Tumbuh atau Tumbang: Tentang Menakar Rasa Malu

“Al-haya’u minal iman”

Malu adalah sebagian dari iman.

Ungkapan ini tentu tidak asing bagi kita. Namun, pernahkah kita bertanya, rasa malu seperti apa yang sebenarnya perlu dijaga? Sebab, ada rasa malu yang melindungi dan menjaga adab, tetapi ada pula yang justru membuat kita sulit berkembang.

Malu ketika berbuat buruk, melanggar aturan, mengabaikan tanggung jawab, atau merasa terlalu hebat untuk menerima nasihat tentu berbeda dengan malu bertanya karena takut dianggap tidak tahu, diejek, ditertawakan, bahkan menjadi sasaran perundungan. Di sinilah kita perlu belajar menakar rasa malu, mana yang membantu kita menjaga adab, dan mana yang justru membuat kita takut mencoba.

Coba ingat-ingat, pernahkah kita ingin mengikuti perlombaan, tetapi akhirnya mundur karena merasa tidak berbakat? Ingin aktif berorganisasi, tetapi takut tidak mampu menjalankan tanggung jawab? Atau ingin berbicara di depan umum, tetapi mengurungkan niat karena merasa teman lain jauh lebih pandai?

Ketika ditanya alasannya, kita mungkin pernah menjawab dengan kalimat yang sama.

“Saya malu, Muallimah.”

“Saya belum layak tampil, Miss.”

“Ada yang lebih bagus, Kak.”

Padahal, mungkin ada ketakutan lain yang ikut menyertainya. Takut gagal, takut salah, takut dianggap bodoh, atau takut ditertawakan ketika tidak bisa memberikan yang terbaik. Dalam psikologi, kekhawatiran terhadap penilaian negatif dari orang lain dikenal sebagai fear of negative evaluation. Kondisi di mana  kita terlalu sibuk membayangkan apa yang akan dipikirkan orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri juga membutuhkan kesempatan untuk belajar.

Sejak kapan belajar harus menunggu kita pandai? Bukankah justru kita belajar supaya menjadi pandai?Toh, Tidak apa-apa menjadi pemula. Tidak apa-apa belum bisa banyak hal. Orang yang sekarang terlihat hebat pun pernah berada di titik ketika ia belum tahu apa-apa.

Tapi kan kita harus punya rasa malu?

Wajib, pada sesuatu yang melanggar norma dan hukum. Bagaimanapun kita tetap harus memiliki rasa malu untuk hal semacam itu, sebagai pedal atau rem batasan sebagai manusia.

Kalau mengingat kembali masa-masa di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, ada banyak pengalaman yang dulu bikin gugup, minder, bahkan mungkin malu kalau diingat sekarang.

Jujur, berasal dari lingkungan sekolah di desa, lalu bertemu teman-teman dengan latar belakang yang beragam, menjadi pengalaman tersendiri bagiku. Meskipun culture shock-nya ada banget ya, merasa tertinggal jauh sekali. Ada teman yang sejak sekolah dasar sudah terbiasa mengikuti berbagai kegiatan, bermain musik, menjadi atlet renang, sampai menguasai design grafis. Pengalaman mereka beragam, kemampuan mereka macam-macam, dan sebagian tampak lebih percaya diri mengambil kesempatan.

Sementara itu, ada juga yang masih sibuk beradaptasi dan mencari tahu sebenarnya apa potensi dirinya?Untungnya, pesantren menyediakan banyak ruang untuk mencoba. Ada Usbu’ul Lughah yang membiasakan santri berbahasa Arab, disusul English Week yang mendorong kami menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian. Belum lagi Pekan Seni Budaya, Kontes Jawara Menulis, pentas seni angkatan, dan berbagai kegiatan lainnya.

Kalau dipikir sekarang, kegiatan di pesantren memang beragam sekali. Kadang kita harus belajar bahasa, menyiapkan penampilan, bekerja dalam tim, menyampaikan ide, sampai ikut memastikan sebuah acara berjalan lancar. Rasanya, santri harus siap menghadapi banyak situasi. Tentu, tidak semuanya langsung terasa mudah. Ada rasa gugup ketika harus tampil di depan banyak orang, canggung saat mencoba hal baru, atau minder ketika teman lain lebih cepat menguasai suatu keterampilan. Kalau diibaratkan pekerjaan, kita ini sebagai event organizer. Namun, justru dari proses itulah banyak hal yang kita pelajari. Bukan cuma materi pelajaran atau isi kitab, tetapi juga life skill 24/7 yang berguna setelah lulus. Seperti, berkomunikasi, mengatur waktu, bekerja sama, memimpin, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Mungkin saat masih di pesantren, kita belum terlalu memikirkan manfaatnya. Kita menjalani kegiatan karena memang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Setelah melewati berbagai pengalaman, barulah terasa bahwa banyak hal kecil yang ternyata menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan di luar pesantren.

Aku sangat yakin, nyaris tidak ada kegiatan di pesantren yang sia-sia. Selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari, meskipun manfaatnya baru kita sadari bertahun-tahun kemudian. Jangan sampai malu membuat kita menyesal. Hari ini, kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri terbuka luas. Kita bisa mencoba banyak hal, mengenal bidang baru, dan mengasah kemampuan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Sayangnya, terkadang kita sudah merasa takut sebelum benar-benar mencoba.

Jika boleh mengulang waktu, aku ingin kembali ke usia 13 hingga 17 tahun, saat masih menjadi santri di Al-Amien Prenduan. Rasanya ingin mengulang kehidupan pesantren. Mengikuti hampir semua kegiatan yang ada, mencoba bidang-bidang baru, dan setidaknya memahami dasar-dasarnya. Bukan karena ingin menjadi ahli dalam segala hal. Aku hanya ingin memberi diriku lebih banyak kesempatan untuk mencoba. Siapa tahu, ada kemampuan yang sebenarnya bisa kukembangkan kalau dulu aku lebih berani mengambil kesempatan.

Untuk teman-teman yang masih punya kesempatan, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya. Jangan hanya mengikuti kegiatan yang sudah dikuasai. Cobalah sesuatu yang baru, beranilah bertanya, dan jangan buru-buru mundur hanya karena merasa belum mampu. Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah rasa malu ini sedang membantu kita menjaga adab, atau justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh? Sebab, kita tidak bisa mengulang waktu. Jangan sampai kita tumbang sebelum berperang, karena terlalu takut untuk mencoba dan bertumbuh.

Selamat Hari Santri. Mari menakar rasa malu agar tak menyesal melewatkan kesempatan untuk bertumbuh. Selamat bertumbuh dengan baik di tempat yang tepat, Bumi Jauhari tercinta.