Kilas Balik Kontinuitas Sejarah Palestina

“From the river to the sea, Palestine will be free!”

Konflik yang terjadi antara bangsa Palestina dengan Zionis adalah alasan utama saya untuk mengulik kembali sejarah wilayah Levant dan sekitarnya beberapa bulan ke belakang. Usaha kecil ini memberikan saya pemahaman yang utuh bahwa kemerdekaan Palestina adalah isu yang wajib untuk diperjuangkan. Bila di Threads saya mengatakan bahwa “Kacamata paling jernih untuk melihat Palestina ialah kemanusiaan”, maka di rubrik ini saya hendak memberitahu pembaca budiman di mana pun berada bahwa upaya paling sederhana untuk mendukung Palestina ialah dengan memahami sejarahnya. Saya sadar bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Hari ini kita melihat sendiri penjahat bernama Zionis di tanah suci sana menafsirkan ulang dan membungkam sejarah Palestina untuk kepentingan geopolitik mereka dalam mewujudkan ‘Greater Israel’.

Sebagai pendahuluan, saya hendak menjelaskan kepada pembaca dua konsep yang saling berkaitan sebagai pemahaman dasar memahami tulisan saya: Illusory Truth Effect dan Echo Chamber Effect. Saya sering menemukan narasi “Hamas adalah teroris dan Israel hanya sedang membela diri”. Narasi menyesatkan ini kerap digaungkan oleh pendukung Zionisme hingga akhirnya diyakini sebagai kebenaran oleh masyarakat awam. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai Illusory Truth Effect di mana pengulangan informasi secara terus-menerus menciptakan ilusi kebenaran, padahal realitas yang terjadi adalah rezim Zionis di Israel jelas-jelas melakukan genosida terhadap rakyat sipil Palestina.

Detik ini kita hidup di mana kebenaran ditentukan berdasarkan algoritma dan orang awam tanpa disadari terpapar informasi, ide maupun opini yang hanya menguatkan keyakinan pendapat mereka sendiri. Fenomena ini disebut Echo Chamber Effect dan rezim Zionis di Israel jelas tahu akan hal itu, maka mereka berupaya untuk mendistorsi perspektif. Kita lihat bagaimana ratusan jurnalis yang menampilkan dokumenter pembantaian rakyat sipil justru dibunuh, media massa yang menyuarakan keadilan kepada dunia justru dibungkam, orang awam diatur sedemikian rupa agar hanya terpapar narasi sesat yang mendukung rezim Zionis, bahkan seolah-olah Israel-lah korban dari isu ini. Banyak orang salah mengira sejarah Palestina dimulai dari tahun 1988 bukan karena mereka bodoh melainkan karena mereka terkurung dalam narasi sesat yang diulang-ulang sehingga sejarah ribuan tahun tertutup oleh berita dua tahun terakhir.

“Palestina baru ada tahun 1988! Israel sudah ada jauh sebelum itu!”

Saya awalnya menelan bulat narasi ini, karena memang Yasser Arafat mendeklarasikan Negara Palestina pada tanggal 15 November 1988, sedikit lambat ketimbang Negara Israel yang terlebih dahulu dideklarasikan oleh diaspora Yahudi asal Kekaisaran Rusia David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, terlebih lagi saya memiliki buku karya Max Issac Diamont berjudul “Yahudi, Tuhan dan Sejarah” setebal 600 halaman yang membahas bangsa Yahudi (dalam perspektif Yahudi) selama kurang lebih 4000 tahun.

Harus saya akui mulanya bahwa dalam literatur Islam, istilah Palestina secara eksplisit barangkali hampir tidak ada melainkan direpresentasikan dengan frasa Syam, sementara istilah Israel sering ditemui dan umum diketahui sebagai julukan bagi Ya’qub putra Ishak. Dalam hipotesa seperti ini, saya tetap bersikukuh untuk mencari referensi tentang sejarah Palestina hingga suatu momen saya menemukan data berbunyi “Sejarah penghunian Gaza dimulai dari 5000 tahun silam, membuatnya sebagai salah satu kota tertua di dunia”. Ini membuka mata saya, fakta sejarahnya adalah bahwa denyut kehidupan Gaza tertua dapat ditemui di tahun 3300 SM yang dibangun oleh koloni-koloni Mesir dan dilanjutkan oleh orang-orang Kanaan pada tahun 2600 SM.

