Ada satu hal yang menarik dari nasihat Alm. KH. Muhammad Idris Djauhari kepada saya sebagai menantunya. Kejadian ini sekitar tahun 2008, beberapa hari setelah saya menikahi putri beliau. Saat itu beliau berkata kepada saya: “Amir… Saya tidak ingin tahu bagaimana kamu dahulu. Yang ingin saya tahu bagaimana kamu sekarang dan seberapa manfaatnya kamu untuk Al-Amien di masa yang akan datang.” Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi semakin lama saya memikirkannya, semakin terasa bahwa di dalam kalimat itu ada pandangan yang sangat dalam tentang kehidupan.
Beliau tidak bertanya tentang masa lalu saya, tidak bertanya siapa saya sebelumnya, tidak juga memperpanjang cerita tentang apa yang pernah saya lakukan. Beliau justru mengarahkan pandangan saya kepada dua hal: bagaimana saya sekarang, dan akan menjadi apa saya selanjutnya. Mungkin memang demikian seharusnya kita melihat kehidupan. Masa lalu tetap penting, tetapi masa lalu bukan tempat kita tinggal. Masa lalu adalah tempat kita belajar, hari ini adalah tempat kita mengamalkan, dan masa yang akan datang adalah ruang untuk menghadirkan kemanfaatan.
Masa Lalu Tidak Harus Dihapus
Setiap orang mempunyai masa lalu, ada pengalaman yang menyenangkan, ada yang tidak ingin diingat, ada keberhasilan, ada kegagalan, ada keputusan yang sampai sekarang masih kita syukuri, ada pula keputusan yang mungkin ingin kita perbaiki jika diberi kesempatan. Tetapi kehidupan tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali menjadi orang yang sama di waktu yang sama. Waktu berjalan, pengalaman bertambah, pengetahuan bertambah, dan seharusnya diri kita juga bertumbuh. Karena itu, masa lalu tidak selalu harus dilupakan.
Ada kalanya masa lalu justru perlu dibaca kembali, bukan untuk menyesali apa yang sudah terjadi, tetapi untuk melihat apa yang dapat kita pelajari darinya. Sebab pengalaman yang sama dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, bisa menjadi beban, tetapi bisa juga menjadi pelajaran. Yang membedakan bukan selalu peristiwanya, kadang yang membedakan adalah bagaimana kita mengambil makna dari peristiwa tersebut. Di sinilah saya memahami dua hal:
1. Pendewasaan jiwa
Bukan tentang seberapa banyak pengalaman yang kita lalui, tetapi seberapa banyak hikmah yang mampu kita ambil dari pengalaman tersebut. Mungkin semakin bertambah usia, kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak pengalaman, yang mungkin kita butuhkan adalah kemampuan membaca pengalaman dengan lebih baik. Sebab pengalaman tidak otomatis membuat seseorang menjadi dewasa. Orang bisa mengalami banyak hal, tetapi tetap mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, seseorang bisa mengalami satu peristiwa yang sederhana, tetapi mampu mengambil pelajaran yang sangat dalam darinya.
Karena itu, pendewasaan jiwa menurut saya adalah ketika seseorang mulai mampu bertanya: “Apa yang sedang diajarkan kehidupan kepada saya melalui peristiwa ini?” Bukan hanya: “Mengapa ini terjadi kepada saya?” Pertanyaan pertama membuat kita mencari hikmah, pertanyaan kedua kadang membuat kita berhenti pada peristiwa. Ada pengalaman yang mengajarkan kesabaran, ada yang mengajarkan keikhlasan, ada yang mengajarkan batas, ada yang mengajarkan keberanian, ada pula pengalaman yang mengajarkan kita bahwa ternyata tidak semua hal harus kita kendalikan. Dan mungkin, ada pengalaman yang baru kita pahami maknanya setelah bertahun-tahun berlalu.
Karena itu, tidak semua pengalaman harus segera dimengerti, ada yang cukup dijalani, ada yang perlu direnungkan, dan ada yang baru menemukan maknanya setelah kita tumbuh.
