Amanah yang Tidak Selesai di Pondok

Ahad, 23 September 2018. Suasana Prenduan riuh oleh parade konsulat. Setiap konsulat menampilkan identitas daerahnya. Begitu pula konsulat Malang yang saya pimpin. Entah karena terlalu bersemangat atau belum mampu membedakan kebanggaan daerah dengan fanatisme sepak bola, kami membawa syal dan bendera serta melantunkan chant khas Aremania. Parade budaya itu pun nyaris berubah menjadi arak-arakan suporter.

Ketika barisan sampai di pertigaan dekat Pasar Prenduan, beberapa pendukung Persebaya dari luar pondok menghentikan dan melakukan sweeping terhadap atribut kami. Sebagai ketua konsulat, saya merasa harus berdiri paling depan. Adu mulut pun terjadi. Dalam pikiran saya saat itu, membela anggota berarti tidak boleh mundur. Persoalan tersebut akhirnya membawa kami ke kantor Polsek Prenduan. Di sana, saya menerima teguran keras dari Ketua MPO, sebuah pengalaman yang tidak pernah saya lupakan.

Kami memang keliru. Kami mencampur parade budaya dengan fanatisme suporter. Saya ingin melindungi anggota, tetapi belum mampu melindungi mereka dari emosi saya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, saya memahami bahwa berdiri di depan tidak selalu berarti membalas tantangan. Kadang-kadang, pemimpin justru harus menjadi orang pertama yang menahan diri.

Ketika Disiplin Kehilangan Kesabaran

Pelajaran lain datang ketika saya dipercaya menjadi Ketua Bakopda ISMI. Kami mengelola Dapur Umum TMI Putra, yang lebih akrab disebut Purum, kependekan dari dapur umum. Saat itu Purum melayani santri baru yakni sekitar 400 anak syu’bah: kurang lebih 200 santri syu’bah tamhidiyah atau program reguler dan 200 santri syu’bah i’dadiyah atau program intensif. Setiap waktu makan, kami harus menertibkan barisan dan memastikan semua memperoleh bagian yang sama.

Saya harus mengakui bahwa saat itu saya bukan mualliem yang selalu sabar. Saya mudah marah ketika anak-anak syu’bah sulit ditertibkan. Suara saya meninggi, pada beberapa keadaan kemarahan saya pernah melampaui batas. Sampai hari ini saya menyesali cara keras yang pernah saya gunakan. Dahulu saya mungkin menganggapnya ketegasan. Kini saya memahami bahwa ketegasan dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Saya meminta orang lain tertib, tetapi belum berhasil menertibkan emosi saya sendiri.

Saya juga kerap kecewa karena sulit menertibkan teman seangkatan yang makan di Purum. Ada yang berharap memperoleh perlakuan khusus, padahal mereka seharusnya mengikuti aturan yang sama. Di situlah saya belajar bahwa keadilan justru lebih berat ketika yang meminta keistimewaan adalah kawan sendiri.

Dalam pembukaan suatu pelatihan di TMI pada 9 November 2015, Kiai Ghozi Mubarok Idris menyampaikan, “pemimpin itu diciptakan, bukan dilahirkan.” Kalimat itu kini terasa lebih terang. Pemimpin tidak selesai dibentuk melalui satu ceramah atau jabatan. Ia ditempa melalui penugasan, pembiasaan, teguran, evaluasi, kegagalan, dan kesediaan memperbaiki diri.

Organtri, konsulat, Purum, muhadharah, pramuka, serta berbagai fase di pondok adalah ruang latihan. Latihan itu tidak selalu indah. Ada kesalahan yang harus diakui dan penyesalan yang perlu dibawa sebagai pengingat. Semboyan “siap dipimpin dan siap memimpin” menuntut kami untuk bersedia diarahkan, dikoreksi, dan menundukkan ego ketika amanah mulai disalahpahami sebagai kekuasaan.

