Ketika Masjid Jami’ Al-Amien Menjadi Sekolah Kehidupan

Refleksi Kurikulum yang Tak Tertulis

Ketika fajar belum benar-benar menyingsing di ufuk Prenduan, langkah-langkah para santri sudah memenuhi jalan menuju masjid. Udara dingin pesisir Madura sedikit menusuk kulit. Dunia di luar gerbang pesantren masih tenggelam dalam sunyi. Namun kehidupan di dalamnya justru mulai bergerak.

Tidak ada suara bel (jaros) yang membangunkan. Tidak ada absensi di ruang kelas. Yang hadir adalah panggilan azan yang mengatur ritme hidup sehari-hari.

Di halaman masjid, suara sandal terdengar bersahut-sahutan. Sebagian santri masih mengucek mata. Sebagian lain berjalan cepat tanpa banyak bicara. Udara dini hari membuat langkah terasa berat, tetapi tidak ada yang benar-benar berhenti.

Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Hidup

Saat penulis menjadi santri kemudian berlanjut menjadi guru pengabdian, penulis masih mengingat satu pesan yang sering disampaikan oleh Kiai Idris rahimahullah. Beliau menegaskan bahwa pusat pendidikan TMI Al-Amien bukan ruang kelas, bukan idaroh, dan bukan rayon, tetapi masjid.

Pernyataan itu tidak berhenti sebagai slogan. Ia hidup dalam sistem yang penulis jalani setiap hari.

Sejak awal berada di lingkungan pesantren, penulis menyadari bahwa Masjid Jami’ Al-Amien bukan sekadar tempat salat berjamaah. Masjid adalah pusat kehidupan. Di sana hari dimulai dan berakhir. Di sana santri belajar mengatur waktu, menuntut ilmu, membangun persaudaraan (ukhuwwah islamiyah), bermusyawarah, dan membentuk karakter diri.

Semakin lama penulis tinggal di Al-Amien, semakin jelas bahwa masjid bukan ruang tambahan. Ia adalah ruang utama dalam pendidikan.

Para sejarawan pendidikan Islam menjelaskan bahwa masjid merupakan institusi pendidikan awal dalam peradaban Islam. George Makdisi dalam bukunya The Rise of Colleges menunjukkan bahwa sebelum sistem sekolah modern terbentuk, masjid telah menjadi pusat ilmu, pembentukan karakter (ta’jiz al-qiyam), dan kehidupan sosial umat. Apa yang penulis alami di Al-Amien terasa sebagai kelanjutan dari tradisi itu dalam bentuk yang nyata dan hidup.

Belajar Menghargai Waktu dari Panggilan Azan

Pelajaran pertama yang diajarkan masjid bukan pelajaran tertulis. Pelajaran itu adalah disiplin. Di Al-Amien, waktu tidak diukur oleh jam dinding atau bunyi jaros, tetapi oleh kumandang azan. Kehidupan bergerak mengikuti panggilan itu. Kebiasaan hadir sebelum azan perlahan membentuk cara pandang baru tentang waktu.

Awalnya, bangun sebelum Subuh bukan hal yang mudah. Udara dingin dan kantuk sering menjadi tantangan utama. Namun kebiasaan yang diulang setiap hari berubah menjadi kesadaran.

Penulis belajar bahwa disiplin tidak lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari kebiasaan yang terus diulang. Penulis juga melihat bahwa ketika seseorang menjaga waktu salat, ia lebih mudah menjaga waktu belajar dan tanggung jawab lain dalam hidupnya. Di Al-Amien, disiplin tidak berdiri di atas pengawasan. Ia tumbuh dari kebiasaan bersama.

Ketika Belajar dan Ibadah Menyatu

Setelah salat berjamaah selesai, masjid tidak menjadi ruang kosong. Aktivitas belajar justru mulai bergerak. Penulis masih mengingat suasana setelah salat Subuh. Sebagian santri tetap duduk di tempatnya. Kitab mulai dibuka. Hafalan diulang. Diskusi kecil dimulai. Sebagian lainnya mendekati ustadz untuk membaca kitab atau meminta penjelasan pelajaran.

