Pondok Telah Berubah, Tapi Teduhnya Masih Sama

Pada 2024 silam, saya menghentikan langkah di bawah kubah hijau ini. Tapi bukan karena ingin berhenti belajar, apalagi berhenti berproses. Saya hanya sedang menutup satu fase perjalanan yang cukup Panjang ditempat ini menyelesaikan pendidikan S1 sekaligus menuntaskan masa pengabdian di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini. Setelah bertahun-tahun hidup, belajar, mengajar, dan mengabdi di lingkungan pesantren, akhirnya saya harus melanjutkan perjalanan ke tempat yang baru, yaitu Program Magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kepergian itu tentu bukan berarti hubungan dengan pondok selesai. Sesekali ketika libur semester, saya masih menyempatkan diri untuk kembali. Bertemu teman-teman, bersilaturahmi dengan guru-guru, sowan kepada para kiai, atau sekadar berjalan mengelilingi tempat yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak ada agenda yang terlalu besar. Kadang saya datang hanya untuk bermain dan bernostalgia.

Namun, ada pengalaman yang berbeda ketika saya kembali ke pondok pada tahun ini. Saya seperti sedang mengunjungi tempat yang sama, tetapi sekaligus menemukan sesuatu yang baru.

Pondok Telah Berubah

Perubahannya bukan hanya pada bangunan atau fasilitas. Ada perubahan pada cara pondok mengelola pendidikan, pemanfaatan teknologi, lingkungan belajar, dan berbagai aspek kehidupan pesantren. Apa yang saya lihat hari ini tentu tidak sepenuhnya sama dengan apa yang saya tinggalkan pada 2024. Bagi alumni yang sudah cukup lama tidak kembali, mungkin perubahan tersebut akan terasa lebih mengejutkan.

Saya Sendiri Sempat Terpukau

Ada rasa bangga ketika melihat tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya kini berkembang sedemikian rupa. Ada pula sedikit rasa asing karena beberapa hal yang dahulu sangat akrab kini telah berubah. Tetapi mungkin begitulah hukum sebuah lembaga pendidikan: ia tidak mungkin hidup hanya dengan mengulang masa lalu. Ia harus bergerak bersama zaman.

Dalam konteks perubahan sosial, lembaga pendidikan memang tidak dapat sepenuhnya berdiri di luar perubahan masyarakat. Perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi, kebutuhan dunia kerja, karakter generasi muda, hingga perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan adaptasi. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang juga menghadapi tuntutan yang sama.

Karena itu, saya tidak melihat perubahan di Al-Amien sebagai sesuatu yang harus disesali. Justru perubahan itu menunjukkan bahwa pesantren memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Pesantren tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima modernitas secara mutlak. Keduanya dapat berjalan bersama selama perubahan tidak membuat nilai-nilai dasar yang menjadi ruh pendidikan pesantren kehilangan tempatnya.

Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik. Pondok berubah secara wajah, tetapi keteduhannya masih terasa sama. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan tersebut secara ilmiah. Tetapi sebagai seseorang yang pernah hidup di dalamnya, saya dapat merasakannya. Ada suasana tertentu yang sulit ditemukan ketika berada di luar. Ketika kembali, saya seperti mendapatkan kembali ritme kehidupan yang pernah sangat akrab: suara kegiatan santri, aktivitas belajar, ngaji, interaksi dengan guru, kedisiplinan, serta berbagai rutinitas yang mungkin dahulu terasa biasa saja, tetapi justru menjadi sesuatu yang dirindukan setelah kita meninggalkannya.

Mungkin Kita Baru Memahami Arti Sebuah Tempat Setelah Kita Pergi Darinya

Ketika masih menjadi santri, banyak hal di pondok yang terkadang terasa berat. Jadwal yang padat, aturan yang ketat, kewajiban mengikuti berbagai kegiatan, dan tuntutan untuk terus belajar sering kali membuat kita ingin segera menyelesaikan pendidikan. Tetapi setelah berada di luar, kita mulai melihat semuanya dengan perspektif yang berbeda.

Dunia Luar Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan

Di luar pesantren, kita berhadapan dengan ruang sosial yang jauh lebih luas. Kita bertemu dengan berbagai karakter manusia, kepentingan, kompetisi, konflik, tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, hingga derasnya arus informasi di media sosial. Setiap hari ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan. Dunia seakan tidak pernah berhenti berbicara.