Berangkat dari situ saya akhirnya tiba dan menemukan di dalam literatur biblikal bahwa frasa Palestina bermuara dari kata Philistim (dapat juga Peleset/ Pulasati) sebagai keturunan Nuh. Konklusi singkat ini memberi saya wawasan baru bahwa akar kata Palestina justru lebih dahulu ada sebelum akar kata Israel:

  • Palestina: Adam → Seth/Syits → Henosh → Kenan → Mehalalel → Yared → Henokh/Idris → Metusalah → Lamekh → Nuh → Ham → Mizraim → Kaftorim → Philistim (Philistim sebagai generasi ke-14).
  • Israel: Adam → Seth/Syits → Henosh → Kenan → Mehalalel → Yared → Henokh/Idris → Metusalah → Lamekh → Nuh → Sem → Arpakhsad → Sela → Heber → Peleg → Rehu → Serug → Nahor → Terah/Azar → Abraham/Abraham → Ishak/Ishaq → Yakub/Ya’qub (Yakub yang dijuluki Israel sebagai generasi ke-22).

“Bangsa Filistin itu adalah imigran! Datang dari perairan Aegea!”

Narasi ini sering digunakan oleh simpatisan Zionisme tanpa mendalami sejarah tanah Kanaan itu sendiri. Faktanya, jauh sebelum bangsa Israel ada, tanah Kanaan sudah dihuni oleh bangsa Kanaan (Kanaan cucu Nuh). Disini letak krusialnya yang banyak orang tidak tahu. Secara silsilah, Kanaan adalah paman dari Philistim. Jadi ketika bangsa Filistin bermigrasi ke wilayah Gaza dan pesisir Kanaan, mereka sebenarnya mendatangi wilayah yang sudah dihuni oleh kerabat mereka, yaitu keturunan paman mereka (Kanaan). Di pesisir selatan Levant, bangsa Filistin menjadi jauh lebih kuat secara militer dan akhirnya mendominasi wilayah pesisir tersebut. Filistin adalah bangsa kedua yang berdiam di Tanah Kanaan.

Ketika bangsa Mizraim mendiami Mesir, keturunannya yaitu bangsa Kaftorim kemudian bermigrasi ke pulau Pulau Kreta (Kaftor) yang berada di perairan Aegea, lalu kemudian keturunannya lagi yaitu bangsa Filistin menetap di pesisir selatan Levant dilanjutkan eksodus yang membawa kebudayaan dan peradaban khas Yunani/Aegea.

Sementara di waktu yang sama keturunan Sem masih berdiam di Mesopotamia, barulah Abraham atas perintah Tuhan bermigrasi ke tanah Kanaan. Narasi biblikal sendiri merekam bagaimana interaksi antara Abraham dengan Proto-Filistin (orang-orang Filistin yang sudah lebih dahulu ada sebelum migrasi besar-besaran). Bangsa Israel baru muncul sebagai penghuni ketiga setelah masa perbudakan di Mesir dan masa eksodus di zaman Musa maupun Yosua. Mereka masuk ke tanah Kanaan ketika bangsa Kanaan dan bangsa Filistin sudah lebih dahulu tinggal di sana.

Yang perlu diketahui bahwa di tahun 1175 SM telah berdiri Filistia sebuah pemerintahan berbentuk konfederasi pentapolis yang terdiri dari kota Gaza, Ashkelon, Ashdod, Ekron, dan Gat. Dengan demikian, fakta ini menegaskan eksistensi bangsa Filistin dengan Kerajaan/Negara Kota Filistia bahwa denyut peradaban sudah dimulai sejak ribuan tahun lamanya, bahkan sebelum Bangsa Israel ada maupun Kerajaan Israel Bersatu dibentuk pada tahun 1050 SM.

