
Hari Santri Nasional kemarin, sekali lagi mengingatkan saya kembali sebagai salah satu bagian dari santri Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah, bukan sekadar perayaan nostalgia atas jasa Resolusi Jihad 1945, melainkan momentum krusial untuk merefleksikan transformasi peran santri di tengah tantangan peradaban kontemporer. Jika dahulu medan perjuangan adalah arena fisik, kini medan pertempuran gagasan, moral, dan ekonomi telah bergeser ke ranah siber: Dunia Digital. Adalah sebuah keniscayaan, bahwa alumni pesantren dengan bekal intelektual dan moral yang teruji, memiliki potensi unik untuk menjadi arsitek peradaban digital yang beradab (adil wal musawah) dan berintegritas (shiddiq, amanah).
Kecenderungan untuk memandang santri hanya sebagai entitas tradisional yang salaf harus segera di dekonstruksi. Pesantren modern, seperti TMI Al-Amien Prenduan, telah lama mempraktikkan pendidikan integralistik yang memadukan ilmu diniyah yang mendalam dengan sains dan keterampilan global. Karakter dasar santri yang disiplin, etika (adab), ketekunan (istiqamah), dan kerangka berpikir kritis yang terbentuk melalui telaah komprehensif atas berbagai pandangan ulama (ikhtilaf) adalah modal sosial dan intelektual yang tak ternilai harganya di era digital.
Proses belajar mendalam (tafaqquh) di pesantren melatih santri untuk tidak menerima suatu dalil (nash) mentah-mentah tanpa verifikasi (tahqiq) dan kontekstualisasi. Keterampilan ini, dalam konteks digital, berwujud kemampuan menangkal hoax, ujaran kebencian (hate speech), dan radikalisme digital. Santri profesional menjadi guardian yang mengisi narasi digital dengan konten edukatif, berbasis data (dalil), dan menjunjung tinggi moderasi beragama (wasathiyah).
Kehidupan pesantren menanamkan etika (adab) di atas ilmu. Dalam dunia profesional digital yang rentan terhadap pelanggaran moral (misalnya, cyberbullying, plagiarisme, atau manipulasi data), seorang alumni santri membawa komitmen moral dan etika yang kuat. Integritas ini menjadikannya profesional yang kredibel, baik sebagai data scientist, pengembang perangkat lunak, maupun content creator global.
Alumni TMI Al-Amien Prenduan, yang telah dibekali dengan kurikulum keilmuan dan kemandirian, memiliki blue print yang jelas untuk berkontribusi. Semangat dari VIVA TMI yang ditanamkan pesantren harus menjadi pendorong untuk tidak hanya puas menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi penguasa dan penentu arah peradaban digital.
Pada akhirnya, profesionalisme seorang santri di dunia digital bukanlah sekadar penguasaan skill set teknis, melainkan perwujudan dari penggabungan Tawhid (tauhid), Akhlaq (etika), dan Ijtihad (daya upaya intelektual) dalam menghadapi tantangan zaman. Inilah Jihad Digital sesungguhnya, sebuah resolusi santri masa kini untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan kemuliaan adab dan keadilan global.
