
“Di Pondok Al-Amien ini kalian diajarkan dengan kurikulum hidup dan kehidupan”. Cuplikan pidato KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd., yang selalu saya ingat di sanubari hati ini yang paling dalam.
Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk menggodok pembentukan karakter menjadi manusia yang utuh. Di sanalah ribuan santri ditempa, bukan hanya untuk menguasai ilmu, tetapi juga untuk memahami makna kehidupan yang sesungguhnya. Kenangan di TMI bukan sekadar nostalgia, melainkan jejak perjalanan yang menjadi kurikulum kehidupan yang terus relevan sepanjang masa.
Jejak Kenangan yang Membentuk Jati Diri
Bagi para alumni, TMI Al-Amien Prenduan menyimpan kenangan yang tidak lekang oleh waktu. Mulai dari bangun sebelum fajar Ketika Tayaqqodu berkumandang, bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah, hingga rutinitas belajar yang padat, dari pagi hingga malam hari, namun penuh makna. Semua itu membentuk disiplin yang tidak dipaksakan, melainkan tumbuh menjadi sebuah kesadaran dan kebutuhan.
Suasana kebersamaan di asrama, antrian makan, hingga kegiatan organisasi santri adalah potret sederhana yang sarat nilai dalam mencerminkan kehidupan pasca mondok. Di situlah santri belajar tentang mengelola emosional, spiritual, melatih kepemimpinan, dan arti kebersamaan. Kenangan tersebut seringkali baru terasa nilainya ketika seseorang telah berada di tengah masyarakat.
TMI Al-Amien Prenduan dan Kurikulum Kehidupan
Yang membedakan TMI Al-Amien Prenduan dari banyak lembaga pendidikan lainnya adalah kurikulumnya yang tidak hanya tertulis, tetapi juga hidup dalam keseharian. Kurikulum kehidupan itu mencakup beberapa aspek penting:
- Disiplin sebagai pondasi
Di TMI, waktu adalah bagian dari pendidikan. Selalu terpampang dijadwal ujian mahfudzot yang berbunyi, “Al-Waqtu kasshoyfi, in lam taqto’hu yaqtho’uka” (Waktu bagaikan pedang, kalau kau tidak memenggalnya, maka kau yang akan dipengggalnya). Jadwal yang teratur mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari sebuah konsistensi yang sudah mandarah daging. - Kemandirian sebagai karakter
Santri dilatih untuk mandiri sejak dini. Mulai dari mengurus kebutuhan pribadi hingga mengelola kegiatan organisasi, semua menjadi latihan nyata menghadapi kenyataan hidup. - Kepemimpinan melalui pengalaman
Organisasi santri ISMI menjadi laboratorium kepemimpinan. Di sinilah santri belajar mengambil keputusan, menghadapi konflik, dan bertanggung jawab atas keputusan dan kebijakannya sebagai pimpinan. - Spiritualitas sebagai landasan
Kehidupan di TMI tidak lepas dari nilai-nilai keislaman. Ibadah bukan hanya rutinitas, tetapi menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan. Dari yang wajib hingga yang sunnah, menjadi landasan agar para santrinya yang kelak akan disadari bahwa kita adalah manusia yang tidak berdaya, dan Allah SWT-lah yang memberikan kekuatan dan upaya dalam menjalankan segala aktivitas dan penggembangan karier hidupnya di masyarakat. - Kebersamaan dalam perbedaan
Santri datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda tanpa pandang ras, etnis, maupun budaya. TMI mengajarkan bagaimana hidup dalam harmoni, saling menghargai, dan saling memperkuat ukhuwah islamiyyah, wathoniyah dan basyariyah. Al-Amien berdiri diatas dan untuk semua golongan.
Implementasi dalam Kehidupan Nyata
Setelah keluar dari TMI, para alumni membawa kunci atau “bekal tak terlihat” yang justru membawanya ke pintu keberhasilan. Disiplin membuat mereka tangguh menghadapi tantangan. Kemandirian menjadikan mereka tidak mudah bergantung. Kepemimpinan membentuk mereka menjadi penggerak di tengah masyarakat sehingga mampu menjadi mundzirul qaum.
Nilai-nilai yang ditanamkan di TMI juga menjadikan alumni mampu beradaptasi di berbagai bidang, baik sebagai akademisi, pengusaha, aktivis, maupun tokoh masyarakat. Bahkan dalam situasi sulit, ekonomi terhimpit, mereka memiliki fondasi mental dan spiritual yang kokoh dan kuat untuk tegar dengan menghadapi kenyataan hidupnya.
Kenangan yang Terus Hidup
Kenangan di TMI bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dihidupkan kembali dalam setiap langkah kehidupan. Apa yang dulu terasa berat; bangun pagi, disiplin ketat, aturan yang tegas. Justru menjadi kekuatan yang membentuk kepribadian. TMI Al-Amien Prenduan telah membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang transfer ilmu (Ta’allum), tetapi transformasi diri (Tarbiyah). Di sanalah kenangan menjadi pelajaran, dan pelajaran menjadi pedoman hidup.
