Qalb

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah qalb.

— HR. al-Bukhārī no. 52 dan Muslim no. 1599

Dalam soal ujian lisan bahasa Inggris di TMI Al-Amien Prenduan, ada pertanyaan tentang padanan peribahasa Bahasa Indonesia ke dalam proverb atau wise word Bahasa Inggris. Salah satunya adalah “Jauh di mata, dekat di hati,” dengan jawaban “Out of sight, near by heart” atau “Out of sight, close to the heart.” Jawaban tersebut kemudian membuat saya memikirkan satu hal sederhana, mengapa “hati” diterjemahkan menjadi heart?

Secara harfiah, bahasa Inggris dari kata hati adalah liver, sedangkan heart adalah organ tubuh yang dalam bahasa Indonesia kita sebut sebagai “jantung.” Namun, ketika berbicara tentang perasaan, kasih sayang, atau kehidupan batin, bahasa Inggris menggunakan heart, sementara bahasa Indonesia menggunakan “hati.”

Perbandingan antara heart dan “hati” itu membuat saya penasaran: apakah pola yang sama juga berlaku pada kata qalb dalam bahasa Arab?

Dalam bahasa Arab, kita mengenal kata الْقَلْبُ (al-qalb). Dalam terjemahan Al-Qur’an dan hadis ke dalam bahasa Indonesia, kata ini sangat sering diterjemahkan menjadi “hati.” Kita mengenal istilah qalbun salīm sebagai “hati yang selamat/sehat” dan qalbun saqīm sebagai “hati yang sakit.” Menariknya, secara harfiah, qalb justru lebih dekat dengan “jantung” daripada “hati” dalam pengertian organ tubuh. Dalam bahasa Arab, jantung memang disebut qalb, sedangkan organ hati disebut kabid (كَبِد).

Jadi, dalam bahasa Inggris kata heart dan bahasa Arab kata qalb secara harfiah lebih dekat maknanya dengan kata “jantung” dalam bahasa Indonesia. Secara maknawi keduanya juga digunakan untuk menggambarkan perasaan dan kehidupan batin manusia. Sementara itu, bahasa Indonesia menggunakan kata “hati” untuk fungsi maknawi tersebut.

Lalu, mengapa heart dan qalb diterjemahkan menjadi “hati,” bukan “jantung”? Apakah penerjemah keliru memilih kata?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih nama organ yang paling tepat. Yang perlu kitas sadari, kata qalb dalam bahasa Arab tidak hanya berbicara tentang organ tubuh, tetapi juga tentang kehidupan batin manusia.

Dalam penggunaannya, qalb dapat menunjuk pada keadaan batin, kesadaran, kehendak, pemahaman, perasaan, dan keadaan spiritual seseorang. Karena itu, ketika Al-Qur’an atau hadis menyebut qalb, kita tidak selalu dapat memahaminya hanya sebagai organ yang berada di dalam dada. Hal tersebut dapat kita lihat dalam firman Allah:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami.” (QS. al-A’rāf: 179).

Ayat tersebut berbicara tentang qulūb, bentuk jamak dari qalb, yang berkaitan dengan kemampuan untuk memahami. Tentu saja, yang dimaksud bukanlah jantung sebagai organ yang bekerja memompa darah. Qalb di sini menunjuk pada kemampuan batin manusia untuk memahami dan menerima kebenaran. Makna yang serupa juga tampak dalam firman Allah:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.” (QS. al-Ḥajj: 46).

Ayat ini semakin menunjukkan bahwa qalb tidak hanya menunjuk pada organ fisik. Ia juga berkaitan dengan cara manusia memahami, menyadari, dan menyikapi sesuatu.

Jika demikian, mengapa bahasa Indonesia memilih kata “hati” sebagai padanannya? Jawabannya dapat kita temukan dalam karakter maknawi dari kata “hati” itu sendiri.

Dalam bahasa Indonesia, “hati” memiliki wilayah makna yang jauh lebih luas daripada sekadar nama sebuah organ tubuh. Kita mengenal ungkapan patah hati, sakit hati, berhati lembut, berhati keras, hati nurani, setulus hati, sepenuh hati, dari lubuk hati, serta masih banyak ungkapan lainnya.

Dalam ungkapan-ungkapan tersebut, “hati” jelas tidak sedang digunakan untuk menyebut organ tubuh. Ketika seseorang mengatakan “jatuh hati,” yang dimaksud bukanlah hati yang benar-benar jatuh, melainkan sebuah aktifitas batin berupa munculnya rasa suka, cinta, atau ketertarikan yang mendalam.

Fenomena yang mirip juga terlihat pada simbol hati ❤️ atau 💕 yang akrab kita gunakan sehari-hari. Secara bentuk, simbol ini sama sekali tidak menyerupai liver, melainkan bentuk yang sejak lama dipakai orang untuk menggambarkan jantung (heart). Namun ketika penutur Indonesia mengetik atau mengirim emoji ini, ia langsung dipahami dan menyebutnya sebagai lambang “hati,” bukan “jantung.” Sama seperti qalb dan heart, yang berpindah bukanlah bentuk organ yang diwakilinya, melainkan makna batin yang ditumpangkan padanya: bentuknya boleh jadi jantung, tetapi maknanya sudah dipinjam sepenuhnya oleh hati.