Dalam tradisi pesantren, pola ini dikenal sebagai halaqah. Kiai atau guru dan santri duduk dalam lingkaran sederhana. Tidak ada jarak yang kaku. Tidak ada sekat yang memisahkan ilmu dari kehidupan.

Penulis masih mengingat bagaimana Kiai Idris rahimahullah menegaskan bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas pendidikan Al-Amien. Penegasan itu tidak hanya disampaikan, tetapi terlihat dalam praktik harian yang konsisten. Bahkan dalam aspek disiplin, masjid memiliki peran yang sangat konkret.

Kiai Idris rahimahullah pernah mengabsen santri kelas lima dan kelas enam, yang di lingkungan pesantren lebih dikenal sebagai mu’allim, langsung saat salat berjamaah. Jika tidak hadir pada saat itu, tidak ada kesempatan absen ulang. Konsekuensinya tegas, termasuk sanksi yang dikenal sebagai penyemat pita merah dan membuat qoror, bahkan memanggil orang tua untuk menghadap.

Penulis masih mengingat satu peristiwa. Salah satu teman sekelas pernah kabur ke Surabaya. Karena itu, kami yang berada dalam satu shof harus menunggu lama di masjid sampai ia ditemukan dan kembali. Waktu itu masjid terasa sangat berbeda. Diamnya bukan sekadar tenang. Ia menjadi ruang yang mengikat disiplin bersama.

Dari pengalaman itu penulis memahami satu hal sederhana. Masjid bukan hanya tempat ibadah. Ia juga ruang pembentukan tanggung jawab kolektif dalam sistem pendidikan. Di Al-Amien, masjid adalah inti dari kehidupan belajar.

Merawat Persaudaraan Di Atas Sajadah Yang Sama

Masjid juga menjadi ruang tumbuhnya ukhuwah. Di luar waktu salat dan belajar, masjid sering menjadi tempat berkumpul yang paling hidup. Di serambi dan sudut-sudutnya, santri berdiskusi, bertukar pendapat, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Menjelang ujian pondok, suasana masjid berubah. Hampir setiap sudut dipenuhi kelompok kecil santri (muwajjah). Ada yang saling menguji hafalan. Ada yang menjelaskan pelajaran. Ada yang saling menguatkan ketika lelah mulai muncul.

Di dalam masjid, suara halaman kitab terdengar bersahutan. Sesekali terdengar tawa kecil ketika seseorang keliru menjawab hafalan. Namun suasana tetap hangat. Tidak tegang. Tidak saling menjatuhkan. Tidak ada sekat kelas, konsluat daerah, atau organisasi. Semua duduk dalam ruang yang sama dengan tujuan yang sama.

Musyawarah organisasi juga sering berlangsung di masjid. Banyak keputusan penting lahir bukan di ruang formal, tetapi di atas sajadah sederhana yang sama-sama kami duduki. Dari sini penulis belajar bahwa musyawarah bukan hanya soal keputusan. Ia juga soal mendengar, memahami, dan menahan ego. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 103 terasa hidup dalam pengalaman itu:

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Di Al-Amien, ukhuwah tidak berhenti sebagai konsep. Ia hadir dalam interaksi harian yang sederhana tetapi konsisten.

Masjid Sebagai Sekolah Kehidupan

Semakin lama penulis hidup di Al-Amien, semakin penulis menyadari bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan hadir dalam ritme kehidupan sehari-hari.

Masjid mengajarkan disiplin melalui kumandang azan. Masjid mengajarkan ilmu melalui halaqah. Masjid mengajarkan ukhuwah melalui kebersamaan. Karena itu, Masjid Jami’ Al-Amien bukan hanya bangunan ibadah. Ia adalah sekolah kehidupan.

Di tempat ini, santri tidak hanya dibentuk menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Di tengah dunia yang sering memisahkan ilmu (makrifat) dan nilai (qimah), pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidikan yang utuh justru lahir dari keduanya yang berjalan bersama. Dan di antara semua yang penulis bawa pulang dari Prenduan, yang paling membekas bukan catatan pelajaran. Tetapi suara langkah di subuh hari, saat masjid belum penuh, tetapi azan sudah memanggil. Dan kaki melangkah bukan karena diperintah, melainkan karena sudah terbiasa menjawab, insyaAllah…