“Negara Israel berhak berdiri! Bangsa Yahudi sudah berumur 4000 tahun!”

Narasi semacam ini sering kali berseliweran di ruang publik. Untuk membedahnya, saya merujuk pada buku berjudul “Yahudi, Tuhan dan Sejarah” karya Max Isaac Dimont. Saya sangat mengapresiasi karya yang saya beli semasa nyantri di TMI ini; sebuah buku yang memberikan gambaran komprehensif mengenai sejarah Yahudi dari sudut pandang mereka sendiri. Namun, justru dari sana saya menemukan tiga bias yang perlu dikritisi.

Pertama, Dimont memulai sejarah Yahudi bukan dari masa Yakub, melainkan menariknya jauh ke belakang hingga masa Abraham (Ibrahim). Abraham dianggap sebagai alasan utama terbentuknya entitas Yahudi. Inilah mengapa saat berdebat, para pendukung Zionis selalu mengaitkan klaim negara Israel modern sebagai representasi Yahudi dengan sosok Abraham untuk menciptakan bias seolah-olah Israel sudah ada sejak awal mula peradaban. Ia menggunakan Abraham sebagai titik start sejarah Yahudi, padahal istilah Israil baru muncul pada masa cucunya (Yakub), dan istilah “Yahudi” baru muncul dari keturunan suku Yehuda. Ini adalah upaya memberikan legitimasi “senioritas” dengan mengeklaim sosok lintas zaman sebagai milik eksklusif satu kelompok.

Zionis sengaja melakukannya untuk mengaburkan fakta bahwa Palestina memiliki akar sejarah (bangsa Kanaan dan Filistin) yang secara kronologis justru lebih senior di tanah tersebut dibandingkan bangsa Israel. Maka, dengan logika yang sama, saya menegaskan bahwa sejarah Palestina tidak boleh hanya dimulai dari deklarasi 1988. Sejarah Palestina harus ditarik hingga pada Philistim, bahkan ditulis lebih jauh lagi hingga masa Nuh sebagai bapak bangsa Filistin sekaligus bapak manusia.

Kedua, dalam rubrik saya yang lain, “Agama Abrahamik: Telaah Perspektif Muslim”, saya telah menjelaskan bahwa Abraham adalah “bapak” bagi tiga agama besar, bukan milik eksklusif satu etnis. Dimont melakukan apropriasi sejarah; ia mengambil tokoh yang seharusnya menjadi milik bersama, lalu mengecilkan statusnya hanya sebagai bapak bangsa Israel. Sebagai bapak tiga agama besar, ini ada relevansinya dengan konsep “Tanah Israel” sebagai tanah suci/tanah yang dijanjikan kepada keturunan Abraham. Dengan demikian, tulisan Dimont secara tidak langsung melegitimasi gagasan Zionisme. Ia membangun ilusi bahwa Israel adalah pemilik sah dan satu-satunya atas tanah yang dijanjikan tersebut, sembari menghapus fakta bahwa saat Abraham pertama kali singgah di sana, kota-kota di tanah Kanaan sudah memiliki denyut kehidupan dan peradaban yang kelak menjadi rumah kontinu bagi nenek moyang bangsa Palestina. Di samping umat Yahudi, umat Kristen dan Islam juga memiliki hak yang sama di tanah suci sana.

Isu Palestina-Israel bukan sekadar konflik sejarah, melainkan persoalan geopolitik yang kompleks. Dalam lintasan zaman, wilayah Levant telah menjadi saksi bisu bagi kebudayaan-kebudayaan besar yang datang silih berganti. Kini, tembok Tepi Barat yang membentang menjadi bukti nyata bagaimana Zionisme secara sengaja membangun segregasi rasial di tanah suci tersebut. Untuk memahami perbedaannya, kita perlu menyoroti tiga fragmen sejarah: Pemberontakan Bar Kokhba, kehidupan non-Muslim di bawah pemerintahan Islam, dan Peristiwa Nakba. Ketiganya menggambarkan kontras yang tajam; sejarah Islam di Palestina menawarkan inklusivitas (rumah bagi tiga agama), sementara gerakan Zionisme menawarkan eksklusivitas (tanah hanya untuk satu kelompok).