Dengan demikian, bahasa Indonesia telah memiliki sebuah kata yang dapat digunakan untuk membicarakan kehidupan batin manusia, sebagaimana qalb digunakan dalam banyak konteks dalam bahasa Arab. Di sinilah keduanya menemukan titik temu.

Titik temu tersebut bukan berarti bahwa qalb dan hati adalah organ yang sama. Secara anatomi, jantung tetap berbeda dari hati. Yang memiliki kemiripan adalah wilayah maknanya ketika kedua kata tersebut digunakan untuk membicarakan kehidupan batin manusia.

Bahasa Indonesia sebenarnya juga mengenal kata “kalbu,” yang bentuknya lebih dekat dengan qalb karena merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata ini masih dapat ditemukan dalam penggunaan yang bersifat sastra atau formal.

Namun, dalam percakapan sehari-hari, kata “hati” jauh lebih umum digunakan. Karena itu, ketika qalb diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, penerjemah tidak harus memilih kata yang paling mirip dengan bentuk bahasa asal. Yang lebih penting adalah memilih kata yang dapat membawa makna tersebut secara tepat dan alami kepada pembaca.

Kalau dipaksakan, misalnya mengganti frasa “patah hati” dengan “patah kalbu” atau mengganti “dengan sepenuh hati” dengan “dengan sepenuh jantung,” mungkin tidak akan terasa nyaman di telinga kita.

Di sinilah kita dapat memahami salah satu prinsip penting dalam penerjemahan: penerjemahan tidak selalu memindahkan kata, tetapi memindahkan makna. Sebuah kata dalam bahasa sumber tidak harus selalu diterjemahkan dengan kata yang menunjuk benda yang sama secara harfiah. Yang dicari adalah padanan yang mampu menyampaikan konsep yang dimaksud dalam bahasa sasaran.

Peribahasa “Jauh di mata, dekat di hati” pada awal tulisan tadi sebenarnya memperlihatkan hal yang sama. Ketika “hati” diterjemahkan menjadi heart, yang dipindahkan bukanlah nama organ tubuh, melainkan makna batin yang terkandung di dalam kata “hati” tersebut.

Begitu pula dengan qalb. Ketika digunakan untuk membicarakan iman, pemahaman, kehendak, perasaan, atau keadaan spiritual, menerjemahkannya menjadi “hati” lebih mampu membawa makna tersebut kepada pembaca Indonesia daripada menerjemahkannya secara kaku sebagai “jantung.”

Adapun apakah konsep “hati” sebagai pusat kehidupan batin sudah ada dalam bahasa Melayu sebelum datangnya Islam merupakan pertanyaan sejarah bahasa yang menarik. Namun, persoalan tersebut membutuhkan penelitian filologis yang lebih mendalam. Karena itu, kita tidak perlu terburu-buru membuat kesimpulan tentang asal-usulnya.

Yang dapat kita lihat dengan jelas adalah bahwa dalam bahasa Indonesia, “hati” telah memiliki ruang makna yang luas untuk menggambarkan kehidupan batin manusia. Ruang makna itulah yang membuatnya dapat menjadi padanan yang tepat bagi qalb dalam banyak konteks.

Kelenturan makna qalb ini juga yang membuat kata itu begitu sering muncul dalam doa-doa yang kita baca. Salah satunya adalah doa yang biasa kita baca di antara rangkaian at-taḥiyyāt al-ākhīrah dalam shalat:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam doa ini pun kata qalb dipakai bukan untuk menunjuk organ yang berdegup di dada, melainkan sesuatu yang jauh lebih rawan berubah-ubah, yaitu keyakinan dan keteguhan hati manusia di hadapan Allah. Kita memohon supaya bagian dalam diri kita itu tidak goyah, sebagaimana kita juga mengucapkan “hati yang teguh” dalam bahasa sehari-hari, bukan “jantung yang teguh.”

Lantas, qalb itu jantung atau hati? Jawabannya adalah: tergantung konteksnya. Qalb dapat berkaitan dengan jantung sebagai organ tubuh, tetapi dalam Al-Qur’ān dan hadis kata tersebut juga digunakan untuk menunjuk kehidupan batin manusia.

Karena itu, ketika kita membaca hadis di awal tulisan ini, yang perlu kita pikirkan bukan hanya organ apa yang disebut, tetapi juga apa yang hendak disampaikan oleh hadis tersebut. Hadis itu tidak sedang memberikan pelajaran anatomi. Rasulullah SAW., sedang menjelaskan bahwa ada sesuatu dalam diri manusia yang apabila baik, akan memengaruhi baiknya seluruh perilaku; dan apabila rusak, kerusakannya pun akan menjalar kepada seluruh diri.

Dalam bahasa kita, wilayah batin tersebut kita kenal dengan satu kata yang sangat akrab: hati. Mungkin itulah sebabnya qalb diterjemahkan menjadi “hati.” Bukan karena bahasa kita keliru menyebut organ, melainkan karena bahasa sedang mencari rumah bagi sebuah konsep. Dan bagi penutur Melayu-Indonesia, rumah itu bernama hati.

Ah, tapi masih ada yang membuat saya bingung, kalau qalb dan heart diterjemahkan menjadi “hati” dan bukan “jantung,” lalu bagaimana menerjemahkan frasa “jantung hati” ke dalam bahasa Arab dan Inggris?

Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.