Pagi hampir beranjak, riuh sorak-sorai terdengar dari selebrasi penuh syukur puluhan siswa Sekolah Dasar di hari kelulusannya. Di suatu sudut lapangan sekolah, teman sebaya ramai membicarakan akan melanjutkan ke pondok mana, lainnya menanggapi dengan mata berbinar-binar, sementara seorang teman itu hanya bisa mengangguk-angguk mendengarkan, diam-diam menyimpan keinginan yang sama tanpa tahu harus disampaikan pada siapa. Entah karena keadaan, entah karena belum ada pintu yang terbuka saat itu, jalan hidupnya justru berbelok ke arah lain. Ia tidak pernah mondok.
Bertahun-tahun kemudian, garis hidupnya berputar dengan cara yang tidak pernah ia duga, membawanya ke lingkungan pondok pesantren, bukan sebagai santriwati, melainkan sebagai pengasuh asrama. Saat waktu salat tiba, menyaksikan barisan santriwati berjalan beriringan menuju masjid, sajadah di tangan, dan sesekali sambil berlari kecil. Ada rasa haru yang muncul setiap kali melihat pemandangan itu. Dan setiap kali itu pula, ia disentil tentang rasa penasarannya yang tak kunjung usai terhadap kehidupan di pondok. Hal itulah yang membuatnya semakin yakin bahwa apa yang sedang dijalani para santriwati di sini bukanlah hal biasa. Ini adalah privilege. Sebuah keistimewaan yang tidak didapatkan semua orang.
Setiap kali berjalan mengelilingi pondok tempatnya mengabdi sekarang, melewati gedung asrama, dapur umum, dan masjid tempat santriwati mengaji, ia suka membayangkan wujud aslinya dulu, mungkin hanya sebuah langgar kecil beratap rumbia, dengan beberapa santri yang tidur berdempetan di lantai tanah. Sesederhana itu awalnya. Tapi dari kesederhanaan itulah lahir sesuatu yang bertahan ratusan tahun, jauh melampaui usia istilah “Islamic Boarding School” yang mulai muncul di era tahun 1990-an.
Artinya, apa yang hari ini disebut sebagai konsep pendidikan canggih dan diburu orang tua kelas menengah; hidup berasrama, dibina dua puluh empat jam, jauh dari gawai dan hiruk-pikuk dunia luar. Sebenarnya sudah lebih dulu dipraktikkan oleh pesantren-pesantren kecil di pelosok desa, dengan cara yang jauh lebih sederhana, namun tidak kalah dalam maknanya. Pesantren tidak butuh nama asing untuk menjadi relevan. Ia sudah relevan sejak awal, karena ia lahir dari akar masyarakat itu sendiri.
Di tahun keduanya menjadi “Ibu Asrama” bagi puluhan, bahkan ratusan santriwati, ia menjadi terbiasa dengan sebuah situasi yang selalu berulang setiap tahun ajaran baru dimulai. Ia tahu, tidak semua santri merasa nyaman di hari-hari pertamanya mondok. Ada yang menangis diam-diam di balik kasur yang tertumpuk rapi, bahkan ada yang menyusup ke kamar teman tengah malam sekedar ingin berbincang. Rindu rumah, rindu masakan ibu, rindu kasur sendiri, itu wajar dan tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Ada masa-masa berat sampai rasanya ingin menyerah dan pulang saja.
Tapi setiap kali menghadapi santriwati yang sedang di titik itu, membuatnya selalu teringat betapa ia sampai sekarang, masih menyimpan rasa penasaran yang tak pernah terjawab tentang bagaimana rasanya hidup di pondok; belajar kitab langsung dari Kiai atau Nyai, shalat berjamaah setiap waktu, tumbuh dikelilingi teman-teman yang sama-sama sedang berjuang mendekat kepada Allah. Maka izinkan saya menitipkan pesannya, lewat tulisan ini: kesempatan yang sedang kalian jalani tidak dimiliki semua orang. Ada anak-anak lain di luar sana yang ingin mondok tapi tidak punya biaya, ada yang orang tuanya tidak mengizinkan, ada yang bahkan tidak tahu pondok itu seperti apa.
Kalian sedang menjalani sesuatu yang oleh banyak orang hanya bisa diangan-angankan. Itulah privilege yang saya maksud, bukan karena pondok itu mewah atau istimewa secara materi, tapi karena kesempatan untuk dibina, dijaga, dan dibentuk dalam lingkungan seperti ini adalah sesuatu yang langka.
Maka, ketika rasa tidak betah itu datang, ketika rindu rumah membuat semangat belajar meredup, cobalah tarik napas dan ingat kembali, ini adalah kesempatan yang tidak semua orang punya. Kalian adalah bagian dari mata rantai panjang itu, mata rantai yang dimulai dari langgar-langgar sederhana di desa, yang kini menjelma menjadi tempat kalian belajar, bertumbuh, dan berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Jangan sia-siakan privilege ini. Sebab kelak, boleh jadi kalianlah yang akan merindukan hari-hari di pondok ini, sama seperti seorang teman yang sampai hari ini masih merindukan sesuatu yang bahkan belum pernah sempat ia rasakan.

