Lahir dan tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan membuat saya memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Bagi saya, pesantren adalah rumah, tempat bertumbuh, tempat belajar kehidupan, sekaligus tempat ditempanya karakter sejak kecil. Sejak lahir, masa kanak-kanak, hingga menyelesaikan pendidikan tingkat aliyah pada tahun 2024, kehidupan saya tidak pernah jauh dari lingkungan pesantren. Setelah lulus, saya juga diberi kesempatan untuk mengabdi. Dari perjalanan itu, saya menyadari bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan memandang masa depan.
Di tengah perjalanan tersebut, saya mendapatkan amanah sekaligus kesempatan dari pesantren untuk melanjutkan studi di luar. Kesempatan ini menjadi salah satu titik perubahan besar dalam hidup saya. Sebelum berangkat, saya berpamitan kepada para ustadz, kiai, dan nyai. Dalam momen itu, saya menerima banyak nasihat yang hingga hari ini masih saya ingat, tentang pentingnya menjaga diri, menjaga akhlak, dan menjaga nama baik almamater pesantren di mana pun berada.
Untuk pertama kalinya, saya harus keluar dari lingkungan yang selama ini begitu akrab dan memasuki dunia baru. Saya melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakultas Sains dan Teknologi, pada Program Studi Biologi. Secara jujur, saya bukan berasal dari latar belakang sains yang kuat. Karena itu, memilih Biologi adalah keputusan yang penuh pertimbangan sekaligus keberanian.
Saya masih ingat pengalaman pertama memasuki ruang kuliah dan laboratorium. Saat teman-teman lain terlihat sudah cukup akrab dengan istilah-istilah ilmiah, saya justru banyak diam karena masih berusaha memahami semuanya. Ketika praktikum pertama dimulai, melihat berbagai alat laboratorium, prosedur kerja, dan materi yang terasa baru membuat saya sempat bertanya dalam hati, apakah saya mampu bertahan di sini? Bahkan tidak jarang saya merasa menjadi salah satu mahasiswa yang tertinggal di kelas.
Namun setiap kali rasa lelah, ragu, atau ingin menyerah itu datang, saya teringat kedua orang tua saya yang telah berjuang, berdoa, dan menaruh harapan besar terhadap perjalanan pendidikan saya. Saya juga teringat pada perjuangan selama hidup di pesantren, bagaimana kami dididik untuk disiplin, sabar, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. Dari pengalaman itulah saya belajar memahami bahwa setiap perubahan besar tidak harus dimulai dari langkah yang besar, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan yang kecil yang dilakukan secara konsisten. Disiplin, menghargai waktu, menjaga adab dan terus belajar sedikit demi sedikit akan memberikan dampak besar bagi masa depan.
Perlahan saya mulai memahami bahwa ilmu sains bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan seorang santri. Justru dalam banyak hal, sains sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu bidang yang menarik perhatian saya adalah mikrobiologi, yaitu ilmu yang mempelajari mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus. Dari bidang ini saya mulai melihat bahwa ilmu yang saya pelajari memiliki manfaat besar, termasuk bagi kehidupan di pesantren.
Lingkungan pesantren yang dihuni banyak santri dalam satu kawasan tentu membutuhkan kesadaran tinggi terhadap kebersihan dan kesehatan. Dari ilmu mikrobiologi, saya mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan tangan, sanitasi air, pengelolaan makanan, hingga pencegahan penyakit menular. Dari sini saya semakin yakin bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi salah satu bentuk pengabdian, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat dan lingkungan pesantren.
Di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, santri tidak cukup hanya menjadi penonton. Santri harus berani hadir, belajar, dan mengambil peran di berbagai bidang, termasuk sains, teknologi, pendidikan, maupun pengabdian sosial. Sebab nilai-nilai pesantren yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Saya juga teringat sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib: “Hiduplah sesuai dengan zamanmu, jangan hidup hanya mengikuti zaman bapakmu.” Bagi saya, nasihat ini mengajarkan bahwa generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai, adab, dan prinsip yang telah ditanamkan sejak di pesantren.
Di lingkungan baru, saya juga belajar untuk menghormati sesama teman, menghargai perbedaan cara berpikir, latar belakang, dan pandangan. Saya sadar bahwa dunia mahasiswa juga memiliki tantangan tersendiri mulai dari pergaulan bebas, ucapan yang kurang terjaga, hingga budaya toxic yang dapat memengaruhi karakter dan fokus belajar. Di sinilah nilai-nilai Islam yang diajarkan di pesantren menjadi pegangan, khususnya dalam menjaga pandangan, ucapan, pergaulan, dan akhlak.
Kepada adik-adik santri, jangan pernah takut melangkah ke bidang baru. Jangan merasa minder hanya karena berasal dari lingkungan yang berbeda. Pesantren telah membekali kita dengan sesuatu yang sangat berharga; adab, kedisiplinan, keikhlasan, dan semangat mencari ilmu. Bekal itulah yang akan menuntun kita di mana pun berada.
Karena pada akhirnya, keluar dari pesantren bukan berarti meninggalkan pesantren. Ke mana pun seorang santri melangkah, pesantren akan selalu hidup dalam dirinya.

