitar sebulan lalu saat Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Amien Prenduan memberi batas waktu pengajuan judul penelitian akhir kepada seluruh mahasiswa Nihai’e termasuk saya. Saya hendak mengajukan problematika itu kepada Ust. Abd. Qadir Jailani, M.Pd.I., selaku dosen pembimbing yang pernah menjabat sebagai mudir marhalah tsanawiyah. Namun setelah bimbingan, beliau memberikan usulan tema judul penelitian lain, akhirnya saya mencoba menuangkan ide tersebut ke dalam rubrik ini.
Berangkat dari rasa penasaran terhadap “Tahun Puncak” yang saya maksud dua tahun silam, saya mencoba menyusun tabel data excel yang memuat asumsi waktu tahun ajaran TMI (Hijriah) dan Nasional, mencakup konversinya ke tanggal masehi, serta selisih hari antara tanggal akhir tahun ajaran nasional dengan tanggal awal tahun ajaran TMI.
Meskipun awalnya saya hanya berencana menulis sebuah esai abstrak, saya merasa perlu menyertakan data sebagai penguat gagasan yang saya tuangkan. Tabel ini saya susun sejak bulan Mei dengan bantuan data dari islamicfinder.org[1] dan kalkulasi manual yang dibantu oleh Gemini Google[2], menyusul grafik beberapa hari yang lalu. Proses pembuatan data memakan waktu lama karena yang saya hitung mencakup rentang waktu yang panjang, yakni 59 tahun ajaran, dari 1415-1416 H (1995-1996 M) hingga 1473-1474 H (2051-2052 M). Tabel data dan grafik tersebut dapat diakses oleh pembaca pada bagian akhir tulisan.
Dengan berbekal asumsi bahwa:
- Tahun ajaran TMI berlangsung dari 12 Syawal hingga 23 Sya’ban.
- Mid Semester I TMI dimulai pada 13 Dzulhijjah.
- Semester II TMI dimulai pada 23 Rabiul Awal.
- Tahun ajaran nasional berlangsung dari 14 Juli hingga 26 Juni.
- Semester II Nasional dimulai pada 7 Januari.
saya mengamati bahwa tahun puncak tersebut terjadi pada tahun 2034, sedikit melenceng dua tahun dari tebakan saya dua tahun silam. Tahun puncak ini tepatnya terjadi pada dua tahun ajaran, yaitu 1455-1456 H (Januari-November 2034) dan 1456-1457 H (Desember 2034-Oktober 2035). Momen ini saya sebut puncak karena selisih antara kedua tahun ajaran tersebut berada di angka terjauh yaitu rentang 173 hingga 184 hari, yang kurang lebih setara dengan durasi satu semester di TMI Al-Amien Prenduan. Situasi ini menjadi dilema bagi santri pendaftar baru, yang dihadapkan pada dua opsi: mendaftar dan mengikuti ketentuan yang berlaku meskipun KBM di TMI telah berlangsung, atau menunggu tahun ajaran berikutnya untuk memulai studi.
Merujuk pada garis gelombang serupa zigzag yang pernah saya buat, atau dalam matematika dikenal sebagai triangle wave[3], tahun ajaran 1455-1456 H (2034 M) dan 1456-1457 H ( 2034-2035 M) merepresentasikan titik puncak kurva. Sementara itu, titik lembah kurva berawal pada tahun ajaran 1439-1440 H (2018-2019 M) dan akan berakhir pada tahun ajaran 1473-1474 H (2051-2052), sekitar 26 tahun yang akan datang.
Sebagai santri pendaftar tahun 1437 H./2016 M., angkatan saya termasuk pada posisi titik lembah kurva. Kondisi ini memungkinkan saya dan rekan-rekan untuk langsung masuk ke kelas I TMI setelah menunggu beberapa hari dimulainya tahun ajaran, dengan kata lain kami hanya berstatus sebagai santri Syu’bah hanya berkisar beberapa minggu saja. Berbeda dengan beberapa tahun terakhir, di mana santri baru masuk ke kelas persiapan sebab beberapa faktor di antaranya waktu pendaftaran yang terlambat sebagai konsekuensi dari selisih waktu antar tahun ajaran. Fenomena baru yang saya temui tahun ini adalah pengemasan kurikulum yang berbeda bagi santri baru pendaftar gelombang I, II, dan III. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pelaksanaan ujian secara umum, tetapi juga menciptakan tantangan dan pengalaman baru bagi panitia ujian khususnya termasuk saya saat ini sebagai sekretaris panitia ujian untuk terakhir kalinya.
Saya teringat akan ucapan Mudir Marhalah Tsanawiyah TMI Putra, KH. Abdullah Muhammady, M.Ag., ketika kumpul guru sebelum liburan pertengahan tahun, beliau menyebutkan bahwa ini adalah pengalaman perdana yang dialami oleh lembaga TMI Al-Amien Prenduan. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan (stakeholder) TMI tentunya perlu mempersiapkan diri menghadapi tahun puncak ini. Sebagai pencetak generasi Mundzirul Qoum, TMI perlu merancang kurikulum yang adaptif untuk menghadapi selisih tahun ajaran yang semakin melebar.
