Kedekatan Kiai Tidjani dengan Syekh Yasin al-Fadani

Berada di Makkah selalu menghadirkan perasaan yang mendalam. Di kota ini, sejarah keilmuan Islam terasa begitu dekat; tentang ulama, sanad, persahabatan, dan mata rantai ilmu yang menyambungkan generasi demi generasi. Nama Syekh Yasin al-Fadani dan Kiai Tidjani Djauhari bukanlah nama yang asing bagi saya. Hubungan keduanya telah lama menjadi fokus perhatian saya, bahkan menjadi bahan utama dalam disertasi doktoral saya dan kekaryaan saya tentang Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Kedekatan Kiai Tidjani dengan Syekh Yasin al-Fadani bukan sekadar hubungan antara murid dan guru, melainkan juga hubungan personal yang sangat erat. Kiai Tidjani memegang peran penting sebagai penghubung komunikasi antara Syekh Yasin di Makkah dan Syekh Muhammad al-Hafidh di Mesir. Kedua ulama besar ini adalah ahli hadis sekaligus muqaddam Tarekat Tijaniyah. Dari kedua tokoh ini pula Kiai Tidjani menerima sanad taqdim, sehingga dalam diri beliau bertemu dua mata rantai ilmu yang penting: sanad hadis dari Makkah dan Mesir, serta sanad Tarekat Tijaniyah.

Hubungan ini makin tampak nyata lewat cerita Nyai Anisah, istri Kiai Tidjani, yang menyampaikan bahwa Kiai Tidjani menerima ijazah kitab-kitab karya Syekh Muhammad al-Hafidh, salah satunya kitab al-Ahzab wal Aurad. Selain itu, Kiai Fauzi Amar dari Sampang, yang merupakan Muqaddam Tijaniyah dan pernah belajar di Makkah, juga menyaksikan langsung momen ketika Kiai Tidjani diangkat menjadi muqaddam mutlak oleh Syekh Yasin al-Fadani.

Kisah-kisah tersebut seolah menemukan ruangnya saat saya berada di Makkah dan Madinah. Saya sempat membawa kitab biografi Syekh Umar al-Futi karya Syekh Muhammad al-Hafidh untuk diserahkan kepada keturunannya, Syekh Mujtaba al-Futi, di Madinah. Ada kebahagiaan tersendiri ketika sebuah karya ulama Mesir tentang ulama Afrika Barat diserahkan langsung oleh seorang pencari ilmu dari Nusantara kepada ahli warisnya di tanah suci.

Kesempatan untuk memperdalam kisah ini terbuka kembali pada Rabu, 2 September 2026 (20 Rabiul Awwal 1448 H). Menjelang siang, di sela-sela kunjungan ke Universitas Ummul Qura, saya bersilaturahmi ke kediaman Kiai Fahmi, Ketua Syuriyah NU Makkah yang telah bermukim di sana sejak tahun 1977.

Dari Kiai Fahmi, saya mendapat cerita yang menguatkan apa yang selama ini saya baca. Saat Kiai Fahmi hendak mendaftar ke Universitas Ummul Qura, beliau meminta rekomendasi kepada Syekh Yasin al-Fadani. Kemudian Syekh Yasin mengarahkannya kepada Kiai Tidjani Djauhari. Saat itu, Kiai Tidjani memang menjabat sebagai sekretaris pribadi Syekh Yasin yang memimpin Darul Ulum Makkah. Posisi ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan dan kedekatan antara keduanya. Di samping peran tersebut, Kiai Tidjani juga dikenal luas atas kiprahnya di Rabithah Alam Islami serta kedekatannya dengan tokoh dunia Islam asal Indonesia, M. Natsir.

Pertemuan menjelang siang itu menjadi makin berkesan ketika Kiai Fahmi memberikan sanad ijazah dari para ulama Makkah, seperti dari sayyid Abdullah bin said Muhammad Alawi dengan kitab al-Mirqah ila ar-riwayah wa ar-ruwwah, dari Syekh Ismail utsman Zain al-Yamani dengan kitab hadza tsubut al musamma bi shilah al khalaf bi asanid as-salaf dan Syekh al-Masyath dengan kitab is’af ahl Islam serta menyerahkan kitab sanad tersebut kepada saya. Sebagai bentuk apresiasi, saya memberikan buku hasil riset saya bersama akademisi USIM Malaysia tentang ulama hadis Indonesia-Malaysia yang pernah belajar di Haramain kurun waktu abad XVI-XX, di mana Kiai Fahmi juga memberikan kata pengantarnya.

Menerima kitab sanad di Makkah menghadirkan rasa haru sekaligus tanggung jawab. Sanad mengingatkan kita bahwa ilmu diwariskan secara bertahap melalui bimbingan para guru. Keindahan utama dari perjalanan ilmiah adalah kesempatan untuk menyambungkan diri dengan orang-orang yang telah menjaga ilmu dan agama.

Syekh Yasin al-Fadani, Kiai Tidjani Djauhari, dan Kiai Fahmi akan selalu hadir dalam doa-doa saya. Nama-nama mereka selalu saya ingat dalam ruang batin. Sebagai pencinta ilmu, saya menyimpan harapan tulus agar suatu saat diberi kesempatan oleh Allah untuk bermimpi bertemu dengan para ulama tersebut, melihat mereka berdiskusi dan mendengarkan dawuh-dawuh mereka.

Sebab, perjumpaan tidak hanya terjadi melalui langkah kaki atau lembaran kitab, tetapi juga bisa hadir lewat mimpi yang menentramkan hati. Semoga Allah senantiasa menjaga mata rantai ilmu ini, memberkahi para guru kita, dan menjadikan sanad yang diterima sebagai amanah untuk terus belajar, mengamalkan, serta menyampaikan ilmu dengan ikhlas.