Puisi-Puisi Pilihan Santri TMI | Edisi Mei

Janji Rantau

Di seberang pulau rindu, Ibu memanggil tanpa henti
Tiba-tiba jarak menggenting karena harum dupa dan wangi duka berselisih
Aku anak rantau Pariaman, di sebuah tabung bambu yang bungkusnya daun jati
“Lihatlah” cinta mengalir! karena pecahnya rindu
Membuat cerita inspirasi semakin nyata, dalam banjirnya air darah mata

“Nak pulanglah!”, surgamu masih nyata di sini
“Tapi hatiku masih dipenuhi semak belukar bu!”
Tentang waktu itu kumulai berusaha, untuk memenuhi sesuatu
Yang ampang, karena lamanya windu mendekap.

Semakin hari arloji berputar, lautan jiwaku membeku
Bak istana Frozen, yang bahkan melebihi Everest
Mungkin karena ini kumulai sadar akan terputusnya jaringan
Antara buah hati dan induknya

Kicauan kelakson tetangga, mulai mencairkan lautan jiwaku
Dalam dekapnya rindu, hatiku mulai goyah tanpa adanya sandaran

Setelah dasawarsa, kumulai kembali dalam nyanyian rindu, untuk
Jiwa sejatiku yang telah mengajarkan cinta sejati, dan
Pertamakalinya memberi kepadaku, dalam ayunan melodi
Angin malamku bersimpuh rindu

*Puisi ini adalah karya Walid Putra Assyafii, kelas V IPSI C asal Bangkalan.

Simpang

Piring berterbangan
Pelarian menghendak tak dicari
Walau dia tak mampu
Mau tidak mau mati

Isi pancuran cahaya
Lebih terang dan bersinar
Meluaskan tatapan mata sehingga
Susah menerkam posisi muka

Lapisan alat canggih
Menerimanya hingga tak bernafas
Di lubang yang terkubur hanya sendiri
Dan tak ada lagi yang menolak

*Puisi ini adalah karya Afgan Nur Maulidin, kelas V MIPA A asal Bogor.

Terusik Lembaran Yang Tak Diharap

Ketika aku bersandar
Di bawah tanah yang sunyi
Lintasan masa lalu yang selalu
Membuatku terusik dalam tidur panjangku ini

Ketika lembaran itu menerpaku dengan pelan
Campur aduk sudah pikiranku ini
sedih dan terima adalah sesuatu
Yang tak mudah kembali

Walau kini kau telah tiada
Lembaran-lembaran itu selalu menerpaku
Membuatku telah meratapi nasib ini
Apakah itu adalah takdirku?

Hembusan napas yang tak kunjung kurasai
Telah berakhir tapi dengan jiwa yang ternganga
Lari dari kelelahan yang tak pernah berakhir
Dari senyumku yang hilang entah sejak kapan
Dengan tawaku yang hilang
Bersama dengan datangnya kelelahan

*Puisi ini adalah karya Fadhil Imtiyaz, kelas VI DIA B asal Jakarta.

Gadis Bermata Bening

Ini hanyalah kisah gadis bermata bening
Yang bersemayam di antara orang orang buta
Dan bernafas di lautan jerebu
Dengan mata menerawang ke depan

Dan dihinggapi embun-embun kesedihan
Orang-orang buta …
Berlalu lalang ke sana kemari
Hingga sepi padang senja menghampiri

Gadis bermata bening hanya meringkuk di sudut kota
Dengan perut yang terus bernyanyi
Gelap dalam lamunan menguasai

Kini …
Gadis itu tak tampak lagi
Ia telah tentram bersama fajar yang menyinsing
Disambut sudut kota yang terasa asing

*Puisi ini adalah karya Habib Mawardika, kelas VI DIA A asal Medan.

Sumpah Aku Tak Ingin Lagi

Ahh…
Gejolak gelombang timur kini berada di dasar hati
Rasa sakit sudah mengarungi seluruh hati
Sumpah kutak ingin seperti ini lagi

Kawat-kawat berduri
Menancap dan mengikat jiwa yang bersedih
Gelisah ke sana kemari
Mata membelalak seraya mencari

Kebodohan menguasai
Pertemuan yang harus dihindari
Kebahagiaan patut dicaci maki
Rasa sayang perlu dikhianati
Bahkan pahit tak kuasa menandingi rasa ini
Keluarkan aku dari sandiwara menyedihkan
Bebaskan dari tali-temali yang mengikat
Agar terbebas dari penyesalan

*Puisi ini adalah karya Habib Mawardika, kelas VI DIA A asal Medan.