Mengenai visualisasi triangle wave, seperti yang saya singgung di awal, selisih mutlak antara tahun Hijriah dan Masehi adalah sebelas hari, meski pada tahun-tahun tertentu hanya sepuluh hari. Angka ini terus mengalami peningkatan secara kelipatan dan akan kembali ke kondisi normal setelah menyelesaikan satu periodik kurva. Saya tidak akan mencari Kelipatan Persekutuan Terkecil dengan variabel penanggalan yang begitu kompleks untuk mencari titik lembah atau konvergensi kedua awal tahun ajaran. Sebagai gantinya, saya menggunakan tabel data yang saya buat dan menunjukkan bahwa titik lembah pada triangle wave tersebut berulang secara periodik setiap 34 tahun.
Dengan keterbatasan waktu dan adanya gelombang pendaftaran santri baru yang bervariasi (I, II, dan III) pada ‘fungsi naik’ yang terjadi sekarang, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Menariknya, TMI sudah memiliki konsep kelas persiapan (Kelas Tamhidi untuk lulusan SD/MI/Sederajat dan Kelas I’dadi untuk lulusan SMP/MTs/Sederajat) yang diperuntukkan bagi santri yang tidak dapat memenuhi alokasi tatap muka pembelajaran yang seharusnya.
Tabel data yang telah saya buat, jika direpresentasikan sebagai triangle wave, dapat dibagi ke dalam enam fase yang mewakili kondisi normal, transisi, dan puncak. Fase-fase ini berbentuk fungsi naik dan fungsi turun[4], yang diwakili oleh abjad A hingga F. Berdasarkan tabel tersebut, tahun ajaran saat ini memasuki fase fungsi naik B. TMI sedang memasuki masa transisi pertama, di mana kurikulum adaptif tampaknya mendesak untuk ditelaah. Beberapa langkah yang diperlukan meliputi pembatasan waktu gelombang pendaftaran, penambahan jam pelajaran, intensifikasi materi pembelajaran, serta pelatihan bagi para guru pengajar, khususnya untuk santri baru (termasuk kelas persiapan dan kelas I TMI).
Berdasarkan asumsi saya bahwa mid semester I TMI berlangsung sekitar 63 hari dan semester II dimulai setelah 147 hari terhitung sejak awal pembukaan tahun ajaran baru, saya menyimpulkan bahwa pada fase fungsi naik C, TMI akan memasuki masa transisi kedua. Pada fase ini, pembelajaran semester I untuk santri kelas I hampir tidak memungkinkan karena alokasi waktu yang terbatas. Namun, kondisi ini dapat disiasati dengan memangkas alokasi jam KBM di semester II dan memindahkannya ke semester I jika memungkinkan. Dengan demikian, sebagaimana yang telah diterapkan pada tahun ini, TMI bisa menerapkan tiga kurikulum khusus yang berbeda-beda untuk santri baru pendaftar gelombang I, II, dan III secara simultan.
Adapun analisis saya untuk fase fungsi turun D dan E, pembelajaran semester I untuk kelas I TMI secara keseluruhan tidak lagi memungkinkan, mengingat sangat sedikitnya waktu yang tersedia untuk mencapai target pembelajaran dan TMI hampir bahkan sudah melewati KBM semester I. Oleh karena itu, Kelas Tamhidi dan I’dadi menjadi solusi sebagai kelas persiapan bagi santri baru, dengan konsekuensi penambahan masa studi selama kurang lebih setengah tahun. Adapun opsi lainnya, santri pendaftar dapat menunggu hingga pendaftaran di tahun ajaran berikutnya.
Berdasarkan pemahaman saya, pembahasan mengenai kurikulum di TMI setidaknya mencakup alokasi waktu pembelajaran, perencanaan kelas, dan waktu gelombang pendaftaran. Ini adalah sebuah tanggung jawab dan amanah yang mulia untuk memastikan pembelajaran di TMI Al-Amien Prenduan dapat berlangsung secara fleksibel di tengah kondisi selisih tahun ajaran yang fluktuatif. Salah satu ide yang saya diskusikan dua tahun silam adalah pergantian Mudir Marhalah Tsanawiyah secara periodik. Periode yang saya maksud adalah enam fase kondisi tahun ajaran TMI yang telah saya bagi. Dengan demikian, Mudir Marhalah Tsanawiyah akan mengisi jabatan sesuai dengan kondisi-kondisi tertentu, sebagai upaya sistematis untuk memahami pergeseran waktu dan memanfaatkannya sebagai pengalaman empiris guna merumuskan perencanaan pembelajaran dan kurikulum di Marhalah Tsanawiyah untuk periode mendatang.
Akhir kata, perlu diakui bahwa tulisan ini yang didasarkan pada observasi terbatas dan data yang disusun melalui asumsi, tidak luput dari kekeliruan. Tulisan ini hadir sebagai manifestasi kepedulian dan upaya kecil untuk mendeskripsikan tantangan serta memberikan rekomendasi bagi masa depan. Saya akan sangat senang dan terbuka bila para pembaca dan pemangku kepentingan (stakeholder) TMI Al-Amien Prenduan dapat memberikan kritik dan kontribusi yang konstruktif guna menyempurnakan analisa ini serta proyeksi yang akan terjadi dalam kurun waktu belasan hingga puluhan tahun mendatang.
Tabel Perbandingan Kalender Hijriah Tahun Ajaran TMI
