
Sebagai praktisi pendidikan, saya meresapi suatu fenomena yang tidak lagi layak disebut semata-mata pengalaman personal. Sebab, setelah bergulat dalam pemikiran dengan kawan yang juga praktisi pendidikan, semakin jelas bahwa ini menjurus pada problem yang lebih luas, bahkan bisa disebut sebagai fenomena yang mulai mewabah di negri ini. Ya, hari ini, anak didik kita (murid) cenderung mudah melupakan materi pelajaran bahkan materi yang tergolong sederhana, tanpa rumus, tanpa simbol-simbol rumit dan kejadianya terjadi dalam waktu yang relatif singkat.
Dalam Psikologi pendidikan, fenomena di atas dikenal dengan istilah “Forgetting Curve” dicetuskan pada tahun 1885 oleh Hermann Ebbinghaus seorang psikolog asal Jerman. Teori di atas menjelaskan bahwa ingatan dapat memudar jika tidak diperkuat dengan pengulangan atau penguatan tertentu. Berbagai faktor pun telah diidentifikasi: mulai dari metode belajar, intensitas latihan, hingga kapasitas kognitif.
Namun jika kita tarik ke dalam tradisi pendidikan Islam, akar masalahnya tidak semata-mata terhenti pada aspek kognitif. Ada dimensi lain yang sering kali luput dari pandangan atau barangkali tanpa sadar disepelekan; hubungan antara murid dan guru.
Dalam tasawuf yang lazim menjadi kerangka berpikir pendidikan Islam, hubungan murid dan guru tidak sekedar dapat dibaca sebagai bentuk hubungan akademik atau kedekatan fisik. Tetapi lebih dari itu, hubungan keduanya kemudian menyublim menjadi aspek hakiki yang kemudian dalam khazanah tasawuf dikenal dengan “rabithah” sebuah koneksi batiniah antara murid dan guru yang didasari oleh kepercayaan, ketundukan, dan penerimaan utuh terhadap guru sebagai perantara ilmu.
Dalam banyak manuskrip klasik yang dinisbatkan kepada nama-nama seperti Imam Al-Ghazali, Imam Malik, Az-Zarnuji dan Sahl at-Tustari, yang menyatakan dengan tegas bahwa ilmu tidak akan benar-benar sampai kepada mereka yang batinnya masih terbelenggu oleh prasangka buruk terhadap gurunya. Bukan karena gurunya tidak layak, melainkan karena hati mereka yang menjadi hijab.
Dengan demikian, pemaknaan terhadap ilmu tidak semata-mata merupakan hasil proses berpikir, melainkan sebagai pancaran makna yang membutuhkan kesiapan batin. Jika prasangka buruk, keraguan, apalagi sikap merendahkan guru, senantiasa dipelihara. Maka selamat, ibarat ia sedang membangun “Tembok Dzulqarnain” tetapi dengan fungsi yang terbalik. Jika Tembok Dzulqarnain berfungsi untuk menghalangi kerusakan agar tidak pernah sampai ke dalam, maka dinding batin tersebut justru menjadi penghalang cahaya ilmu agar tidak sampai.
Jika kita tarik ke dalam fenomena “Forgetting Curve” di atas, maka perspektif dalam catatan ini jelas memberikan sudut pandang yang kontras. Lupa, tidak semata-mata dipengaruhi lemahnya memori atau minimnya pengulangan, bisa jadi karena ilmu itu sejak awal memang tidak benar-benar menetap. Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa menetapnya ilmu sangat berbanding lurus dengan adab, keikhlasan, dan kualitas hubungan antara murid dan guru.
Tidak berlebihan kiranya jika saya beranggapan bahwa ini merupakan suatu rahasia keberhasilan para ulama dan murid-murid terdahulu, dengan keterbatasan metode dan media pembelajaran kenyataannya mereka mampu berada di level kedalaman ilmu. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa nilai-nilai pendidikan Islam bukanlah romantisme masa lalu, melainkan prinsip yang terus menyala dalam ruang ruang kehidupan.