Kilas balik sejenak ke tahun 132–135 M. Aelia Capitolina, koloni Romawi beraliran pagan yang dibangun di atas reruntuhan Bait Suci, memicu pemberontakan Yahudi yang dikenal sebagai perlawanan Bar Kokhba. Sebagai hukuman atas kekalahan mereka, Kaisar Hadrianus menghapus nama provinsi Ludaea dan menggantinya menjadi Palaestina Syria. Nama Provinsi Palaestina diambil dari nama Pemerintahan Filistia yang sudah ada sebelumnya. Pasca-kematian Kaisar Theodosius I pada 395 M, kekaisaran dibagi menjadi dua: Romawi Barat yang beribu kota di Milan (di bawah Honorius) dan Romawi Timur atau Bizantium yang beribu kota di Konstantinopel (di bawah Arcadius). Kristen Ortodoks kemudian menjadi agama resmi Bizantium, dan wilayah Palaestina Syria dikelola dari Yerusalem hingga masa kepemimpinan Kaisar Heraclius.

Fondasi Kedamaian Beralih ke tahun 636 M, kemenangan Muslim atas Bizantium mengubah peta kekuasaan. Kala itu, Yerusalem dipimpin oleh Patriark Sophronius. Ia dilingkupi ketakutan, membayangkan penakluk Muslim akan melakukan pembantaian sebagaimana lazimnya tentara Romawi atau Persia. Namun, yang datang justru Umar bin Khattab, sang khalifah yang berjalan kaki dengan pakaian sederhana bersahaja. Sophronius tidak menyerahkan kunci kota kepada seorang penjajah, melainkan kepada seorang pelindung. Di sinilah lahir Perjanjian Umar (The Umari Assurance) yang menjamin keamanan bagi penduduk Aelia (Yerusalem). Umat Kristiani diperkenankan tinggal di Palestina dan beribadah di gereja sebagaimana biasanya.

Di bawah Dinasti Umayyah, tokoh Kristen seperti Sarjun bin Mansur memegang jabatan vital sebagai bendahara Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan administrator fiskal Suriah sejak masa Mu’awiyah I hingga Abdul Malik bin Marwan. Tokoh Yahudi seperti Hasdai bin Shaprut menjadi Menteri luar negeri bagi Khalifah Abdurrahman III, Shamuel HaNagid menjadi wazir (perdana menteri) dan jenderal perang untuk Kesultanan Granada, di bawah Dinasti Abbasiyah ada tokoh Yahudi, Moshe ben Maimon[19] menjadi dokter pribadi Wazir Agung dan Shalahuddin Al-Ayyubi. Di bawah Dinasti Utsmaniyah ada tokoh Yahudi, Joseph Nasi yang menjadi diplomat dan Duke of Naxos di bawah Sultan Sulaiman I dan Selim II.

Kesetiaan terhadap prinsip toleransi ini yang bermula sejak Khalifah Umar ibn Khattab juga ditunjukkan oleh Shalahuddin Ayyubi pada 1200 M. Saat tentara salib dari Eropa (Kristen Katolik Latin) mengusir dan membantai umat Kristen Palestina (Ortodoks Timur) serta Yahudi karena dianggap sesat, Shalahuddin justru membebaskan Palestina dan memanggil mereka kembali untuk tinggal dengan damai. Tradisi ini berlanjut hingga era Dinasti Utsmaniyah melalui sistem millet, dimana komunitas Kristen memiliki otonomi sendiri. Kota-kota seperti Betlehem, Beit Sahour, dan Ramallah tumbuh menjadi pusat-pusat komunitas Kristen yang makmur di bawah bendera Bulan Sabit.