Berita datang silih berganti. Perdebatan muncul di mana-mana. Orang dapat saling menyerang hanya karena perbedaan pandangan. Informasi yang benar bercampur dengan informasi yang belum tentu benar. Kecepatan sering kali lebih dihargai daripada kedalaman. Dalam kondisi seperti itu, manusia terkadang membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.

Dan bagi Saya, Pondok Adalah Salah Satu Ruang Itu

Bukan berarti pondok terbebas dari persoalan. Tentu tidak. Pesantren juga merupakan bagian dari masyarakat. Di dalamnya ada manusia dengan karakter yang beragam, ada persoalan, ada dinamika, dan ada tantangan yang harus dihadapi. Namun, ada sebuah sistem nilai yang membuat kehidupan pesantren memiliki karakter tersendiri.

Nilai tersebut tidak selalu diajarkan melalui ceramah panjang. Kadang ia hadir melalui kebiasaan sederhana: bagaimana seorang santri menghormati guru, bagaimana ia meminta izin, bagaimana ia hidup bersama orang lain, bagaimana ia belajar menerima aturan, bagaimana ia menjaga ibadah, dan bagaimana ia menempatkan ilmu bukan hanya sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, tetapi sebagai bagian dari pembentukan diri.

Di titik ini saya teringat pada buku Fenty Effendy, Sukma Bangsa: Tak Sekadar Kisah di Ruang Ajar. Buku tersebut pada dasarnya bercerita tentang pendidikan di Aceh pascakonflik dan pascatsunami, tetapi bagi saya ada satu gagasan penting yang relevan untuk membaca pengalaman saya kembali ke pondok: pendidikan tidak semata-mata tentang ruang kelas dan transfer pengetahuan. Pendidikan juga berbicara tentang pembentukan manusia, karakter, harapan, dan rasa memiliki terhadap bangsa.

Dalam buku tersebut muncul ungkapan yang sangat kuat ketika Surya Paloh berbicara tentang tujuan pendidikan di Aceh: “Tidak ada Indonesia kalau tidak ada Aceh.”

Kalimat tersebut memang berbicara dalam konteks Aceh dan Indonesia. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ia memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan hubungan dengan identitas, lingkungan, sejarah, dan nilai yang membentuk manusia.

Hal yang Sama Saya Rasakan ketika Kembali ke Al-Amien

Pondok bukan hanya kumpulan gedung, ruang kelas, asrama, atau fasilitas pendidikan. Di dalamnya terdapat sejarah. Ada guru yang mengajar dengan ketulusan, ada kiai yang menjadi rujukan, ada tradisi yang diwariskan, ada persahabatan yang terbentuk, dan ada nilai yang perlahan-lahan masuk ke dalam diri santri tanpa selalu disadari.

Karena itu, ketika sebuah pesantren bertransformasi, yang harus dipertahankan bukan semata-mata bentuk fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah ruh pendidikannya.

Modernisasi tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan tradisi. Sebaliknya, modernisasi yang sehat adalah kemampuan untuk menghadirkan nilai lama dalam konteks baru. Teknologi boleh berkembang, metode pembelajaran boleh berubah, fasilitas boleh semakin modern, tetapi penghormatan terhadap ilmu, guru, kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, dan pembentukan akhlak harus tetap menjadi bagian penting dari kehidupan pesantren.

Inilah yang menurut saya membuat pesantren memiliki kekuatan tersendiri. Pesantren tidak hanya berusaha menghasilkan orang pintar. Ia idealnya berusaha melahirkan manusia yang tahu bagaimana menggunakan kepintarannya.

Sebab persoalan kehidupan hari ini bukan hanya persoalan kurangnya pengetahuan. Kita hidup dalam zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Hampir semua orang dapat mencari pengetahuan melalui internet. Namun, memiliki informasi tidak otomatis membuat seseorang memiliki kebijaksanaan. Memiliki kemampuan berbicara tidak otomatis membuat seseorang mampu menghormati orang lain. Memiliki pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang memiliki integritas.

Di sinilah pendidikan karakter menjadi penting. Fenty Effendy melalui kisah Sekolah Sukma Bangsa memperlihatkan bagaimana pendidikan diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter dan harapan. Pembahasan mengenai Sekolah Sukma Bangsa sendiri menekankan pentingnya standar etik dan moral dalam membentuk karakter peserta didik.

