Ustazah AI, Fenomena Tuhan Baru Zaman Sekarang?

Suatu petang, kala saya membuka gawai seusai tertatih-tatih belajar memberi jarak, saya termenung mendapati seliweran potongan video seorang ustazah di media sosial. Paras ustazah itu begitu rupawan, sementara tutur kata serta perangainya begitu tenang. Kolom komentar pun dibanjiri pujian. Bahkan jumlah penonton mencapai jutaan.

Saya termenung lantaran seorang netizen menyebut jika sosok perempuan cantik di video tersebut hasil dari perangkat AI. Padahal jika dilihat secara sepintas, sosok ustazah ini tampak nyata layaknya manusia yang berbicara. Batin saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana saya harus menyikapi fenomena ini?

Pertanyaan ini lahir bukan hendak bersikap lebay. Sungguh bukan. Akan tetapi, pertanyaan ini lahir sebab selama ini saya terbiasa menikmati video ceramah tokoh agama di media sosial. Entah Cak Nun, Prof. Quraisy Shihab atau Gus Baha’. Dan beliau-beliau ini betul-betul sosok insan manusia. Bukan AI.

Tentu saja, saya tak menampik rasa bahagia kala video ustazah AI tersebut diterima secara positif. Artinya, jalan spiritualitas kita masih ada bahkan mudah ditemui seiring melesatnya perkembangan media sosial. Tetapi sisi lain, saya makin tertegun saat akun lain menyebut jika di ranah global telah muncul fenomena agama baru berbasis AI. Sebutlah sebuah robot di Kyoto yang berkhutbah tentang ajaran Buddha, atau Anthony Levandowski yang terang-terangan mendirikan gereja yang menyembah AI.

Tampaknya, saya terlambat menyadari fenomena ini. Tak ayal, saat mendapati video ustazah AI yang konon bernama Hajar itu, segala pertanyaan terkait apa, bagaimana dan mengapa, mendadak muncul di kepala. Mungkin ustazah AI ini lahir karena perkembangan teknologi.

Namun, penerimaan yang begitu antusias dari masyarakat membuat saya bertanya: mengapa sosok yang bukan manusia begitu mudah memperoleh kepercayaan? Perlahan saya mencoba menengok ke belakang. Saya mencoba menengok kehidupan yang makin hari makin sesak akan persoalan.

Sebutlah dalam ranah keluarga yang menjadi wilayah paling sempit. Mudah rasanya kita menemukan berita di media sosial, bagaimana seorang anak membunuh ibunya, atau seorang ayah yang justru melakukan tindak asusila kepada putrinya. Lalu saat kita beranjak ke lembaga pendidikan. Kita juga sering mendapati berita bagaimana murid menghajar guru, murid sesama murid saling menikam, atau guru menindas muridnya.

Bahkan beragam kasus di pesantren yang akhir-akhir ini mewarnai ranah publik juga turut mengiris perasaan. Maka, tidak heran jika masyarakat mulai mengalami krisis kepercayaan. Ditambah kondisi negara yang membuat kita seringkali mengelus dada. Krisis kepercayaan pun makin lama makin mengering.

Dahulu, apabila memiliki masalah, kita akan menemui tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk meminta jalan keluar. Rasa kepercayaan itu lahir karena adanya suri teladan dari sosok tersebut. Tetapi sekarang, kepercayaan itu mulai pudar. Mafhum jika masyarakat banyak yang beralih mencari insan teladan lewat media sosial. Sehingga sosok seperti Ustazah Hajar tadi mudah memperoleh tempat di hati banyak orang.

Tentu saja, saya tak hendak menolak keberadaan AI. Sebab saya akui, agama dan ilmu pengetahuan sejatinya hidup berdampingan. Dan saya merasakan manfaat AI saat berdiskusi perihal pekerjaan. Akan tetapi, saya teringat kisah orang-orang di zaman Nabi Ibrahim. Kala itu, umat Nabi Ibrahim amat pandai perihal ilmu niranj (sihir) dan ilmu perbintangan.

Ada tujuh bintang yang disembah sebelum akhirnya mereka membuat tujuh patung berhala. Salah satu patung itu diberi nama Al-Musytari. Di hadapan patung inilah, kaum Nabi Ibrahim mencurahkan semua keluh kesah yang ada, terutama yang berhubungan dengan hal-hal positif seperti memohon kebaikan, kecukupan rezeki dan lainnya.

Dari catatan sejarah ini menunjukkan, bagaimana manusia seringkali mengubah ciptaannya sendiri menjadi sesuatu yang diberi kedudukan tinggi. Tentu yang mengkhawatirkan bukan perkara kecerdasan buatan itu sendiri. Melainkan yang mengkhawatirkan adalah bagaimana manusia cenderung menyerahkan kepercayaan, harapan, bahkan jawaban atas persoalan hidup kepada sesuatu yang ia ciptakan sendiri.

Saya lantas bertanya-tanya, apakah mungkin jika nantinya kita menempatkan AI seperti umat Nabi Ibrahim menempatkan kedudukan Al-Musytari? Entahlah. Nyatanya, saat ini saja telah muncul Ustazah Hajar atau gereja ciptaan Anthony Levandowski.

Semoga saja kita tidak menjadikan AI sebagai tempat menggantungkan kepercayaan terutama perihal spiritualitas. Sebab spiritualitas adalah wilayah paling purba dalam kehidupan manusia. Jalan menuju ke sana bukan perjalanan keluar, melainkan perjalanan pulang yang jauh dan sepi ke dalam diri sendiri. AI mungkin bisa membantu menemukan jawaban atas apa yang kita cari. Tetapi, ia tidak akan pernah bisa menggantikan perjalanan pulang yang harus ditempuh manusia itu sendiri.