
Saya pertama kali mendengar istilah “Digital Native” ketika Pengasuh Ma’had TMI membahasnya dalam suatu rapat evaluasi pekanan “Kamisan” di Auditorium Putra. Inti dari pembahasan yang masih saya ingat adalah bahwa kami: para asatidz yang mayoritas merupakan digital natives seharusnya bisa mengoptimalkan perkembangan digital dengan baik.
Istilah “Digital Native” pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001 oleh Marc Prensky, seorang penulis yang wafat pada 15 Mei 2025. Digital Native secara harfiah merujuk pada individu dari generasi Millenial (1981-1996) dan generasi Z (1997-2012) yang lahir pasca revolusi digital. Meskipun ada sedikit variasi dalam penentuan rentang tahun antar sumber, definisi ini secara umum diterima. Prensky berpandangan bahwa digitalisasi berdampak pada cara kedua generasi ini berpikir dan mengolah informasi yang mana berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh sebagai penutur asli bahasa digital, komputer dan internet.[1]
Dalam artikelnya yang berjudul ‘Digital Natives, Digital Immigrants’, Prensky menyoroti bagaimana pendidikan di Amerika Serikat merosot akibat kesenjangan antara siswa (penutur asli digital) dan stagnasi metodologi pengajaran yang diterapkan oleh para pengajar (imigran digital) yang hidup di masa transformasi perkembangan digital.
Opini saya sebagai Gen-Z atau the latest generation of digital natives, digitalisasi turut berperan dalam membentuk identitas terutama dalam konteks pendidikan di zaman sekarang ini.
Makna dan Implikasi Digitalisasi
Digitalisasi didefinisikan sebagai proses konversi media dari analog menjadi bentuk digital. Proses itu direalisasikan dalam wujud penggunaan perangkat digital yang mana berhubungan erat dengan serangkaian elemen antarmuka. Saya memahaminya sebagai bahasa visual, misalnya ikon beranda, teks hyperlink berwarna biru dan lain-lain. Soal bahasa visual tadi, saya merasakan sendiri bagaimana intuisi bekerja ketika pertama kali menggunakan laptop lewat trial and error.
Mengutip perkataan Prensky, “Digital Native terbiasa menerima informasi dengan sangat cepat. Mereka suka melakukan pemrosesan paralel dan multitasking. Mereka lebih menyukai tampilan grafis sebelum teks daripada sebaliknya. Mereka lebih menyukai akses acak (seperti hypertext).”[2]
Digitalisasi memiliki korelasi erat dengan komunikasi, sehingga pesan yang ingin disampaikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi dan pengalaman.[3] Pendidik memegang peranan krusial dalam mengadaptasi digitalisasi kedalam proses pembelajaran. Hal ini berfungsi sebagai langkah preventif terhadap masifnya konten non-edukatif yang berpotensi mengikis identitas individu di era digital. Pertanyaan krusialnya adalah, sudahkah para pendidik memanfaatkan momentum ini?
Transformasi Era dan Tantangan Pendidik
Meskipun lahir dalam kategori Gen-Z (atau sebagaimana saya sebut di awal: The latest generation of digital natives), saya tidak begitu yakin setiap individunya familiar dengan perkembangan digital, barangkali ada banyak faktor penyebabnya. Namun bagaimanapun juga perkembangan zaman ‘memaksa’ setiap individu untuk terus beradaptasi.
Jika Marc Prensky, seorang digital immigrant mengkritisi metodologi pengajaran konvensional dan berusaha mengintegrasikan kurikulum tradisional (Legacy Content) dengan konten terbarukan (Future Content) ke dalam ranah Digital Native, saya lebih tertarik untuk merefleksikan sejenak bagaimana generasi sebelum dan setelah Gen-Z saling memengaruhi dan membentuk identitas yang khas.