Diuji Kembali di Tengah Masyarakat

Selepas lulus pada 2020, saya menjalani khidmah di SMP Raudlotul Muttaqin, Sumbermanjing Wetan. Pengabdian yang bermula sebagai kewajiban alumni itu tetap saya jalani hingga kini sebagai staf tata usaha. Di kampung halaman, saya juga mengabdi di RA Bale Wisma Suta, mula-mula sebagai operator, kemudian dipercaya menjadi kepala RA. Dari dua lembaga itu saya belajar bahwa khidmah sering berlangsung di balik layar. Seperti Purum, pekerjaan tersebut jarang terlihat ketika semuanya lancar, tetapi segera terasa ketika satu bagian terlewat.

Ujian lain datang setelah saya dipercaya menjadi Ketua Karang Taruna Gajah Mada Desa Gajahrejo pada Februari 2025. Pada Oktober tahun yang sama, saya menerima amanah sebagai ketua panitia karnaval desa. Anggaran awal terbatas, sementara harapan masyarakat cukup besar. Panitia terdiri atas pemuda, tokoh senior, dan berbagai unsur masyarakat dengan pengalaman serta cara pandang yang tidak selalu sama.

Di pondok, struktur organtri membuat pembagian tugas relatif jelas. Di masyarakat, jabatan ketua tidak otomatis membuat semua orang mengikuti arahan. Saya harus belajar mendengar lebih lama, menjaga tutur kata, bermusyawarah, dan mencari jalan tengah. Dalam keadaan seperti itu, saya teringat pada kalimat yang berulang kali kami dengar dalam apel pembukaan ujian di TMI dan tertulis di beberapa sudut pondok:

بِالِامْتِحَانِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ أَوْ يُهَانُ

Bil-imtiḥāni yukramul-mar’u au yuhānu.

“Melalui ujian, seseorang akan dimuliakan atau direndahkan.”

Dahulu saya memahaminya dalam konteks ujian di kelas. Setelah meninggalkan pondok, saya menyadari bahwa kehidupan juga menghadirkan ujiannya sendiri. Keterbatasan, perbedaan pandangan, dan kesulitan menggerakkan orang lain merupakan imtihan yang menguji kesabaran serta kedewasaan. Jabatan tidak dengan sendirinya memuliakan seseorang. Nilai kepemimpinannya ditentukan oleh cara ia bersikap ketika diuji: tetap tenang, mau mendengar, mampu bermusyawarah, dan bertanggung jawab.

Alhamdulillah, berkat gotong royong panitia dan dukungan masyarakat, karnaval dapat terlaksana dengan lancar. Setelah seluruh kebutuhan diselesaikan, kami bahkan masih dapat memberikan sedikit apresiasi kepada semua panitia. Saya tidak melihatnya sebagai keberhasilan pribadi. Dari kegiatan itu saya memahami bahwa memimpin bukan berarti mengendalikan semua orang, melainkan mempertemukan banyak kekuatan agar bergerak menuju tujuan bersama.

TMI Tidak Mengajarkan Kesempurnaan

Saya belum menjadi orang sukses dan belum merasa telah menjadi pemimpin yang baik. Tulisan ini bukan testimoni bahwa TMI telah melahirkan saya sebagai pribadi yang selesai dibentuk. Sebaliknya, perjalanan ini membuat saya menyadari bahwa banyak nilai yang dahulu ditanamkan oleh para kiai, mudir, asatiz, dan mualliem baru benar-benar saya pahami setelah meninggalkan Al-Amien Prenduan dan berhadapan dengan kehidupan masyarakat.

Saya bersyukur pernah dididik di tempat yang memberi ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima teguran, menyesal, lalu belajar kembali. TMI tidak menjadikan alumninya selalu benar, tetapi menanamkan kesadaran bahwa amanah harus dijalankan sebagai pelayanan, kewenangan harus dikendalikan, dan kesalahan harus berani diakui.

Barangkali itulah amanah yang tidak pernah benar-benar selesai di pondok. Ia ikut pulang bersama para alumni, lalu diuji kembali di sekolah, organisasi, keluarga, dan masyarakat. Kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak orang yang dapat kita perintah, melainkan seberapa jauh kita mampu memimpin diri sendiri, menerima koreksi, dan berusaha agar orang lain tidak kembali terluka oleh kesalahan yang pernah kita lakukan.