Hal tersebut mengingatkan saya pada kehidupan pesantren. Ada banyak pelajaran yang tidak tertulis di dalam buku, tetapi justru melekat dalam kehidupan sehari-hari. Santri belajar tentang kesabaran melalui rutinitas. Belajar tentang tanggung jawab melalui tugas. Belajar tentang penghormatan melalui hubungan dengan guru. Belajar tentang kebersamaan melalui kehidupan asrama. Dan belajar tentang kesederhanaan melalui kehidupan yang jauh dari kemewahan.

Mungkin karena itulah seorang alumni dapat meninggalkan pesantren selama bertahun-tahun, tetapi ketika kembali, ada sesuatu yang terasa akrab.

Saya datang kali ini sebenarnya tidak memiliki agenda apa-apa. Saya hanya ingin bermain, bertemu guru-guru, dan sowan kepada para kiai. Namun, kunjungan sederhana itu justru membawa saya pada sebuah refleksi yang lebih panjang.

Saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sibuk melihat dunia dari luar. Kuliah, membaca buku, berdiskusi, bertemu banyak orang, dan melihat berbagai persoalan sosial membuat saya merasa semakin memahami dunia. Tetapi ketika kembali ke pondok, saya justru belajar satu hal lain: terkadang untuk memahami ke mana kita akan pergi, kita perlu kembali melihat dari mana kita berasal.

Pondok yang saya tinggalkan pada 2024 tidak lagi sepenuhnya sama. Tetapi mungkin memang demikian seharusnya. Pondok harus terus bergerak. Santri yang lahir hari ini menghadapi dunia yang berbeda dengan dunia yang saya hadapi ketika menjadi santri. Mereka membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai dengan zamannya.

Yang perlu dipastikan adalah jangan sampai perubahan hanya berhenti pada tampilan. Bangunan boleh berubah menjadi lebih megah. Teknologi boleh semakin canggih. Sistem pendidikan boleh semakin modern. Tetapi jika hubungan manusia dengan ilmu semakin jauh, jika adab semakin ditinggalkan, jika guru hanya dipandang sebagai bagian dari sistem, dan jika pendidikan kehilangan orientasi moralnya, maka modernisasi justru kehilangan makna. Sebaliknya, ketika modernitas dapat berjalan bersama nilai, perubahan justru menjadi kekuatan.

Mungkin inilah yang saya lihat ketika kembali ke Al-Amien. Saya melihat pondok yang sedang tumbuh dan menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi pada saat yang sama saya masih dapat merasakan sesuatu yang dahulu saya rasakan ketika menjadi santri: keteduhan. Dan mungkin keteduhan itu bukan berasal dari bangunan.

Ia Berasal dari Nilai yang Hidup di Dalamnya

Dari guru-guru yang masih mengajar. Dari kiai-kiai yang masih menjadi tempat bertanya. Dari santri-santri yang masih menjalani rutinitas. Dari doa-doa yang masih dilantunkan. Dari tradisi keilmuan yang masih diwariskan. Dan dari kenangan ribuan santri yang pernah ditempa di tempat tersebut.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa pulang ke pondok bukan selalu tentang melihat apakah tempat itu masih sama seperti dahulu. Pulang adalah kesempatan untuk melihat apa yang telah berubah dan apa yang ternyata tetap tinggal. Dan ketika saya kembali ke bawah kubah hijau itu, saya menemukan jawabannya. Banyak hal telah berubah. Wajah pondok berubah. Fasilitas berubah. Sistem berkembang. Generasi berganti.

Tetapi Ada Sesuatu yang Masih Sama: Rasa Teduhnya

Mungkin itulah yang membuat seorang alumni selalu memiliki alasan untuk kembali. Bukan karena pondok tidak berubah, tetapi justru karena kita menyadari bahwa di tengah dunia yang terus bergerak, kita membutuhkan sebuah tempat yang mengingatkan kita pada nilai-nilai yang pernah membentuk diri kita.

Saya datang sebagai alumni yang sedang menunggu wisuda. Saya datang hanya untuk bermain dan bersilaturahmi. Tetapi saya pulang membawa sebuah kesadaran sederhana.

Pondok boleh berubah mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan alasan mengapa ia didirikan. Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang menciptakan manusia yang mampu menghadapi zaman, melainkan manusia yang tetap memiliki arah ketika menghadapi perubahan zaman.

Dan mungkin, setelah sekian lama berjalan di luar, saya akhirnya memahami mengapa kubah hijau itu selalu terasa seperti tempat untuk pulang.