Gaya Kepemimpinan Visioner Umar bin Khattab dalam Birokrasi Modern

Ditengah hiruk-pikuk kritik atas lemahnya birokrasi negara kita yang kerap mendapat julukan gemuk, lamban, dan rentan akan korupsi. Muncul dalam benak kita, pertanyaan yang sangat mendasar: apakah ada sosok pemimpin yang bisa kita jadikan rujukan dalam tata kelola negara? Dan jawaban itu sudah ada dan terukir jauh sejak 1.400 tahun lalu, yang mana dalam lembar sejarah peradaban Islam terdapat sosok pemimpin visioner dan tegas, ialah Umar Bin Khattab R.A., pada zamannya tidak hanya dikenal sebagai pemimpin yang tegas, tapi juga sebagai arsitek pertama birokrasi dalam Sejarah Islam.

Inovasi-inovasi tersebut mampu menstabilkan dan memperkuat negara Islam saat itu yang terbentang dari Afrika sampai Persia dalam kurun waktu relatife singkat, dan tentunya ada terobosan inovasinya yang sangat hebat yang bisa kita jadikan rujukan birokrasi negara kita kedepan. Dan diantaranya adalah:

  1. Diwan. Dari sekian banyak inovasi Umar R.A.. Terdapat ide yang menjadikan cikal bakal kementerian dan sistem penggajian modern saat ini, diwan merupakan sistem lembaga pencatatan seluruh penerimaan, pengeluaran uang kas negara, sekaligus yang mempunyai hak mengelola gaji para tentara dan pegawai negeri pada masa itu. Dan menjadi suatu hal yang luar biasa, pada masa itu terdapat sistem yang mirip dengan SAP atau e-budgeting zaman sekarang, prinsip diwan mengajarkan pendataan yang akurat dan professional dalam fondasi tata kelola kas negara.
  2. Birokrasi yang melayani, bukan dipenuhi. Salah satu kutipan Umar Bin Khattab “saya tidak akan mengangkat kalian sebagai gubernur agar kalian menjadi tuan atas rakyat, tapi agar menjadi pelayan bagi mereka’’. Filosofi ini menegaskan sikap birokrasi pada masa Umar yang sangat ramping, efektif dan dekat dengan semua kalangan masyarakat. Pejabat dilarang hidup bermewah-mewah, mereka harus sederhana agar bisa merasakan yang diderita rakyatnya.
  3. Controlling dan pemberhentian tegas terhadap pejabat lalai. Umar dikenal sebagai pengawas yang selalu mem-balance baik dari pejabat hingga ke lapisan masyarakat, beliau juga mengirim inspektur keliling tanpa sepengetahuan pejabat untuk mengawasi kinerja mereka dalam diam, jika ditemukan kesalahan dan penyimpangan akan ditindak sangat tegas dan dimintai pertanggungjawaban harta kekayaan, sama hal seperti mekanisme LHKPN di Indonesia saat ini, Umar tidaklah pandang bulu terhadap kesalahan dalam pemerintahannya yang bisa melukai banyak orang dan mejadi kesalahan fatal keseluruh lapisan pejabat lain dan masyarakat. Umar mengajarkan kita sistem tata kelola yang baik, tegas, dan transparansi, profesionalisme dan akuntabilitas dalam keberpihakan dengan rakyat-rakyat kecil, marilah kita memperbaiki sistem birokrasi kita dengan melihat sejarah sistem kelola Negara Islam dahulu, yang mampu membawa Islam ke peradaban gemilang di zamannya.

Pesan umar kepada kita; “Pebaiki niatmu, niscaya Allah perbaiki amalmu, dan perbaikilah amalmu, niscaya Allah akan memperbaiki keadaan umatmu’’, dalam pesan itu diharapkan kita kelak menjadi pemimpin yang meneladani sikap tegasnya, visionernya, dan semangatnya dalam menegakkan keadilan dalam dunia birokrasi negara dan menjadi pelayan umat yang adil, bijaksana, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam sistem tata kelola birokrasi negara kita di Inonesia saat ini, dan dimasa yang akan datang.