Saya mulai familiar dan sering berjumpa dengan frasa revolusi industri 4.0 di dalam tulisan santri yang membahas digitalisasi, teknologi dan globalisasi. Mengutip Klaus Schwab, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina World Economic Forum, “Revolusi Industri Keempat, akhirnya, tidak hanya akan mengubah apa yang kita lakukan tetapi juga siapa kita. Revolusi ini akan memengaruhi identitas kita dan semua masalah yang terkait dengannya”.[4]
Model pembelajaran Generasi X dan Y (Millenial) yang cenderung konservatif mempengaruhi preferensi belajar generasi Z yang hidup di tengah era teknologi adaptif. Proporsi Legacy Content dan Future Content juga disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan dengan tetap mempertimbangkan beberapa aspek fundamental yang tak mungkin dapat dihilangkan seperti kegiatan menulis, menghitung, menalar dan sebagainya.
Sementara proyeksi ke depan mendeskripsikan bagaimana kehadiran Generasi Alpha dan Beta sebagai generasi yang tumbuh dengan Artificial Intellegence, Virtual Reality, Metaverse dan semacamnya secara imersif menghadirkan tantangan baru bagi para calon pendidik (generasi Z).
Ini bukanlah problematika yang baru. Sejak dahulu Socrates, filsuf dari Yunani sudah menegaskan mengenai adaptasi pembelajaran sesuai perkembangan zaman peserta didik.[5]
لَا تُكْرِهُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى آثَارِكُمْ، فَإِنَّهُمْ مَخْلُوقُونَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ.
(اِبْن الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ فِي مَصَائِدِ الشَّيْطَانِ، المجلد الثاني، صفحة ١٠٣٠)
“Janganlah kalian memaksakan anak-anak kalian untuk mengikuti jejak langkah kalian, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zaman kalian.” (Ibn al-Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan fii Mashayidisy Syaithan, Jilid Kedua, halaman 1030)[6]
Eksistensi Pendidik di Era Digital
Apakah eksistensi guru, dosen atau mentor akan tergerus seiring berkembangnya digitalisasi? Tentu saja tidak. Sampai kapanpun mereka adalah figur esensial dalam dunia pendidikan. Digitalisasi adalah batu lompatan untuk menghadapi Society 5.0. Yang perlu menjadi perhatian bagi stakeholder lembaga pendidikan adalah bagaimana mengintegrasikan digitalisasi itu sendiri kedalam kurikulum pembelajaran. Dalam skala implementasi yang lebih luas, Indonesia melalui Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dalam konferensi pers yang diselenggarakan beberapa bulan yang lalu telah mengumumkan Coding dan Artificial Intellegence sebagai bagian kurikulum.[7]
CEO NVIDIA, Jensen Huang dalam suatu kesempatan mengatakan “You’re not going to lose your job to an AI, but you’re going to lose your job to someone who uses AI”[8]. Mengacu pada statement ini, individu yang ingin memanfaatkan AI secara efektif harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Inilah dua kunci yang sampai kapanpun takkan tergantikan oleh AI, sebab “AI is only as good as the input”.[9]
Peran Aspek Kognitif
Posisi modernisasi sebagai alat tentunya tetap membutuhkan aspek manusiawi, tantangannya adalah poin ini seringkali tidak disadari. Satu contoh, saya melihat bagaimana budaya keilmuan yang identik dengan sumber valid, referensi ilmiah dan hasil diskusi panjang mulai terkikis dengan ketergantungan pada Artificial Intellegence. Lagi-lagi pendidik punya peran penting bagaimana menempatkan modernisasi yang memudahkan keseharian pada posisi yang semestinya.
Aspek kognitif manusia takkan dapat tergantikan. Setiap individu hendaknya mengoptimalkan kemampuan berpikir, belajar dan memecahkan masalah untuk menyaring output AI yang tak luput dari kekeliruan. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menyuruh aktifitas berpikir. Maka dalam konteks kontemporer,secanggih apapun model Artificial Intellegence yang digunakan, ia tetap tak luput dari potensi kesalahan. AI hadir untuk mempermudah aspek teknis, bukan untuk menggantikan peran manusia.
Sebagai konklusi, perlu ditegaskan bahwa hadirnya modernitas tidak serta-merta menggugurkan aspek fundamental pendidikan maupun eksistensi pendidik itu sendiri, justru digitalisasi hendaknya diorientasikan untuk membentuk individu-individu Gen-Z, calon pendidik masa depan yang beridentitas adaptif, progresif dan inovatif.
