
Menjadi perempuan di zaman sekarang memang tidak mudah. Hampir setiap hari selalu ada tren baru yang bermunculan baik tren berpakaian, tren joget Tik-tok dan tren lainnya yang sangat beragam. Hari ini sedang ramai gaya berpakaian tertentu, besok sudah berganti. Belum lagi media sosial yang terus dipenuhi wajah-wajah cantik dan kulit putih, pakaian yang serba mewah, dan gaya hidup yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, semua itu membuat banyak muslimah mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Ada yang merasa kurang cantik karena pakaiannya sederhana, ada yang minder karena tidak memakai barang bermerek, bahkan ada yang memaksakan diri mengikuti tren walau terpaksa kredit. Nauzubillah..
Padahal, sejak dulu Islam tidak pernah mengajarkan perempuan untuk berlomba-lomba menjadi yang paling mencolok. Islam justru mengajarkan bagaimana menjadi perempuan yang menjaga kehormatan, sederhana, dan tahu nilai dirinya. Itulah mengapa teratai menjadi gambaran yang begitu indah. Ia tumbuh di air yang keruh, tetapi tidak pernah membiarkan lumpur menempel pada kelopaknya.
Beruntunglah adik-adik yang menjadi seorang santriwati dan belajar ilmu agama di pesantren. Di tengah dunia yang terus berubah, ia tetap fokus belajar, fokus menjaga akhlak, kesederhanaan, ibadah dan hatinya.
Tulisan saya bertujuan mengajak setiap muslimah khususnya santriwati di pesantren untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk tren yang terus berganti. Mari merenung dan berpikir lebih bijak lagi. Tren ini tidak akan ada habisnya. Satu tahun, dua tahun, bahkan lima tahun akan datang, akan selalu ada perubahan yang lebih baru, tentunya ada modal yang dikeluarkan untuk ini. Perlu di pertimbangkan dan kontrol diri kamu, lalu tanyakan dengan sadar, saya siapa? Artis kah? Influencer kah? Apakah tren ini adalah investasi jangka panjang saya? Jika tidak berguna, stop ikuti tren dan fokus masa depan kamu.
Tren berpakaian di kalangan masyarakat sangat luar biasa. Sangat miris ketika melihat perempuan muslimah yang menggunakan turban dengan sengaja memperlihatkan poni rambutnya, lehernya, antingnya. Ada juga yang pakai hijab tapi sengaja memperlihatkan perhiasan di lehernya dengan cepol besar seakan lebih besar dari kepalanya. Masalah besar jika kita merasa itu tren yang harus diikuti. Padahal, memilih pakaian dengan bijak, mengenakan sesuatu yang membuat kita nyaman, tertutup, tetap indah dipandang tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai syariat jauh lebih baik dan enak dilihat. Fashion seharusnya menjadi cara mengekspresikan diri, bukan alasan kehilangan jati diri.
Tulisan ini juga ingin menyampaikan bahwa tidak ada alasan untuk merasa minder hanya karena penampilan kita sederhana. Media sosial sering kali hanya memperlihatkan sisi terbaik kehidupan seseorang, sehingga tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, kita merasa kurang cantik, kurang modis, atau kurang berharga. Padahal, rasa percaya diri tidak lahir dari harga baju, merek hijab, atau banyaknya pujian yang kita terima. Percaya diri tumbuh ketika kita mampu menerima diri sendiri, mensyukuri apa yang Allah titipkan, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Terakhir, tulisan ini ingin mengatakan bahwa seorang muslimah harus belajar mencintai dirinya dengan cara yang sehat. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua yang viral dipaksa dicoba. Menjadi perempuan yang bahagia bukan berarti selalu tampil paling mencolok atau selalu mendapat perhatian. Ada kebahagiaan yang jauh lebih tenang, yaitu ketika kita merasa cukup dengan diri sendiri, tetap menjadi pribadi yang baik meski tidak banyak dilihat orang, dan yakin bahwa penilaian Allah jauh lebih berharga daripada tepuk tangan manusia. Sebab, perempuan yang benar-benar mengenal nilai dirinya tidak akan mudah kehilangan arah.
Ada kata-kata begini, “jangan menilai seseorang dari pakaiannya, tetapi lihatlah akhlaknya.” Kalimat ini benar dalam arti bahwa manusia tidak boleh menghakimi isi hati seseorang karena hanya Allah yang mengetahui keimanan seseorang secara sempurna. Namun dalam Islam, pakaian juga tidak dapat dipisahkan dari akhlak dan ketaatan. Cara berpakaian merupakan bagian dari perilaku lahir yang diperintahkan agama. Jika menjaga aurat bukan satu-satunya ukuran kesalehan, tetapi juga bukan sesuatu yang tidak memiliki hubungan dengan akhlak. Pakaian yang sesuai syariat merupakan salah satu bentuk ketaatan dan adab seorang Muslimah yang harus di jaga sepanjang usia.
Mari menjadi teratai yang indah tanpa peduli dimana ia tumbuh dan mekar. Lingkungan yang buruk bukan alasan menjadikannya ikut buruk. Jaga hati, jaga iman, jaga ketakwaan. You’re beautiful in your long dress, but your calm soul is what truly shines.
