Urgensi Hope Theory

Ketika sharing bersama beberapa siswa baik tingkat SMP atau SMA, saya masih sering menemukan satu hal yang cukup menarik. Banyak anak yang sebenarnya pintar, rajin belajar, dan nilainya juga bagus, tetapi ketika ditanya tentang cita-cita atau mimpinya, mereka justru bingung menjawab. Ada yang mengatakan belum tahu, ada yang hanya ikut jawaban teman, bahkan ada yang merasa tidak perlu mempunyai mimpi karena yang penting menjalani hidup apa adanya. Padahal kalau dipikir-pikir, seseorang yang memiliki tujuan biasanya mempunyai semangat yang berbeda. Ia tahu ke mana langkahnya akan dibawa dan untuk apa ia harus berjuang.

Seorang psikolog dari Amerika bernama Charles Snyder. Ia memiliki teori yang disebut Hope Theory. Menurut Snyder, harapan atau mimpi bukan sekadar angan-angan yang dipikirkan sebelum tidur. Harapan adalah keyakinan bahwa kita memiliki tujuan yang ingin dicapai dan percaya bahwa kita mampu menemukan jalan untuk sampai ke sana. Orang yang mempunyai harapan biasanya lebih kuat ketika menghadapi kegagalan karena ia tahu apa yang sedang diperjuangkannya.

Selain itu, ada juga Edwin Locke yang memperkenalkan Goal Setting Theory. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan lebih bersemangat ketika memiliki tujuan yang jelas. Ketika seseorang tahu apa yang ingin dicapai, ia akan lebih mudah mengatur langkah, bekerja keras, dan bertahan ketika menemui kesulitan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki tujuan sering kali berjalan tanpa arah dan mudah kehilangan semangat.

Banyak anak yang malas belajar bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka belum menemukan mimpinya. Mereka belum memiliki tujuan.

Mimpi bukan hanya tentang ingin menjadi dokter, guru, atau pengusaha. Mimpi adalah alasan mengapa seseorang mau terus belajar, mau bangkit setelah gagal, dan mau bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Mungkin tidak semua mimpi akan terwujud persis seperti yang kita bayangkan, tetapi setidaknya mimpi memberikan arah agar kita tidak berjalan tanpa tujuan. Sebab terkadang yang membuat seseorang terus melangkah bukan karena jalannya mudah, melainkan karena ia tahu ke mana ia ingin pergi.

Mimpi Anak Dipatahkan oleh Ekonomi?

Tidak semua orang tua memiliki keadaan ekonomi yang cukup untuk langsung memenuhi semua keinginan anaknya. Kadang ada anak yang bercita-cita menjadi dokter, kuliah di luar kota, atau melanjutkan pendidikan yang biayanya tidak sedikit. Dalam kondisi seperti ini, orang tua sering kali merasa takut untuk mendukung karena khawatir tidak mampu membiayainya. Padahal yang paling dibutuhkan anak pada saat itu bukanlah kepastian bahwa semua biaya sudah tersedia, melainkan keyakinan bahwa orang tuanya percaya pada mimpinya.

Tidak ada salahnya berkata, “Ayah dan ibu memang belum punya semuanya sekarang, tapi kita akan berusaha bersama.” Kalimat sederhana seperti itu sering kali jauh lebih berharga daripada janji besar yang belum tentu bisa ditepati. Sebab anak yang didukung akan memiliki semangat untuk mencari jalan, sedangkan anak yang mimpinya dipatahkan sejak awal sering kali kehilangan keberanian untuk mencoba.

Orang tua juga tidak perlu merasa bahwa mewujudkan mimpi anak adalah tugas yang harus diselesaikan sendirian. Banyak jalan yang bisa ditempuh, mulai dari beasiswa, sekolah atau pesantren yang memberikan bantuan pendidikan, hingga dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Yang terpenting adalah tetap yakin dan tidak menanamkan rasa takut kepada anak. Daripada sering mengatakan, “Kita orang miskin, mana mungkin bisa,” mungkin lebih baik menggantinya dengan, “Kita belum mampu sekarang, tapi kita cari jalannya bersama”.

Terkadang mimpi anak tidak gagal karena kurang uang, melainkan karena orang-orang di sekitarnya lebih dulu menyerah. Selama orang tua masih mau berusaha, berdoa, dan percaya bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing, selalu ada kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Sudah banyak kisah orang-orang hebat yang tumbuh dari keluarga sederhana, bahkan serba kekurangan dalam hal ekonomi. Namun mereka tidak pernah miskin semangat. Mereka mungkin tidak punya banyak harta, tapi hatinya penuh keyakinan, langkahnya penuh tekad, dan jiwanya dipenuhi keinginan untuk terus berjuang. Dari keterbatasan itulah sering lahir kekuatan yang diam-diam besar, yang kadang tidak dimiliki oleh mereka yang sejak awal hidup berkecukupan.

Sejujurnya, setiap anak hanya ingin satu hal sederhana: didengar, dipercaya, dan ditemani dalam mimpinya. Mungkin tidak semua orang tua bisa langsung memberikan jalan yang mulus, tetapi setiap orang tua selalu bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga dari itu, yaitu dukungan dan keyakinan. Sebab kata-kata seorang ibu dan ayah bisa menjadi cahaya kecil yang menuntun langkah anak ketika dunia berkata seakan tidak mungkin berhasil.

Jangan pernah mematahkan mimpi anak, sekecil apa pun itu. Karena kita tidak tahu, seberapa dekat ia dengan Tuhannya yang akan membantu semuanya menjadi nyata di kemudian hari.