2. Pendewasaan Ilmu
Begitu juga dengan ilmu. Ilmu tidak hanya bertambah karena kita membaca lebih banyak, tidak hanya karena kita mendengar lebih banyak, tidak hanya karena kita mengetahui lebih banyak. Ilmu menjadi dewasa ketika ia mulai menemukan bentuknya dalam kehidupan. Apa yang kita ketahui mulai terlihat dalam sikap, apa yang kita pahami mulai terlihat dalam keputusan, apa yang kita pelajari mulai memberikan manfaat kepada orang lain. Di situlah ilmu tidak lagi hanya menjadi pengetahuan, ia mulai menjadi pengalaman hidup.
Maka, mungkin pendewasaan ilmu bukan sekadar bertambahnya apa yang kita tahu, tetapi bertambahnya kemampuan kita untuk mengamalkan apa yang kita tahu. Sebab bisa jadi seseorang mengetahui banyak hal tentang kesabaran, tetapi belum tentu mampu bersabar. Mengetahui banyak tentang keikhlasan, tetapi belum tentu mudah mengikhlaskan. Mengetahui banyak tentang memberi manfaat, tetapi belum tentu mampu memberikan manfaat.
Karena itu, ilmu membutuhkan perjalanan, dari tahu menjadi paham, dari paham menjadi sadar, dari sadar menjadi amal, dan dari amal, mudah-mudahan menjadi karakter. Di situlah ilmu mulai dewasa, antara mengetahui dan menjalani ada jarak yang kadang cukup panjang antara mengetahui sesuatu dan menjalankannya. Kita bisa mengetahui jalan yang benar, tetapi belum tentu selalu berjalan di atasnya. Kita bisa mengetahui sesuatu yang baik, tetapi belum tentu mudah melakukannya. Mungkin karena itu, kehidupan sebenarnya bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu.
Kehidupan juga tempat untuk menguji apakah ilmu itu telah menjadi bagian dari diri kita. Apa arti kesabaran jika tidak pernah diuji oleh keadaan? Apa arti keikhlasan jika tidak pernah berhadapan dengan sesuatu yang tidak sesuai keinginan? Apa arti tawakal jika kita belum pernah sampai pada keadaan ketika kemampuan kita berhenti pada batas tertentu? Mungkin pengalamanlah yang mempertemukan ilmu dengan kehidupan, dan ketika ilmu bertemu pengalaman, di situlah seseorang mempunyai kesempatan untuk menjadi lebih dewasa.
Hari Ini Adalah Tempat Mengamalkan
Saya kemudian teringat kembali kepada nasihat KH. Idris Djauhari. “Yang ingin saya tahu bagaimana kamu sekarang…” Kalimat itu membuat saya berpikir bahwa masa kini sebenarnya adalah bagian yang paling nyata dalam kehidupan, masa lalu sudah menjadi cerita, masa depan belum menjadi kenyataan, sedangkan hari ini ada di hadapan kita. Di sinilah ilmu bisa diamalkan, di sinilah pengalaman bisa dijadikan hikmah, di sinilah pilihan masih bisa dibuat.
Mungkin kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih dapat menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap apa yang telah terjadi. Kita tidak dapat mengulang masa lalu, tetapi kita dapat membawa pelajarannya ke hari ini. Dan dari hari inilah masa depan perlahan dibentuk. Tidak semua harus dibawa ke masa depan, ada hal-hal dari masa lalu yang memang perlu dibawa: ilmunya, hikmahnya, pengalamannya, kebaikannya. Tetapi tidak semuanya harus dibawa. Kesalahan tidak harus terus menjadi identitas, kegagalan tidak harus menjadi nama kita, kekecewaan tidak harus menjadi cara kita melihat kehidupan selamanya.
Ada bagian dari masa lalu yang cukup kita jadikan pelajaran, bukan untuk terus dikenang, bukan untuk terus disesali, tetapi untuk membuat langkah berikutnya menjadi lebih baik. Mungkin inilah yang dimaksud dengan melanjutkan kehidupan, bukan meninggalkan masa lalu, tetapi mengambil hikmahnya, lalu berjalan. Dari Ilmu dan Pengalaman Menjadi Kemanfaatan.
