Pelajaran Terakhir, bahwa Kita akan Dilupakan

Sejak kecil, ibu adalah orang pertama yang mengajarkan bahwa keberadaan kita sendiri adalah sebuah cinta, dan setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memaknainya. Sebagian orang memandang cinta sebagai kebahagiaan. Beberapa orang lain, melihat cinta sebagai kasih yang mereka terima sebagai rasa nyaman. Mungkin cinta adalah rasa yang disuguhkan. Tapi cinta, bukan sekedar perasaan.

Kita berada di tengah kisah cinta yang datang dan pergi. Ada banyak cerita persahabatan yang renggang oleh waktu. Ada hubungan yang retak oleh kesalahpahaman. Tapi saat kita pulang, ibu adalah satu-satunya cinta yang selamanya akan kita terima dari orang yang sama. Barangkali, alasan Tuhan menciptakan cinta adalah agar manusia punya tempat untuk pulang. dan itulah mengapa pondok menjadikan dirinya sebagai ibu, yang selalu penuh dengan cinta.

Namun di antara banyaknya keindahan cinta yang ada, kita lupa belajar bahwa tidak semua yang dicintai akan menetap selamanya. Hari ini, kita akan menyadari banyak kemungkinan yang lahir dari cinta. Cinta yang menumbuhkan keterikatan, dan keterikatan menghadirkan risiko kehilangan. Bahwa kita akan pergi, meninggalkan ibu kita, tempat tinggal kita, pesantren kita, dan dilupakan.

Sebagai seorang alumni yang telah cukup jauh melangkah, semakin kami sadar bahwa pondok telah mencintai kami dengan caranya sendiri. Tidak karena cintanya yang sempurna, tapi cinta yang lahir dengan tulus bahkan sebelum kami menjadi istimewa.

Pesantren menerima kami sebagaimana ibu menerima anaknya. Kami diajari jatuh untuk bangkit, menghargai tanpa meminta, memaafkan bahkan sebelum dimintai maaf. Semua adalah tentang kelapangan. Ada begitu banyak versi diri kami yang gugur di tempat ini. Lelah yang terlalu dikeluhkan, tentang arti pengabdian, dan cara kembali kepada Tuhan. Pondok selalu menyuguhkan air saat kami dahaga meskipun kerap kami tolak karena tidak menyukai rasanya. Padahal, saat itulah cinta sedang bekerja dengan memberikan banyak hal yang bahkan tidak pernah kita minta. Perjalanan itu menjadikan waktu untuk pulang ke dalam diri kami sendiri, sebagai perjalanan paling jauh yang pernah kami tempuh.

Waktu memang selalu punya cara untuk mengajari kita banyak hal. Saat pertama menyandang gelar santri, kita mungkin mengira bahwa kebersamaan hari itu akan terus sama di setiap harinya. Kita mengira nama-nama yang begitu akrab hari ini akan selalu tinggal. Kita mengira guru-guru akan selalu ada, dan langkah-langkah yang setiap hari kita tapaki di lorong-lorong pondok ini akan terus mengenal kita sebagai penghuninya.

Tapi atap ini telah berdiri jauh sebelum kita datang. Setiap masanya, ia menaungi ribuan santri yang tumbuh, belajar, menangis, dan tertawa, lalu pergi. Setiap tahun ia menyaksikan wajah-wajah baru yang datang dan memulangkan wajah-wajah lama. Dan kita, hanyalah salah satunya.

Beberapa tahun lagi, kamar yang pernah kita tempati akan dihuni orang lain. Tempat yang biasa kita duduki akan ditempati generasi berikutnya. Program-program yang pernah kita susun, akan dilanjutkan, diperbaiki, bahkan diganti. Orang-orang akan tetap tertawa di tempat yang sama, berdoa, belajar, meskipun kita tidak membersamainya. Pesantren ini pernah menjadi bagian dari orang-orang sebelum kita, menjadi bagian dari kita, dan akan menjadi bagian dari mereka yang datang setelah kita. Sebelum tulisan ini selesai, saya menemukan sebuah ungkapan indah. Rasanya, orang-orang arab memang selalu memiliki cara untuk mengungkapkan keindahan:

لَوْ دَامَتْ لِغَيْرِكَ مَا وَصَلَتْ إِلَيْكَ

“Seandainya sesuatu itu kekal bagi orang lain, niscaya ia tidak akan sampai kepadamu.”

Kita sedang belajar hidup dengan motto “patah tumbuh hilang berganti”. Bukan karena yang patah tidak berharga, atau sekedar mengajarkan bahwa yang hilang telah selesai masanya. Pondok sedang menyadarkan kita kerendahan hati, bahwa tidak ada satu nama pun yang begitu besar, hingga kehidupan berhenti ketika ia pergi. Hal ini seharusnya sudah cukup membuat kita yakin, bahwa kita benar-benar berharga karena menjadi bagian dari pesantren ini.

Pergi dan kehilangan adalah dua hal yang akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Maka, kita yang sekarang merasa sangat penting, suatu hari nanti akan dilupakan. Tapi bukankah setiap manusia ingin dikenang? Bukankah ada bagian dalam diri kita yang berharap nama kita tetap hidup di hati orang lain?

Namun tujuan keberadaan kita, bukan sekedar untuk diingat. Pondok selalu mengajari kita untuk tumbuh dan bermanfaat. Bukan lagi tentang seperti apa kita akan dilihat, tapi apa yang kita tinggalkan untuk yang kita cintai. Pada hakikatnya, tidak ada satu standar tunggal untuk mengukur perasaan seseorang. Tapi percayalah, cinta yang tulus tidak selalu meminta balasan. Ia akan terkenang dengan sendirinya.

Di tahun terakhir ini, masa pengabdian kami semakin menuju penghujung waktunya. Kami justru mencintai pondok, lebih dari biasanya. Mungkin karena kami menyadari, bahwa waktu bersama kami tidak akan lama, dan tentang kenyataan bahwa pondok ini akan tetap menggenggam cahayanya tanpa kami.

Apa yang kami sadari hari ini adalah cinta pondok kami, yang selalu lebih besar daripada siapapun yang berada didalamnya. Pelajaran bagi kami adalah, bahwa akan selalu ada cinta seperti cinta ibu. Kami mungkin akan dilupakan dari kehidupan dalam pesantren ini, namun cinta ibu tidak akan pernah benar-benar selesai.

Akhirnya, kita semua hanyalah musafir yang singgah. Kita datang untuk belajar, bertumbuh, lalu pulang. Dan ketika hari itu tiba, semoga yang tertinggal dari diri kita bukan sekadar nama yang disebut sesekali, melainkan jejak-jejak kecil kebaikan yang membuat pondok ini sedikit lebih hangat daripada saat pertama kali kita datang.