Dari era Khulafaur Rasyidin hingga runtuhnya Utsmaniyah pada 1917, selama lebih dari 1000 tahun atau  satu milenium, bangsa Palestina yang non-muslim tidak sekadar “diizinkan hidup”, tetapi menjadi bagian integral dari struktur sosial dan pemerintahan. Islam tidak memaksakan konversi, proses penduduk lokal memeluk Islam berlangsung secara sukarela selama berabad-abad. Mereka tidak perlu mendirikan negara sendiri dengan merampas tanah orang lain untuk menjadi mulia. Di bawah naungan pemerintahan Islam, mereka menjadi pejabat, dokter, dan filsuf yang dihormati. Zionisme modern melupakan memori indah ini dan menggantinya dengan tembok beton penuh kawat.

Bukti sejarah ini mencerminkan bahwa Islam hadir sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Palestina, selama berabad-abad, adalah sebuah mozaik indah dimana bunyi sinagoge, dentang lonceng gereja, dan kumandang adzan bersahut-sahutan tanpa pertumpahan darah. Kekerasan ekstrem dan pengusiran massal seperti peristiwa Nakba baru muncul ketika ideologi zionisme sebagai gerakan politik eksklusif merangsek masuk dan menghancurkan sistem koeksistensi tersebut. Dunia menjadi saksi bagaimana sekitar 750.000 penduduk/bangsa Palestina diusir dari tanah air mereka, sebuah tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut hingga hari ini.

Akibat dari Echo Chamber Effect di media sosial, kita sering kali digiring untuk percaya bahwa Israel adalah representasi tunggal dari seluruh umat Yahudi. Narasi ini menciptakan stigma bahwa setiap kritik terhadap negara Israel adalah serangan terhadap agama Yahudi atau Anti-Semitism. Namun, jika kita melihat lebih jeli, terdapat barisan orang-orang berjubah hitam dan berjanggut panjang yang memegang Taurat erat-erat sembari berdiri tegak di samping rakyat Palestina. Mereka adalah kelompok Neturei Karta. Bagi mereka, Zionisme bukanlah pelindung umat Yahudi, melainkan pembajak agama. Dengan suara lantang, mereka menyatakan bahwa mendirikan negara dengan menumpahkan darah penduduk asli adalah pelanggaran terberat terhadap satu dari Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments): Jangan membunuh dan jangan mencuri. Keberadaan mereka adalah bukti hidup bahwa konflik ini bukanlah perang agama antara Islam vs Yahudi, melainkan pertarungan antara kemanusiaan vs penjajahan politik.

Kini, mari kita kembali dari lorong-lorong waktu. Dari kisah Nuh dan Philistim, hingga sejarah panjang bangsa Filistin juga Kanaan yang menjadi akar Bangsa Palestina. Di balik layar ponsel yang kita genggam, di antara barisan kata yang kita baca, ada satu keyakinan kuat untuk terus memperjuangkan sejarah lima milenium ini: Kitalah sang pemenang Membaca sejarah hanyalah separuh upaya, kini saatnya menjelaskan kebenaran ini kepada dunia. Bagi saya, menyelami sejarah Palestina bukan sekadar bermula dari tahun 1988 saat Yasser Arafat memproklamasikan negara modern, melainkan sejak akar nama “Palestina” itu sendiri ada.

Tulisan yang saya sampaikan ini adalah usaha kecil untuk menolak amnesia. Saya berharap para sejarawan, cendekiawan, aktivis dan pembaca di manapun berada, bersedia hadir untuk meninjau kembali, menyempurnakan, dan menyebarkan suara ini ke seluruh penjuru dunia. Saya yakin, catatan ini akan menemukan waktu yang tepat untuk mengetuk relung hati nurani pembacanya, mengokohkan kembali ingatan akan sejarah, identitas, warisan, dan keteguhan bangsa Palestina.