Lulusan Pesantren, Haruskah Menjadi Guru?

“Han, kamu kan lulusan pondok, kenapa tidak menjadi guru saja?” Tanya Adhin sambil tersenyum.  Tampaknya ia sangat penasaran. Kami berdua baru kenal beberapa bulan. Orangnya sangat ramah, humble, dan suka bercanda layaknya bapak-bapak. Jokes-nya kadang lucu, garing, juga tidak nyambung.

Setelah mendapati pertanyaan itu, saya pun tersenyum tipis. Menunduk sejenak. Menikmati suasana pedesaan yang amat syahdu.

“Tidak semua lulusan pesantren harus jadi guru, kan?” Saya menjawab dengan nada santai. Adhin menganggukkan kepala. Sepertinya ia sepakat dengan pernyataan saya.

Sebenarnya, pertanyaan semacam ini sudah saya terima berulang-kali. Pernah dari tetangga, wali murid yang anaknya belajar bersama Istri, bahkan bapak-bapak DKM (Dewan Kepengurusan Mushola) yang ada di dekat rumah.

Pertanyaannya pun mirip-mirip; “Mas ngajar di mana?”, “Oh, tak kirain Mas-nya jadi guru.”

Padahal, kami baru kenal. Belum terlalu banyak ngobrol. Saya juga masih malu-malu ikut nimbrung ketika mereka berkumpul. Namun, satu hal yang saya syukuri, para warga sekitar sini orangnya ramah sekali. Mulai dari Pak RT-nya, tetangga sebelah, anak-anak kecil yang biasa berlarian hingga bermain sepeda di depan rumah, penjaga warung, dan jajaran pengurus DKM-nya.

Senang rasanya bisa dikelilingi orang-orang seperti ini. Ringan menyapa. Mudah memberikan senyum bagi sesama. Apalagi ketika tidak sengaja bertemu Pak RT selepas meninggalkan mushola.

“Pak Ustadz!” Pak RT menyapa dengan suara lantang.

“Iya, Pak RT.” Saya balas menjawab dengan senyum sambil mengangguk.

Sejujurnya, saya merasa kurang nyaman saat dipanggil “Ustadz”. Karena panggilan itu sepertinya lebih layak bagi mereka yang lebih berilmu, lebih tawadhu’, indah akhlaknya, dan jauh lebih paham soal agama. Setuju?

Hal kedua yang saya syukuri adalah dipercaya menjadi imam mushola. Termasuk saat bulan Ramadhan kemarin dan ketika pelaksanaan sholat Idhul Fitri. Alhamdulillah. Semuanya atas izin Allah.

Imam sholat ternyata menjadi impian saya sejak masuk pesantren. Jauh sebelum memahami apa saja keutamaan menjadi imam, sebelum mempelajari bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik, saya melihat teladan seorang guru dan imam dari Bapak dan Abah (kakek) saya.

Merekalah yang menjadi guru pertama saya. Mengajarkan Al-Qur’an, pemahaman ilmu fiqh, dan berbagai kaidah kehidupan yang berharga. Selebihnya, saya justru lebih banyak belajar ilmu agama, akhlak, bahasa arab, maupun tahsinul qira’ah di Pesantren bersama para asaatidz dan masyaikh.

Meski setelah lulus dari pesantren tidak menjadi guru yang mengajar di sekolah, ataupun dosen yang mengajar mahasiswa di kampus, kami tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang telah ditanamkan selama menempa diri di Pesantren.

Menariknya, kegiatan belajar-mengajar di zaman ini jauh lebih fleksibel, Kita bisa mengajarkan ilmu sesuai bidang keilmuwan masing-masing melalui platform media sosial seperti Instagram, Tiktok, dan Youtube. Kita juga bisa menuliskan materi, hal-hal yang kita kuasai, melalui platform seperti Threads yang basic-nya hanya teks sehingga lebih effortless bukan?

Lulusan Pesantren, haruskah menjadi guru?

Tidak harus. Buktinya, ada banyak alumni pesantren yang menjadi pebisnis, content creator, driver ojek online, video editor, desainer grafis, penjaga warung sembako, affiliator, dan tidak sedikit sebagiannya lagi merantau ke luar negeri.

Tapi, kami selalu ingat nasihat dari kiai bahwa di manapun kami berada, kami tetaplah santri yang sedang mengemban amanah untuk berdakwah. Sekali lagi, berdakwah tidak harus berceramah di atas mimbar, tidak melulu mengisi kajian di majelis-majelis ilmu. Kita bisa berdakwah dengan perbuatan, dengan lisan, maupun dengan tulisan.

Dan saya menempuh jalur yang ketiga. Saya lebih memilih untuk berdakwah melalui karya tulis, esai, konten media sosial dan storytelling.

Saya bukan seorang guru. Saya hanyalah karyawan biasa yang bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Sepanjang hari berjibaku di depan handphone untuk mengedit konten video, menatap layar komputer untuk mendesain kaver video Titkok, dan menulis skrip serta brief untuk talent.

Setiba di rumah, saya melanjutkan rutinitas seperti biasa. Mencuci piring. Memasak nasi. Membaca buku meski sebentar. Melamun. Mencatat ide-ide yang terlintas sesaat di kepala. Dan menulis materi yang saya sukai.

Kalau ingin kenal lebih dekat, kamu bisa membaca sedikit karya saya di sini: https://clicky.id/royhanazizy