Ada satu bagian dari nasihat beliau yang bagi saya terasa sangat penting: “Seberapa manfaatnya kamu untuk Al-Amien di masa yang akan datang”. Beliau tidak hanya berbicara tentang menjadi lebih baik untuk diri sendiri, tetapi tentang kemanfaatan ilmu yang kita miliki pada akhirnya perlu menemukan manfaatnya.
Pengalaman yang kita lalui juga semestinya tidak berhenti menjadi cerita pribadi. Apa yang kita pelajari dari kehidupan, semoga dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Mungkin tidak selalu dalam bentuk yang besar. Kadang manfaat itu sederhana, menjadi orang yang dapat dipercaya, menjadi orang yang bisa membantu, menjadi orang yang mau mendengarkan, menjadi orang yang mampu menjaga amanah, menjadi orang yang ilmunya memberi manfaat, menjadi orang yang kehadirannya tidak menambah beban bagi orang lain. Karena kemanfaatan tidak selalu membutuhkan panggung, kadang ia justru tumbuh dalam hal-hal kecil yang tidak banyak dilihat orang.
Masa Depan Bukan Sekadar Tentang Kita
Ketika beliau mengatakan “Di masa yang akan datang”, saya membacanya bukan hanya sebagai pertanyaan tentang masa depan saya. Tetapi juga sebagai pertanyaan tentang apa yang akan saya tinggalkan.
Apa yang akan menjadi buah dari perjalanan hidup ini? Apa yang akan dirasakan oleh orang lain dari ilmu yang pernah kita pelajari? Apa yang akan tumbuh dari pengalaman yang pernah kita lalui? Dan setelah kita tidak lagi berada di suatu tempat, apa yang masih bisa diberikan oleh keberadaan kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin tidak perlu selalu dijawab dengan kata-kata, cukup dijawab dengan perjalanan hidup, dengan amal, dengan sikap, dengan kemanfaatan selanjutnya.
Pada akhirnya, saya semakin memahami bahwa hidup memang tidak berhenti pada masa lalu. Kita mempunyai masa lalu, kita mempunyai hari ini, dan kita mempunyai sesuatu yang disebut selanjutnya. Selanjutnya adalah ruang yang belum ditulis. Di sana ada ikhtiar, ada doa, ada kemungkinan, ada ketidakpastian, dan ada kehendak Tuhan yang tidak selalu bisa kita tebak.
Karena itu, kita tidak perlu terlalu sibuk memastikan seperti apa seluruh masa depan, cukup memastikan bahwa hari ini kita sedang melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya, belajar, mengamalkan, memperbaiki, mengambil hikmah, dan berusaha memberi manfaat. Mungkin itulah cara sederhana untuk melanjutkan kehidupan, bukan dengan menghapus masa lalu, tetapi dengan menjadikannya bekal. Bukan dengan terlalu takut kepada masa depan, tetapi dengan mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Dan bukan hanya bertanya: “Apa yang akan saya dapatkan dari kehidupan?” Tetapi perlahan belajar bertanya: “Apa yang dapat saya berikan dari kehidupan yang telah saya jalani?”
Saya kembali kepada nasihat Alm. KH. Muhammad Idris Djauhari yang disampaikan kepada saya beberapa hari setelah saya menikahi putri beliau: “Saya tidak ingin tahu bagaimana kamu dahulu, yang ingin saya tahu bagaimana kamu sekarang, dan seberapa manfaatnya kamu untuk Al-Amien di masa yang akan datang”. Dulu saya mungkin hanya mendengar kalimat itu sebagai sebuah nasihat. Hari ini, setelah 18 tahun perjalanan, waktu yang cukup panjang, saya mulai merasakannya sebagai sebuah cara memandang kehidupan. Masa lalu adalah pelajaran, hari ini adalah kesempatan untuk mengamalkan, dan masa yang akan datang adalah ruang untuk memberikan manfaat. Mungkin pada akhirnya, ukuran perjalanan kita bukan hanya seberapa jauh kita telah berjalan, tetapi juga: seberapa banyak ilmu yang telah menjadi amal, seberapa banyak pengalaman yang telah menjadi hikmah, dan seberapa banyak keberadaan kita dapat menjadi manfaat bagi sesama.

